Deradikalisasi, Pentas Dagelan yang Menggelikan

Deradikalisasi – Dalam setiap rezim selalu lahir dagelannya sendiri. Kalau pada rezim Orde Baru dagelan itu berjudul antikomunisme, dagelan yang marak saat ini berjudul deradikalisasi. Kedua pentas dagelan itu kalau mau ditelusuri pusarannya masih sama: national interest Amerika Serikat.

Dalam sejarahnya, deradikalisasi bermula dari program “ruwatan masal” ala Amerika yang mendadak parno gara-gara peristiwa 9/11 (2001). Peristiwa itu menjadi besar—dan dibesar-besarkan—karena Amerika merasa pusat peradaban. Sementara sebaliknya, pelaku 9/11 malah menganggap Amerika sebagai pusat kemaksiatan sehingga pantas mereka bom. Karena pengeboman itulah, Amerika dengan segenap kejumawaan yang dimiliki, menyatakan perang terhadap terorisme global—yang sialnya adalah kelompok muslim. Bagi Amerika, perang melawan terorisme adalah perang sabil (eh, salib), sebab menegakkan misi pemberadaban (mission civiliatre) dunia.

Perang sabil yang dicanangkan oleh George W Bush itu, tentu mendapat restu dari kaum intelektual (doekoen) Amerika. Bahkan para dukun seperti Huntington dan Fukuyama menambahkan bahwa terorisme adalah kelanjutan belaka dari radikalisme. Adapun bagi mereka, yang dianggap radikal adalah yang bertentangan dengan kapitalisme dan demokrasi liberal (Fukuyama), atau yang bertentangan dengan peradaban Barat (Huntington).

Deradikalisasi agama

Ilustrasi gambar diambil dari dutadamai.id

Sesuai hasil penerawangan para dukun itulah, maka agar terorisme tak bisa tumbuh subur, radikalisme harus dibabat. Pembabatan itulah yang disebut program ruwatan masal bernama deradikalisasi. Sebab mereka yang radikal adalah yang tidak nurut sama Amerika (atau sebaliknya, siapa tidak nurut sama Amerika berarti radikal); dan siapa yang radikal atau tidak nurut, berarti anti terhadap misi suci pemberadaban dunia. Oleh Barat, dialah yang dalam rentang sejarah disebut teroris (Abad 21), kuminis (Abad 20), iblis (Abad Pertengahan), yang harus memang harus dienyahkan dari muka bumi.

Pribumi Indonesia, Santri Teladan Amerika

Sebab banyak sekali orang Indonesia yang nyantri pada para dukun Amerika, maka ketika sang guru (Amerika) berpolah-tingkah, sang murid akan mengikuti. Apalagi selain dengan memberi teladan, sang guru juga memberi kucuran dana. Maka, ungkapan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” benar-benar efektif. Pribumi Indonesia ramai-ramai kencing berlari sebab hendak menjadi murid teladan Amerika.

Dalam konteks radikalisme, banyak sekali para santri jebolan Amerika ini yang langsung merasa sebagai intelektual muslim yang tercerahkan. Selain itu mereka juga mendadak parno dengan sesuatu yang berbau kearab-araban, persis sebagaimana gurunya di Amerika. Tiap ada orang yang berjenggot lebat, bergamis, berjidat hitam dan bercelana cingkrang, atau yang berhijab di sekujur tubuh, langsung dicurigai sebagai suatu golongan yang selangkah lagi pasti jadi teroris. Orang-orang seperti inilah yang dalam keislaman sejauh ini merusak citra Islam, dan dalam konteks kebangsaan akan merusak negara republik Indonesia. Pendeknya, mereka harus dimusuhi sebab mereka adalah musuh yang anti demokrasi tapi sembunyi dibalik selimut demokrasi.

Adapun cara melawan musuh dalam selimut itu, maka tak lain tak bukan, adalah persis sebagaimana yang dijalankan Amerika. Secara positif, kampanye toleransi dan perdamaian antar pemeluk agama digalakkan. Adapun secara negatif, unsur-unsur yang berpotensi kuat menjadi radikal sedini mungkin harus disingkirkan.

Resep-resep yang ditawarkan dukun Amerika itu rupanya membuat para santrinya di Indonesia keranjingan untuk mengamalkannya dengan ikhlas. Dengan begitu maka santri pribumi Indonesia akan terangkat derajatnya menjadi satu level di bawah Amerika sang guru itu.

Deradikalisasi, Pentas Dagelan yang Salah Alamat

Sejauh ini, yang dianggap bagian dari Islam radikal adalah Islam ala PKS atau HTI, atau pokoknya yang secara simbolis selalu mengusung gagasan negara Islam atau khilafah islamiyah. Padahal, Islam ala PKS/HTI yang marak belakangan ini tidak radikal/fundamental sama sekali.

Radikal arti sesungguhnya adalah mengakar, sementara fundamental adalah mendasar. Dalam berislam, umat muslim memang harus mendasar dan mengakar. Tanpa pondasi rumah akan mudah goyang, sebagaimana tanpa akar pohon tak akan bisa hidup. Dan kedua hal itu yang sejauh ini tidak dipunyai PKS/HTI.

Dalam sejarahnya, PKS/HTI di Indonesia mulai semarak pasca reformasi, setelah Indonesia terseret arus demokrasi liberal dan rezim pasar bebas. Mereka inilah yang turut menyeret pikiran massa/umat pada persoalan yang tidak mendasar dalam hidupnya. Pertentangan kelas digeser menjadi identitas. Eksploitasi pemodal dan penghisapan kapitalis birokrat digeser menjadi isu Islam vs Kafir atau Pribumi vs Asing/Aseng, dan seterusnya, sehingga persoalan sesungguhnya terlewati begitu saja. Dan serta-merta dengan loncat slogan “Islam adalah solusi” dipopulerkan.

Islam model begitu sesungguhnya adalah semacam Islam sebagai lifestyle, bukan way of life. Sementara hidup-matinya lifestyle di zaman ini bergantung pada citra, pada brand. Kita tahu, dalam kajian marketing, citra itu penting. Agar pasar tak lesu, citra keislaman mereka memang harus diperbarui terus-menerus, dengan pelbagai isu termutakhir. Makanya akhir-akhir ini kita kenali istilah-istilah pasar yang mendadak sangat rapat dengan istilah Islam. Seperti wakaf/kapling, zakat/investasi akhirat, umroh/travel, ziarah/wisata reliji.

Amerika tentu saja akan jingkrak-jingkrak dengan adanya Islam begini, sebab secara mendasar sesuai belaka dengan kepentingannya. Kesesuaian itu tentu saja dalam hal tipisnya nasionalisme mereka. Ini berbeda dengan Islam-nasionalis yang selalu mendengungkan hubbul wathon minal iman. Suatu jenis Islam yang musti dicurigai. Namun, masalahnya lagi ternyata, Islam jenis hubbul wathon ini, saat ini terseret juga dalam perseteruan tanpa ujung dalam kesibukan melawan wacana Islam radikal, dengan referensi khas Amerika. Apalagi banyak lembaga-lembaga mereka juga dapat banyak kucuran dana dari Amerika. Ya sudah, klop jadinya. Maka jadilah kini kita di Indonesia selalu saja bertengkar sendiri, sehingga muncul dikotomi antara pro Bhinneka Tunggal Ika dengan pro NKRI Bersyariah. Sesuatu yang melelahkan dan tidak perlu. Tapi karena pentas dagelan itu sudah terlanjur digelar meski salah alamat, maka justru karena memang dagelan itulah, maka salah alamat pun tetap dilanjutkan agar menjadi semakin lucu untuk ditonton.

Terakhir, mumpung hari ini Muhammad Tito Karnavian (Kapolri) sedang dikukuhkan sebagai profesor bidang terorisme oleh PTIK, maka kami berharap agar Tito tidak sekedar menjadi penabuh gong belaka dalam semarak pentas dagelan yang salah alamat itu.

Blandongan, 26 Oktober 2017

Baca juga : Tiga Jimat Tangkal Terorisme

Taufiq Ahmad

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. November 10, 2017

    […] juga : Deradikalisasi, Pentas Dagelan yang Menggelikan  dan Vasinasi […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.