Berfikir dengan Rasa; Dialektika antara “Benar dan Salah”

Sudahkah Anda mendengar kisah kecil ini? Dua orang sahabat berdebat. Masing-masing kukuh dengan pendapat dan kebenarannya sendiri. Gara-gara hal itu, mereka hampir baku pukul. Persahabatan mereka pun hampir retak. Tapi untunglah, persis sebelum pertengkaran otot dimulai, mereka memperoleh ide: sebaiknya perdebatan dibawa ke hadapan Seh Juha. Mereka berpikir, orang cerdas satu itu barangkali bisa menuntaskan perdebatan. Bagaimana Seh Juha menyelesaikan masalah mereka?

Ketika bertemu Seh Juha, bertuturlah mereka tentang pertengkaran mereka, dari pangkal hingga ujungnya. “Sayalah yang benar. Dia salah,” simpul orang pertama. Orang kedua tak mau kalah, dia membantah, “Bukan. Dia yang salah. Saya yang benar.” Seh Juha mendengarkan, seperti biasa sambil tersenyum cerdik dan nakal. “Oke,” kata Seh Juha “aku mengerti. Berikan aku waktu untuk berpikir. Nanti sore, datanglah lagi kalian ke rumahku secara bergiliran.”

Berfikir dengan Rasa Seh Juha

Ilustrasi gambar diambil dari danny-bee.blogspot.com

Siang berlalu, sore tiba. Orang pertama datang. Dia berharap, Seh Juha berpihak kepadanya. “Bagaimana Seh, siapa yang benar, saya atau dia?” Harapannya terkabul. “Setelah aku pikir-pikir, kamu benar,” jawab Seh Juha. Orang pertama pulang membawa kegembiraan dan kemenangan. Orang kedua pun datang, juga mengharapkan keberpihakan Seh Juha. “Saya kan yang benar, Seh?” “Masalahnya rumit,” terang Seh Juha. “Tapi memang kamu yang benar.” Orang kedua juga pulang dengan kegembiraan dan kemenangan.

Istri Seh Juha, Fatimah, yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, bingung. Dalam hati dia bertanya, “Kok dua-duanya benar? Ini tidak logis.” Fatimah protes kepada Seh Juha. Menurutnya, salah satu pihak niscaya benar, pihak lain tentu salah. Kebenaran itu tunggal dan tak terbagi. “Seh, sejujurnya siapa yang benar? Apa nJenengan tidak bisa berpikir?” Seh Juha rupanya memberikan jawaban kalem, yang bikin terkejut istrinya, “Sayangku, kamu juga benar.”

Semua benar. Tidak seorang pun salah. Orang pertama benar. Orang kedua benar. Istri Seh Juha juga benar. Memang pikiran seperti ini tidak logis. Buah pikiran yang tidak logis sendiri menandakan kebodohan pemikirnya. Tapi, apa itu artinya Seh Juha, yang cerdasnya kelewat-lewat itu, bodoh? Sama sekali tidak. Dia justru sangat pintar. Kehidupan bukan dunia matematis. Dalam matematika hanya berlaku satu rumus untuk menjawab semua soal, 1 ≠ 0. Kehidupan tidak kenal rumus matematis yang dapat diterapkan di segala tempat dan pada semua waktu. Pada konteks tertentu, 1 ≠ 0, tapi pada konteks lain 1 = 0, bahkan bisa saja 1 ≠/= 0.

Apa maknanya? Kehidupan adalah seni, bukan sains. Sains menginginkan presisi dan menjauhi kontradiksi, sedangkan seni justru bermain-main dengan kontras demi komposisi yang harmonis. Bener durung mesthi pener, kata orang Jawa. Kehidupan memang membutuhkan pikiran bener yang logis, tapi kehidupan lebih menghendaki tindakan pener yang selaras dengan konteks, empan papan, tindakan yang adil. Kebenaran individual harus mau mengalah demi maslahat sosial. Keris harus disarungkan, lalu diselipkan di belakang punggung, demi kedamaian bersama. Femonema mikro diletakkan dalam konteks makro. Manusia tidak hidup sendirian. Keberadaan orang lain di sekitarnya perlu dimasukkan dalam pertimbangan rasional untuk menentukan sebuah keputusan.

Pada level itulah Seh Juha berpikir. Dia tidak semata-mata berpikir dengan akal. Untuk mengatasi masalah kehidupan, dia tidak merasa cukup dengan logika identitas. Jika pertengkaran kedua sahabat tadi diselesaikan dengan logika identitas, pertengkaran itu bukan tuntas, melainkan berlanjut dengan ending yang sulit diprediksi. Barangkali salah seorang di antara mereka akan terluka, kalau tidak malah terbunuh. Barangkali skala pertengkaran akan membesar, berbiak menjadi konflik massa.

Seh Juha ingin menyudahi pertengkaran tersebut. Sebab, ada yang lebih penting dari kebenaran rasional, yaitu persahabatan, relasi sosial yang harmonis. Karena itulah, setelah berpikir dengan rasa, Seh Juha memberikan jawaban yang tidak logis. Semua pihak benar, termasuk istrinya Fatimah, yang sudah pasang kuda-kuda untuk bertengkar dengannya.

Berpikir dengan akal, dengan logika identitas, itu memang benar, tetapi hanya dalam konteks dan level tertentu. Demikian pula, berpikir dengan rasa juga benar, tetapi juga hanya dalam konteks dan level tertentu. Pada saat dan tempatnya sendiri yang tepat, kedua model berpikir itu diperlukan. Tidaklah mungkin belajar matematika dengan mengandalkan rasa semata. Juga tidaklah mungkin mencintai perempuan atau lelaki yang kau sayangi secara matematis. Program komputer harus dibangun dengan logika.

Ibadah jangan dikalkulasi karena agama adalah rasa. Sendi keadilan Ilahi adalah cinta, bukan akal kita yang terbatas. Maka jangan heran, kalau kelak, setelah kiamat, ada pelacur yang dinaikkan ke surga, dan ada ulama yang dibuang ke dalam jurang neraka. Tindakan Ilahi perlu dipahami dengan rasa. Untuk memaknai takdir, sebaiknya kita berpikir dengan rasa, bukan melulu dengan akal. Inilah salah satu rahasia hikmah yang terkandung dalam kisah tentang pembangkangan Iblis dan kejatuhan Adam. Biografi Iblis dan Adam mengajarkan kepada kita bahwa model berpikir tidak tunggal dan tidak ada model berpikir tunggal. Ada kalanya kita berpikir dengan logika. Ada kalanya pula kita berpikir dengan rasa.

Berpikir hanya dengan logika, termasuk rasionalitas egosentris. Proses penalaranan tidak mempertimbangkan kehadiran orang lain. Aku mendeklarasikan kebenaranku di hadapanmu. Kau pun begitu: mendeklarasikan kebenaranmu di hadapanku. Dari sudut pandangku, pokoknya akulah yang benar. Kau salah. Bagimu kaulah yang benar; aku selalu salah. Terjadilan benturan antar-kebenaran, benturan antar-nilai, benturan antar-peradaban. Sederhana saja, perang berpangkal dari sikap nggugu kersane priyangga, individualisme yang ekstrem dan belum matang, belum tersepuhkan.

Ketika dan setelah peperangan, barulah masing-masing pihak yang bertikai merasa butuh akan dialog. Landasan dialog tersebut adalah kebenaran, yang dimiliki, dikukuhi, dan diyakini setiap pihak. Dialog, yang diprologi oleh perang, menghasilkan lompatan kualitatif berupa sintesis, kebenaran baru yang lebih unggul dan lebih tinggi levelnya, yang merupakan persenyawaan dari dua kebenaran yang sebelumnya saling berbenturan.

Kita kemudian mengenal jalan berdarah menuju kebenaran ini sebagai dialektika. Bukannya mencegah, dialektika membuka peluang bagi pertumpahan darah, justru demi memperoleh terang cahaya pencerahan dan menyongsong fajar kedamaian. Bagi dialektika, biar kapok, anak-anak yang berkelahi jangan didamaikan. Biarlah mereka berkelahi sampai puas. Bila sudah merasakan sakit akibat perkelahian itu, mereka akan kapok, dan mulai menjajagi jalan perdamaian.

Berpikir dengan rasa berbeda dari dialektika. Berpikir dengan rasa, tergolong rasionalitas reflektif sekaligus rasionalitas akomodatif. Tipe rasionalitas ini mempertimbangkan kehadiran orang lain. Berpikir dengan rasa adalah jalan menuju kemanunggalan, baik manunggal secara horizontal dan sosial maupun manunggal secara vertikal dan spiritual. Prinsip sekaligus kesimpulan dari rasa adalah, aku adalah kau, kau adalah aku; semua adalah tunggal, tunggal adalah semua. Baginda Muhammad bersabda, seorang mukmin cermin bagi mukmin yang lain. Baginda Isa berkhutbah, kalau pipi kirimu ditampar, berikan pipi kananmu. Sokrates mengajarkan, gnoti’s afton, kenalilah dirimu. Dalam rasionalitas reflektif dan akomodatif, bersemayam mawas diri, cinta, dan keindahan, hal-hal yang tidak dijumpai jika kita hanya berpikir dengan akal. Rasa, yang disebut al-Quran sebagai al-fuad, yang kemudian dihayati kalangan tasawuf sebagai al-sirr, adalah alat untuk memperjuangkan kedamaian batin dan kedamaian sosial.

Karena itu, jangan heran jika Konfusius, yang berjihad membangun ketertataan negara itu, juga mengajari muridnya untuk berpikir dengan rasa. Seorang murid Konfisius pernah berdebat dengan seorang penduduk awam. Menurut orang awam tersebut, 7 x 3 = 27. Murid Konfusius ini, yang telah belajar matematika dari mahagurunya, membantah. Yang benar, 7 x 3 = 21, bukan 27. Terpiculah adu mulut berkepanjangan. Mereka akhirnya sepakat membawa masalah ini ke hadapan Konfusius, tapi dengan sebuah taruhan. Kalau murid Konfisius salah dan si awam benar, maka murid Konfusius dicambuk sepuluh kali. Tapi jika sebaliknya, leher si awam harus dipenggal.

“Guru, 7 x 3 = 21, kan?” tanya si murid kepada Konfusius setelah menjelaskan duduk perkara, termasuk menerangkan taruhan yang tidak seimbang tadi. Konfusius menjawab, “7 x 3 = 27. Dia benar. Kau belum pintar. Belum belajar.” Tentu saja jawaban yang tidak masuk akal ini menggelisahkan si murid. Dia protes kepada Konfusius. “Lebih baik kau dicambuk sepuluh kali,” ujar sang guru “daripada satu nyawa melayang hanya karena perdebatan yang sia-sia dan taruhan yang tolol.”

Demikianlah buah manis dari berpikir dengan rasa. Cerita berakhir dengan happy ending. Pertanyaannya, apakah kita sudah berpikir dengan rasa, atau hanya melulu berpikir dengan akal? Apakah kita sudah beragama dengan rasa, atau selalu mengatur Tuhan berdasarkan akal dan masih menyalahkan orang lain yang tidak semazhab dan seagama dengan kita? Ini bukan semata-mata soal bener dan ora bener, tetapi juga soal pener dan ora pener. Di samping timbangan benar-salah, ada timbangan lain, yaitu baik-buruk dan indah-jelek. Marilah berpikir dengan rasa. Marilah berlaku adil sejak dari berpikir.

Bumi Mataram, Dulkangidah 1437 H

Oleh Lev Widodo

Baca juga : Cinta, Erick Fromm dan Sosrokartono

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Tuban Jogja berkata:

    Terimakasih atas kunjungannya kak

  2. Mas ali berkata:

    Keren gan dan penuh makna, namun kisah seorang sahabat tadi tidak lengkap gan di ujung ceritanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.