Kenapa Harus Mengkritik Kewahyuan al-Quran?

Kalam Tuhan – Setidaknya ada dua hal yang ingin saya sampaikan di sini berkenaan dengan kritik kewahyuan al-Quran, Quranic divine disclosure criticisme, serta tulisan Idayu yang berjudul “Muhammad, Bukan Nabi Muhammad”. Pertama, adalah tidak efektif untuk mendekati al-Quran dengan gaya pendekatan terhadap bibel. Kenapa demikian? Sebab baik dari segi struktur dan kepengarangan (authorship) keduanya berbeda. Sama sekali malahan. Bibel memiliki struktur yang kronologis. Penjelasan di dalamnya urut, sedangkan al-Quran boleh dibilang membingungkan. Antara mana yang muncul di awal dan mana belakang tercampur begitu saja.

Ada yang menyebut bahwa yang paling bertanggungjawab soal itu adalah ketidaktahuan para penyusun awal. Ada yang bilang jika itu udah dari sananya atau tauqifi. Selain kedua pandangan di muka, ada juga yang menyebut jika penyusunan kala itu dilakukan secara terburu-buru, dikejar deadline, sehingga tidak sempat untuk menyusunnya. Dari ketiga teori, mana yang paling bisa dipercaya? Entah.

Kalam Tuhan

Ilustrasi dicangkok dari nu.or.id

Begitu pun dengan problem kepengaran. Sampai hari ini, urusan siapa pengarang bibel masih menjadi perdebatan. Ada yang bilang ia merupakan kalam Tuhan atau God’s words. Ada juga yang menyebutnya karangan manusia, human documents. Yang pasti, ada polemik yang tidak sederhana pada ruang ini antara para sarjana bibel.

Bagaimana dengan al-Quran? Jelas berbeda. Sejak digemakannya apa itu yang disebut sebagai “Komisi Zaid” atau Zaids Comission yang menelurkan satu teks al-Quran yang sudah berstandar, semua masyarakat Muslim memercayainya sebagai Gods own Words, kalam Tuhan. Buktinya apa? Penafsiran yang terjadi secara terus-menerus dari dulu—sebut saja sejak masa Imam Tabari—sampai sekarang. Suatu kesejarahan tafsir (historical commentaries) yang usai melahirkan banyak metodologi penafsiran.

Untuk yang terakhir, mari kita bandingkan dengan tradisi penafsiran pada bibel. Apakah konfigurasinya seramai dalam Islam? Jane Dammen McAuliffe, seorang sarjana studi agama-agama yang pernah juga bekerja di Vatikan, meragukan hal itu. Ia hanya menyebut beberapa nama yang pernah bergelut di bidang interpretasi bibel, yaitu Rabanus Mautus (d. 856), Huge of St. Victor (d. 923), dan Nicholas of Lyra (d. 1349).

Jadi, sampai di sini, mari kita bayangkan, apa hasilnya jika kita memaksakan metode bibel untuk al-Quran? Reduksi. Iya tepat sekali. Reduksi paling nyata adalah betapa kita tidak menghargai segala bentuk penghargaan nenek moyang Muslim kita atas al-Quran yang posisinya sebagai the divine text, kalam Tuhan. Selainnya, itu ibarat kita memaksakan melewati laut telanjang menggunakan mobil dan sebaliknya. Bisa tidak? Bisa, tapi hasilnya ya lucu sekali. Bayangkan aja sendiri.

Kedua menyangkut al-Quran sebagai scripture atau teks suci. Tidak bisa tidak, dianggapnya al-Quran oleh masyarakat Muslim sebagai teks suci bukan hadir tanpa dampak atau implikasi. Dampak apa? Kewahyuannya! Dengan ungkapan lain—dipandang dari teori ini—kewahyuan al-Quran tidak semata-mata terletak pada betapa ia merupakan kalam Tuhan, tapi juga bersemayam pada fakta bahwa ada sekelompok manusia tertentu yang mengultuskannya. Ia suci tidak dengan sendirinya, tapi karena ada yang mensucikannya. Meski al-Quran misalnya, benar muncul dari Tuhan, tapi secara bersamaan tiada yang mengsucikannya, apakah ia akan disebut sebagai teks suci atau scripture? Saya ragu.

 Sebagai implikasi lebih jauh, ketika kita sepakat bahwa kewahyuan al-Quran terletak pada kelompok yang mengultuskan, maka antara al-Quran dengan teks suci lainnya adalah sejajar. Tidak ada apa itu yang disebut sebagai kitab suci yang lebih unggul. Antara bibel, gospel, dan al-Quran itu sama. Tidak ada pula apa itu yang disimpulkan bahwa al-Quran merupakan bentuk lain dari bibel, dan sebagainya. Dan satu lagi. Berbicara al-Quran, berarti berbincang pula soal komunitas Muslim. Kelompok yang dengannya perilaku kesehariannya serta pola pikirnya terbentuk.

Jadi, sampai di sini, haruskan kita masih merasa nyaman dengan teori jika al-Quran tak lebihnya adalah jiplakan dari bibel sebagaimana didendangkan Horovitz? Atau al-Quran sekadar karangan manusia sebagaimana Wansbrough? Atau al-Quran sebatas kitab yang meminjam bahasa-bahasa Bibel sebagaimana Abraham Geiger? Yuk kak Idayu, kita ke Blandongan. Pesanlah secangkir kopi agak manis, dan lantas mulailah menziarahi kembali apa yang sudah ada dalam pikiranmu mengenai ini.zav

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.