“Seperti Itulah Mereka, Pak” Surat dari Seorang Bocah Kecil Penjual Koran yang Dipermainkan Rindu dan Lampu Merah

Kenapa aku harus malu. Bocah sepertiku tak boleh malu. Sebelum ada orang yang mendahului, sebaiknya segera aku ungkapkan walau sekedar tulisan. Mungkin, ini adalah hal terhebat yang pernah aku lakukan, mengungkapkan perasaan bangga, senang, kepada orang nomer satu di kotaku, kota kecil yang penuh cerita.

Apa lagi aku yang sekarang sedang di tanah rantau. Mudah-mudahan, rindu yang aku sangga ini bisa kusampaikan dengan segera. Semoga orang yang aku maksud, menerimanya dengan tidak berat hati. Kuharap bisa terhibur, lelah karena memikirkan umat bisa hilang, terobati dengan tulisan anak ingusan ini. Ah, aku semakin deg-degkan. Sebaiknya aku perlu tarik nafas panjang-panjang, biar gerogi yang berkecamuk ini bisa terkendali.

Seperti kebanyakan orang yang sedang dilanda rindu, ia akan mengalami kesulitan untuk mengungkapkannya. Tapi rinduku ini bukan main-main, aku harus mengungkapkan sekarang juga. Aku tak boleh memenjarakan rindu ini, menjadi tumpukan rindu yang taktersampaikan, dan akhirnya penyesalan yang datang tanpa permisi. Pasti semua paham akan hal itu, memenjarakan rindu sama saja memperlambat waktu.

Dulu, sewaktu aku masih di pesantren, aku selalu diajarkan untuk menyayangi orang yang berusaha mengayomi. Tidak boleh benci dengannya. Harus selalu hormat. Nurut sama aturan-aturan yang dibuat. Sekarang, aku mencoba memeraktekkannya, dan, aku merasa telah berhasil. Aku sangat bersyukur mempunyai guru seperti itu. Untung aku diajar beliau, jika saja tidak, mungkin apa yang aku rasakan sekarang beda. Tak bisa merasakan rindu seperti ini, rindu kepada sosok pemimpin yang luar biasa.

Sering aku dijatuhi pertanyaan mengenai beliau. Sebab apa kau membanggakan beliau? Aku selalu menjawab pertanyaan itu dengan tenang, pastinya dengan rasa bangga, (beliau selalu memberi contoh yang baik), itulah jawabanku. Lalu, ada pertanyaan lagi, apa aku sudah dibuat senang, dibuat makmur? Kurang lebih sepeti itu pertanyaannya. Aku tidak memikirkan berkali-kali untuk menjawab pertanyaan itu. seketika akan kujawab (Sudah).

Bocah penjual koran di perempatan lampu merah

Ilustrasi gambar diambil dari 4.bp.blogspot.com

Tapi ada pertanyaan yang membuatku harus berpikir berkali-kali, bahkan berhari-hari. Di kampus, di warung kopi, di tempat diskusi, aku selalu memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Pada intinya pertanyaannya seperti ini, apakah semua rakyatnya, selain kamu, bangga dengannya? Itu adalah pertanyaan yang harus dipikirkan secara exstra. Lebih parahnya, aku jarang makan. Aku anak rantau menengah kebawah yang tidak mendapatkan beasiswa, dan cara menghemat uang dari penjualan koran adalah mengurangi porsi makan.

Cukup sekali sehari saja, dan itu harus dilakukan di jam-jam tertentu, yaitu sekitar jam sepuluh sampai jam dua. Di jam-jam itulah aku harus mengisi perut, supaya bisa bertahan sampai malam. Setiap mau memikirkan jawaban itu, tenagaku banyak terkuras, seketika lapar melanda. Tapi aku tak pernah menyerah untuk memikirkan jawabanya. Hingga pada suatu ketika aku menemukan jawaban itu, (aku tidak peduli, yang penting aku bangga, bersyukur bisa memilikki pemimipin seperti beliau. Orang-orang berhati baik dan memiliki pemikiran segar akan menjawab seperti itu). Itulah jawabanku. Orang yang memberi pertanyaan itu sudah tak mau menangapi.

Oh, ya. Berkat beliau aku selalu mengingat nama-nama Tuhan. Pastinya bukan aku saja, aku yakin banyak orang yang bersyukur karena karya beliau yang bisa dinikmati setriap orang yang melintasi jalan veteran di kotaku. Begitu juga tempat olah raga yang semakin nyaman, bersih, dan enak dipandang. Setiap aku pulang, aku selalu menggunakan fasilitas itu sebaik mungkin. Aku juga senang, banyak oknum-oknum yang tak bertanggung jawab tertangkap. Jalanan menjadi tertip karena alur sudah dirubah begitu baik. Perubahan jalur membuat pengendara tak jenuh. Banyaknya polisi yang melakukan oprasi membuat warga sadar akan keselamatan.

Siapa lagi kalau bukan beliau. Ah, aku malah ingin pulang. Jika diperbolehkan, ingin sekali aku berkunjung, mencuri ilmu dari beliau. Mencari barokah seperti yang selalu diajarkan ketika aku masih di pesantren. Beliau juga mengerti akan SDM kita. Minimnya pendidikan, kurangnya piknik literasi. Belau mefasilitasi semua itu. Mendirikan sekolahan yang harapannya bisa mengurangi kebodohan. Tapi, ah aku jadi sedih kalau harus menceritakannya. Tak apalah, kalau pun sedih, tulisan ini sudah mengobatinya.

Di kolom komentar, aku sering membaca orang-orang yang meluapkan ketidaksukanya terhadap bangunan yang didirikan beliau dengan bahasanya masing-masing. Ada yang bilnag (itu bukan sekolahan, itu adalah gedung tempat perampok. Kami tidak perlu bangunan yang menakutkan itu, kami takut, di dalam gedung itu banyak yang melirik dompet kami, melupakan titipan kami.

Robohkan saja, itu hanya bisnis. Kalau memang niat memajukan pendidikan, harusnya mendirikan sekolahan rakyat, yang beayanya bisa dijangkau orang-orang menengah kebawah. Anak kami juga ingin menuntut ilmu di situ, tapi kenapa dompet kami kena tuntutan yang tak wajar). Ngeri sekali!

Seperti itulah mereka. Tapi aku yakin, niat beliau bukan seperti itu. niat beliau sangatlah mulya. Ingin mengurangi kebodohan. Banyaknya penduduk di kota itu, dengan jumplah lembaga pendidikan yang sekarang ada masih sangatlah kurang. Aku tak pernah membenci beliau. Jika saja itu terjadi, mungkin itu kekhilafanku yang paling khilaf.

Sesungguhnya, masih banyak gejolak-gejolak yang ingin kusampaikan. Rindu, bangga, senang, semua itu menari-nari, ingin sekali dirangkai sehingga menjadi sebuah kalimat yang indah.

Tapi sayang, perut ini sudah sangat lapar. Lebih memberontak ketika diajak untuk merangkai kalimat untuk beliau. Yang ada dipikiran hanyalah kantorku, perempatan lampu merah tempat aku menjual kalimat-kalimat yang dirangkai banyak orang, hingga bisa menghidupiku, membiayai kuliahku.

Baca juga : Bintang-bintang Putih di Atas Kepala

Oleh Joko Gembili

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Hi, after reading this awesome paragraph i am also cheerful
    to share my familiarity here with friends.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.