Surat Cinta untuk yang Telah Tiada (3)

Sebelumnya baca : Surat Cinta untuk yang Telah Tiada (1) dan Surat Cinta untuk yang Telah Tiada (2)

Oleh: Dea Diana Amanda

Namamu Riki. Tetapi aku sering memanggilmu Erika. Wkwk. Itu karena ingin sekali aku menggabungkan namaku dengan namamu. Erin dan Riki. Akan tetapi kalau Eriki, menurutku kurang bagus. Jadi aku terima perubahan huruf di akhir kata menjadi Erika.

Seperti nama cewek, katamu. Tidak apa-apa, kataku. Lagipula, sebelum Erika kuembel-embeli Kak. Dan lagipula aku sering mengabaikan huruf ‘a’-nya. Kak Erik. Dan lagipula aku tidak sering memanggil namamu. Aku lebih suka memanggilmu ‘sayang’. Ah, betapa aku sangat lebay. Atau sebenarnya, jatuh cinta itu meningkatkan beberpa persen kelebay-an seseorang?

Aku mengenalmu pertama kali di organisasi kampus. Organisasi pergerakan. Alasan kenapa bergabung dengan organisasi ini karena kamu benci sekali dengan kepemerintahan atau kebijakan-kebijakannya. Kamu ingin demo terus menerus. Kamu ingin menentang kebijakan-kebijakan pemerintah.

Cinta yang Telah Tiada

Ilutrasi gambar diambil dari 1.bp.blogspot.com

Aku akui, kamu memang lahir dari keluarga miskin (atau miskin terlalu kasar, orang yang tidak punya). Apa kemiskinan menjadikan orang sepertimu? Tidak, katamu. Banyak orang miskin yang menerima kemiskinannya tanpa mengetahui kalau mereka sedang ditindas. Lalu? Ya, lalu bukan kemiskinan yang membuatku seperti ini, katamu. Itu kesadaran dari diri sendiri.

Alasanku mengikuti organisasi itu karena ingin punya teman lebih banyak. Aku datang di Jogja sebagai perantau dan itu akan kesepian jika aku tak mengenal siapa-siapa. Teman kelas? Bagiku itu masih kurang. Betapa teman kelas kadang-kadang tidak bisa diajak berdiskusi. Mereka hanya mementingkan nilai (IP). Aku katakan, nilai di kampus didapat bukan karena kita pandai atau rajin. Tetapi, bagaimana kita bisa akrab dengan dosen dan terlihat pintar (sering bertanya atau mengeluarkan pendapat di kelas).

Ya, meskipun alasannya berbeda, tetapi kamu toh akhirnya bertemu aku. Kita saling bertemu. Kita berkenalan.

Dan aku baru menyadari bahwa kamu kini telah pergi. Aku merasa bahwa ini adalah waktu yang sangat singkat.

Kamu pergi dengan meninggalkan segenap kesedihan yang memenuhi kepalaku. Hingga kesedihan itu tumpah menjadi air mata. Air mata yang kalau kujelaskan dengan kata-kata sepanjang apa pun, tetap bernama air mata. Kamu pasti tahu, air mataku ini bukan terbuat dari rasa haru. Ini benar-benar kesedihan.

Aku pernah membaca sejarah Nabi Muhammad. Ia mengalami yang namanya Tahun Kesedihan. Yaitu di mana ia ditinggal wafat istri dan kakeknya. Hari ini aku mengalami hal yang sama. Barangkali ini berlebihan. Tetapi, bukankah kesedihan tetaplah kesedihan, yang kalau dibungkus dengan apa pun, namanya tetap kesedihan?

Ketika temanku datang (tidak tahu ada perlu apa) pada saat aku menuliskan surat ini sambil menangis, aku buru-buru menutup buku dan pamit ke kamar mandi.

“Mataku kelilipan. Aku perlu cuci muka.”

(Bersambung)

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.