Kategori Sastra

0

Lelaki Pemetik Anggur

Oleh: Daruz Armedian   Apa yang membuat lelaki itu selalu memetik anggur yang pohonnya menjalar hampir memenuhi beranda rumahnya? Pagi sekali, pagi ketika embun masih jatuh di daun-daun yang belum mengenal gaduh, lelaki itu...

0

Ular di Kepala Ibu

Oleh: Daruz Armedian   Ibu, ada ular di kepalamu dan aku melihat hewan menakutkan itu bersarang di situ. Ia sering menjulurkan lidah ketika kau marah. Ia sering memperlihatkan mata yang tajam ketika kau sedang...

0

“Apa Ibu jahat, Mak?”

Air meluap, Mak. Bengawan solo kembali memuntahkan isinya ke desa kita. Mula-mula memenuhi selokan-selokan, kemudian sawah-sawah dengan isi padi yang mulai menguning, jalan-jalan desa, dan akhirnya merendam rumah-rumah kita. “Aku harus bagaimana, Mak?” tanya...

3

Puisi-puisi Mbah Takrib

  Sisa hujan  La malam setelah kepulangan aku mengenangmu dalam sepi sisa resah yg jatuh di jantungku menyisakan dingin di badan La sebagaiman aku mengingatmu sebelum kepergian dan hujan di sebrang jalan di lesung...

0

Balada Guru Jaya

Oleh: Daruz Armedian   Guru Jaya duduk di kursi depan rumahnya. Menikmati kopi dan pemandangan pagi. Ada kendaraan lalu-lalang dan orang-orang berangkat kerja. Hari ini Kamis. Di mana kebetulan tak ada jadwal mengajar baginya...

0

Puisi-Puisi Daruz Armedian

Harapan Pohon-Pohon   pohon-pohon tak pernah bercita-cita menjadi kertas, kursi, meja dan sebagainya dan sebagainya   mereka tumbuh berharap jadi tempat berteduh dan sekadar ingin menyapa angin lalu kering atau tumbang pada musim kerontang...

0

Bendera di Beranda

Oleh: Daruz Armedian*            Di rumah tua itu, selalu saja ada seorang nenek yang mengeluarkan air mata. Merembes di pipi dan sesekali jatuh ke tanah hingga basah. Dari gurat-gurat wajahnya, sangat bisa dibaca, ia...

2

Narti, Camar, dan Kenangan-Kenangan tentang Kali yang Jernih

  Narti termenung di pinggir kali. Dadanya selalu sesak apabila memandang air yang mengalir pelan itu. Apalagi mengingat masalalu. Di bayangannya selalu muncul seorang lelaki pandai berpuisi. Ah, masalalu terkadang juga membawa seseorang terbelenggu...

3

Sebrang Gang Ndasen*

Oleh, Mbah Takrib** Ah Lin, aku lupa tepatnya, sudah berapa lama kita berpisah. Tapi rasanya, baru saja kita menghabiskan malam berdua, hanya berdua. Di malam berangin, di tepian laut ini, kau telah menghapus dingin...

1

Anak Orang Pinggir (Puisi-puisi Joko Dalem)

Pinggiran   Perut kosong kantong kosong Anak merengek minta jajan Isteri cemberut wajah berkabut Rentenir datang nagih hutang Uang beranak sebesar uang*   Pejabat datang beri penyuluhan “Kampung ini perlu pembangunan Agar capai kemajuan...