Revolusi November yang Terlupakan

Revolusi November

Ketika orang bertanya, kapan Indonesia dilahirkan? Dengan tegas saya akan menjawab: November 1945. Bukan Agustus. Agustus adalah semacam pengumuman kelahiran, sementara November adalah pelaksanaannya. Bahwa pada November itu, gelora rakyat menunjukkan bahwa Republik Indonesia benar-benar terlahir sebagai suatu entitas yang nyata, bukan khayalan belaka.

Revolusi November Surabaya

Revolusi November

Disebut bukan khayalan sebab pada saat itulah rakyat benar-benar melaksanakan suatu pemutusan hubungan dengan penjajah, dan hanya dengan itu rakyat menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia merdeka. Sementara pemutusan hubungan tentu tak mudah. Ada pasukan Sekutu lengkap diturunkan ke Surabaya untuk mengambil-alih kembali tanah air Indonesia dari tangan Jepang yang kalah perang. Suatu pasukan yang sangat percaya diri (bahkan pongah) sebab usai memenangkan perang dunia. Berbeda dengan rakyat Indonesia yang baru sebatas diumumkan kemerdekaannya, yang tak punya tentara, apalagi tentara profesional sebagaimana mereka. Jadi bagi mereka, Republik Indonesia nampak hanya sebagai panggung ketoprak yang mudah dirobohkan hanya dengan sedikit operasi militer atau bahkan sekedar gertakan. Sehingga sebab itu pulalah, Sekutu menggertak dengan ultimatum, agar rakyat Indonesia segera menyerahkan diri bersama seluruh persenjataan yang berhasil mereka rampas dari Jepang. Namun sayang seribu sayang, gertakan mereka yang sangat menghina itu malah disambut arek-arek Suroboyo dengan bersumpah merdeka atau mati, dengan pelaksanaan penuh kekerasan, penuh desingan peluru dan dentuman granat. Sesuatu yang membuat Sekutu gelagapan sebab banyak pasukannya yang tewas, juga jenderal-jenderal besarnya.

Ya, pada November 1945, Indonesia sedang mengalami suatu revolusi. Bahwa bangsa yang terjajah sudah keluar dari belenggu keterjajahannya sejak dalam pikiran. Sesuatu yang tak terbayangkan sama sekali pada masa sebelum-sebelumnya, yang hanya dengan segelintir orang Belanda (atau Jepang) saja membuat gentar dan menciut nyalinya. Suatu nyali-ciut yang masih diwarisi oleh sebagian intelektual, pemimpin dan pasukan didikan penjajah, sehingga malah menghambat jalannya revolusi itu sendiri. Sebut saja orang-orang didikan KNIL (Belanda) dan PETA (Jepang) di ranah militer dan didikan Indolog di ranah sipil. Namun karena yang terakhir (orang-orang didikan penjajah) ini yang memimpin jalannya Republik, yang terjadi adalah revolusi yang gegap-gempita itu hanya sekedar dimaknai sebagai pertempuran belaka dari rakyat tak terdidik yang mengamuk. Suatu keadaan yang menunjukkan bahwa para pemimpin itu benar-benar terpisah dari kenyataan, terpisah dari “jiwa rakyat” yang menolak terus-menerus diinjak-injak. Buktinya ketika rakyat memilih berperang dengan tekad merdeka atau mati, para pemimpinnya malah sibuk rebutan posisi dalam struktur kekuasaan yang ada, sehingga terjadi ketidaknyambungan antara tekad rakyat yang “melahirkan” negara dengan kehendak pemimpin yang sibuk berpolitik sehingga ketika Sekutu terdesak, pemimpin dengan mudahnya diterjunkan untuk meredam perlawanan itu. Suatu ironi di awal kelahiran Republik, yang membuat revolusi yang dicanangkan itu sekedar memangsa anak-anaknya sendiri. Hal itulah yang kemudian terus-menerus menjadi petaka yang mengiringi jalannya republik Indonesia. Sebut saja pemberontakan Madiun, DI/TII, PRRI/Permesta, dan terakhir, G30S dan pembantaian setelahnya.

Mengingat November

Menghormati November 1945 sekedar dengan sebutan hari Pahlawan (tanggal 10), adalah mengerdilkan makna November itu sendiri. Apalagi jika di dalamnya kita munculkan segelintir tokoh yang kita anggap pahlawan padahal tidak ada hubungannya dengan Revolusi November. Lebih apalagi jika tokoh-tokoh itu pada November 1945 adalah penghambat belaka atas kehendak rakyat. Sesuatu yang sangat menghina. Sebab, kalaupun toh kita dipaksa mencari siapa yang paling pantas disemati gelar kepahlawanan, yang paling pantas tentu saja mereka yang nameless and faceless, rakyat jelata tak punya ijazah yang entah bergabung dalam berbagai lasykar atau tidak, tapi mewakafkan dirinya sepenuhkan demi kelahiran suatu bangsa merdeka bernama Indonesia, dengan negara Republik Indonesia. Mereka yang kemudian bersimbah darah dan mati di pangkuan ibu pertiwi. Mereka yang kemudian tersingkir karena kebijakan pemerintah yang memang harus menyingkirkan mereka, seperti kebijakan Restrukturisasi dan Rasionalisasi (RERA) demi kepentingan diplomasi, diplomasi dan diplomasi yang ujungnya penjajahan kembali terhadap Republik Indonesia. Di titik inilah kita benar-benar sadar, bahwa bangsa yang baru saja merdeka dengan melahirkan sesuatu yang disebut negara, kemudian mati oleh pikiran sesat para pemimpinnya sendiri yang tak segera menyadari bahwa pikiran-pikiran dan mentalnya masih sepenuhnya dikuasai kolonial.

Sekali lagi, Revolusi November adalah suatu penanda bahwa bayi Republik Indonesia telah lahir sebagai suatu entitas yang nyata, bukan suatu imajinasi belaka. Dan di November saat ini, sejarah yang ditulis oleh banyak sejarawan yang menempatkan November sekedar “suatu peristiwa heroik” belaka (dengan 10 November sebagai Hari Pahlawan), harus digugat. Dan gugatan itu harus lebih kencang ketika kita tahu bahwa sampai saat ini, yang terjadi di negara kita adalah nyata-nyata memunggungi revolusi itu sendiri.

 

Yogyakarta, 10 November 2017

Taufiq Ahmad

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Muzammil berkata:

    Mas, tak terbitkan ulang di buletin lpm ya.

  2. Muzammil berkata:

    Mas, tok terbitkan ulang di buletin lpm ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.