Surat Cinta untuk yang Telah Tiada (2)

Telah Tiada

Oleh: Dea Diana Amanda

 

 “Aku suka sama kamu, Rin.” Katamu sore itu di sebuah taman, di bawah pohon ketapang, di bangku tempat biasa orang-orang berpacaran.

Aku tidak menyangka bahwa lima kata yang kamu ucapkan itu mampu membuat hatiku seperti lautan penuh ombak. Berdebur. Aku terguncang. Aku menangis haru. Aku tidak pernah mendengar ucapan itu sebelumnya dari orang lain.

Aku tidak berani menatapmu saat itu. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapanmu meski hatiku sesungguhnya paham bahwa aku sebenarnya mempunyai perasaan yang sama. Akhirnya, yang aku lakukan hanya membenahi letak kerudung yang sebenarnya sudah rapi. Akhirnya, yang aku lakukan adalah memandangi bocah kecil yang kebetulan tertawa kecil melihat badut-badut yang menggodanya. Akhirnya, yang aku lakukan hanya menghela napas satu-satu.

“Erin, maukah kamu jadi pacarku?”

Itu kata-kata yang klise. Sungguh-sungguh klise. Sudah berapa ribu atau berapa juta atau bahkan berapa milyar manusia yang mengatakan hal itu kepada seseorang yang dicintainya? Tetapi, entah kenapa tetap saja aku menyukainya. Aku merasa kamu telah membangun taman di hatiku. Kamu menanaminya bunga-bunga yang indah.

Surat cinta untuk yang telah tiada

Ilustrasi gambar diambil dari lediana.wordpress.com

Aku menatapmu sejenak. Sejenak saja. Lalu, menunduk. Aku tidak bisa menatapmu lama-lama. Itu pertama kali ada orang yang mengajakku berpacaran. Aku grogi. Dan aku berharap grogiku tak terdeteksi.

Kamu mengulang perkataan itu dan aku tetap tidak bisa apa-apa. Akhirnya aku mengangguk saja dan kulihat sejenak kamu tersenyum. Kamu kelihatan bahagia. Aku pun begitu. Seandainya kamu tahu, bahwa bahagiaku ini tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Bahkan tak bisa dilukiskan dengan senyuman sekalipun. Kata-kata dan senyuman luluh lantak dilumat kemahabahagiaanku ini.

Lalu kamu mengajakku jalan. Kita memutari taman. Melihat lalu-lalang orang. Itu termasuk hari yang tak bisa kulupakan dalam kehidupanku.

Lima tahun berjalan, kita akhirnya pacaran. Menyenangkan sekali ternyata hidup bersamamu. Jika aku lelah, kusampaikan semuanya keluh kesahku kepadamu. Aku bisa bersandar di pundakmu yang kokoh itu.

Jika kamu pergi seperti ini, kepada siapa aku harus bersandar? Bersandar kepada Tuhan saja mungkin cukup, tetapi bagiku akan lebih sempurna bersandar kepadamu. Kamu memang bukan Tuhan, bukan penguasa jagad ini, tetapi sebagai orang yang yang selalu mendengarkan keluh kesahku dan menenangkan hatiku, kamu telah kujadikan seperti Dia. Selalu ada.

Jika kamu pergi seperti ini, separuh jiwaku ikut kamu bawa pergi. Aku menjadi perempuan paling lemah di dunia ini. Tidak ada aktivitas yang kujalani dengan semangat. Semuanya yang kulakukan adalah kesia-siaan.

Hari ini aku hanya tiduran di kos. Aku tidak minat berangkat ke kampus. Sebab, aku tahu, jika aku berangkat ke kampus, tak akan kulihat lagi kamu. Tidak seperti biasanya kamu yang menungguku di taman kampus. Menungguku keluar dari kelas untuk kemudian kita pulang bersama-sama. Kamu mengantarku sampai kos dan kemudian beranjak pergi lalu aku memandangi punggungmu dari pintu.

Ah, betapa hampanya dunia.

(Bersambung)

Baca cerita sebelumnya : Surat Cinta Untuk yang Telah Tiada

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Oktober 27, 2017

    […] Selanjutnya […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.