Kontradiksi Purba yang Senantiasa Direproduksi

Kontradiksi Purba – Kamu pernah tidak memiliki teman yang judes sekali saat kamu membutuhkannya, tapi sekonyong menjadi kurang ajar ramahnya ketika dia yang balik butuh? Pernah tidak punya rekan kerja yang memohon-mohon padamu untuk diizinkan saat dia lagi malas masuk, tapi di waktu yang sama ogah berbuat sebaliknya? Pernah ndak? Jika pernah, aku sarankan, mulailah menurunkan ekspektasimu sedari  Apa pasal? Sebab hanya itu yang bisa kamu lakukan. Kenapa tidak bilang secara jujur saja padanya? Sia-sia. Iya, menasehati mereka yang memiliki kebiasaan seperti itu ibarat memberi masukan pada orang yang lagi jatuh cinta. Yang ada hanya masuk dari telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Mengapa bisa demikian? Karena itu adalah persoalan laten kemanusiaa. Daya purba. Manusia sejak zaman dulu sudah biasa dengan pola tindak begitu. Pola yang tidak memikirkan apa pun kecuali dirinya sendiri. Kecuali apa yang berkaitan konkret dengan kenyamannya. Urusan kesenangan liyan, “Ah, apa itu!”

kontradiksi purba

Ilustrasi dicangkok dari kampoengilmu.com

Bukti mengenai ini bisa kita amati salah satunya dari betapa kebiasaan masyarakat Makkah pra-Islam yang suka sekali mempermainkan Allah. Saat sedang berada dalam cengkraman kematian, dengan tanpa sama sekali harapan akan ada yang menolongnya, terutama ketika di laut, mereka mesti langsung taat seutuhnya pada Allah, Tuhan yang Esa, Tuhan penurun hujan, dan sejenisnya. Namun, saat rupanya usai berhasil selamat, berada di pantai, spontan melupakan segala ketaatannya barusan. Langsung kembali ke wujud kepercayaan awalnya, yaitu politeisme. Menyekutukan Allah.

Siapa saja tentu bisa menilai, kenapa ketika dalam keadaan terancam mereka mendekat taat, tetapi ketika sudah aman sebaliknya. Iya, tepat sekali: sebab mereka tidak memikirkan apa pun kecuali keselamatan dirinya sendiri. Tidak bisa tidak, pola semacam ini usai ada pada masa pra-Islam. Hanya saja konteksnya lebih teologis. Bolehlah ini disebut sebagai kontradiksi purba.

Lebih jauh, gambaran di muka bisa kita buktikan melalui beberapa ayat al-Quran berkenaan dengan “konsep Allah” di benak masyarakat pra-Islam, terutama surah Lukman (31): 32 dan al-Ankabut (29): 65. Surah pertama menceritakan soal kemelasan mereka ketika dicengkram maut, sedangkan kedua soal kesongongan aslinya. Redaksi ayatnya sebagai berikut:

 

Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya … (31: 32)

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan. (29: 65)

 

Memahami begitu, bisa dimengerti kan mengapa aku tidak menyarankanmu untuk memberi nasehat. Iya itulah, apa yang teman-temanmu lakukan tidak lebihnya adalah mereproduksi kontradiksi purba yang ratusan tahun silam sudah dilakukan masyarakat Arab pra-Islam. Pun, diabadikan pula dalam al-Quran. Dan aku kira, jika dirunut ke belakang lagi, tentu masih akan ada banyak cerita serupa.

Al-Quran sebagai Produk Lingkungan

Membaca lebih serius dua ayat di atas, orang sepertinya bisa mengendus fakta lain yang mungkin tidak berkelindan. Yaitu bukti betapa “konsep Allah” usai akrab di benak masyarakat Arab pra-Islam. Atau pagan Arab, bahasanya Izutsu. Kata “Allah” pada masa ini dipahami bukan sebagai “Yang Esa” sebagaimana dalam Islam. Tapi sebatas “yang menciptakan dunia”, “yang menurunkan hujan”, “penjaga Ka’bah”, dan beberapa lainnya.

Secara bersamaan, saya kira, karena itu pulalah, mengapa al-Quran menggunakan istilah “Allah” untuk menyebut Tuhan. Penerima (audience) pertama al-Quran tengah familier dengan “Allah”, sehingga supaya pesan (al-Quran) bisa dipahami, maka tentu bahasa yang dipakai adalah Allah. Andai mereka tidak akrab, sangat mungkin redaksi yang dipakai bukan “Allah”. Ibaratnya adalah ketika kita kirim pesan ke teman kos kita, apakah kita akan berbicara dengannya melalui redaksi yang ia tidak mengerti? Tentu tidak.

Lalu, apakah “makna” yang terkandung sama? Jelas tidak. Pada pusaran ini, al-Quran berhasil menawarkan suatu makna atas konsep Allah yang bergeser dari makna sebelumnya. Nuansa Allah yang ditawarkan al-Quran mutlak berarti “monoteis” atau Esa. Pun, jika dikaitkan dengan tesis Abu Zaid, di situlah peran ganda al-Quran bersemayam. Satu sisi sebagai produk budaya, dan pada sisi lainnya sebagai produsen budaya.Sapari

 

Baca juga, Yakin, al-Quran itu Mushaf Suci?

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Hey! Do you know if they make any plugins to help with SEO?
    I’m trying to get my blog to rank for some targeted keywords but I’m not seeing very good success.

    If you know of any please share. Appreciate it!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.