Penjahat Itu Bernama Penjaga Perpustakaan

Ternyata bukan hanya saya saja yang mengalami rasa sakit ini: dari hal yang paling remeh, datang ke perpustakaan dan mendapatkan wajah-wajah muram dan kata-kata kaku para penjaga perpustakaan hingga masalah paling rewel lainnya perihal meminjam buku. Ketika saya mengumpulkan banyak suara keluhan teman-teman yang mengalami hal serupa dan menarik garis, semua itu bermuara pada satu hal: petugas perpustakaan yang tidak suka membaca.

Oke, mungkin membaca memang bukan tugas mereka karena mereka bukan pembaca. Membaca adalah tugas pembaca. Sementara tugas petugas perpustakaan adalah menjaga dan merawat buku di perpustakaan. Tapi bagaimana dengan wajah-wajah muram dan kata-kata kaku para penjaga perpustakaan hingga masalah paling rewel lainnya perihal meminjam buku?

Penjahat itu bernama penjaga perpustakaan

Ilustrasi gambar diambil dari echo.ie

Tentang wajah-wajah muram itu, sebenarnya saya wegah sekali membicarakan yang satu ini. Namun, secara tiba-tiba saya teringat bahwa Rasulullah pernah mendapat teguran keras dari Allah karena pasang wajah muram ketika menerima tamu orang-orang papa. Ingat, itu Rasulullah dan yang menegurnya Gusti Allah langsung. Saya yakin temen-temen paham yang saya maksudkan, dan silakan teman-teman membandingkannya sendiri dalam masalah satu ini.

Kalau boleh memberi analogi, saya ingin membayangkan bahwa pengunjung perpustakaan adalah orang-orang miskin atau orang-orang kelaparan, orang-orang haus dalam pengembaraan panjangnya yang tiba-tiba melihat oase yang berdiri megah dengan tulisan kapital : PER-PUS-TA-KA-AN. Namun, apa yang terjadi ketika para pengembara agung itu memasuki daerah oase? Mereka tidak menyangka bahwa oase itu dijaga oleh anjing galak (seperti dalam Hari Anjing-Anjing Menghilang[1]), ular berbisa, kalajengking, atau bahkan buaya yang sedang berendam di tengah oase tersebut dan menunggu mangsa selama berminggu-minggu. Maka yang terjadi kemudian adalah sebuah dilema besar: antara menahan dahaga lebih lama asal selamat, atau terlepas dari serangan dahaga dan tersorok ke dalam serangan buaya dan kawan-kawannya tadi.

Apa yang terjadi di sini ternyata tak sebanding dengan apa yang di alami oleh tetangga saya, sebut saja namanya Inem Hidayati. Suatu sore Inem yang seorang pembaca tidak tulen, sedang hamil, dan jarang sekali mengunjungi perpustakaan kota—karena ndeso-nya yang gak ketulungan—tiba-tiba nyidam ingin ke perpustakaan. Ingat ya, Inem sedang hamil dan si jabang bayinya sedang sange minta diajak main ke perpustakaan. Ketika mendengar kabar ini, tentu saja suami Inem, Liman Sutarman, sangat bungah sekali. Liman yang khatam beberapa buku sejenis “Biografi Orang-Orang Kondang Sedunia” bahkan tidak pernah menemukan catatan bahwa ibu orang-orang kondang itu, pada saat mereka masih berupa janin dalam kandungan, mengalami nyidam main ke perpustakaan seperti yang dialami istrinya. Maka ketika mendengar Inem bilang, “Mas, aku nyidam berat pengen ke perpustakaan kota,” bukan kepalang bungahnya si Liman. Saking bungahnya, Liman bahkan rela meminjam motor saya, macak necis seperti hendak kondangan, dan menempuh jarak yang bisa dipakai untuk jamak dan qoshor salat demi satu niat baik: membahagiakan si jabang bayi yang nyidam ke perpustakaan. Saya bisa menebak-nebak pikiran Liman yang telah khatam buku sejenis “Biografi Orang-Orang Kondang Sedunia”, “…barangkali kelak anakku lebih kondang daripada orang-orang kondang itu,” dalam bayangan Liman.

Sepasang calon bapak-ibu itu akhirnya datang ke kota demi nyidam paling langka di dunia. Mereka memasuki perpustakaan yang biasanya dijaga oleh seorang polisi pamong praja yang sedang tak berjaga, mungkin sedang sembahyang atau yang lainnya. Setelah memarkir motor dan menaruh helm, Liman bertanya kepada istrinya, “Nanti mau baca apa, Dik?”

Inem geleng-geleng sambil mesam-mesem karena saking gumunnya melihat gedung perpustakaan yang magrong-magrong menjawab, “Belum tahu, Mas, biar nanti jabang bayi saja yang nduding buku mana yang mau dibaca.” Liman memberi pemakluman dan melengganglah mereka berdua memasuki gedung perpustakaan. Setelah mereka menitipkan tas ke ibu-ibu petugas, keduanya langsung berjalan hendak masuk ke ruang baca dan tiba-tiba terhenti sewaktu mendengar ibu-ibu tadi manggil:

“Eh, eh, Mbak, isi daftar hadir dulu.” Sambil nunjuk komputer.

Liman menahan malu saat mengisikan daftar hadir untuk dirinya dan istrinya di komputer depan dekat lobi. Tak apa, ini demi calon anak mereka, sekali lagi Liman menentramkan diri. Mereka kemudian masuk, melewati meja para petugas yang menatap tajam ke arah mereka,  lalu ke ruang baca yang menjadi satu dengan rak koleksi buku. Perpustakaan yang dibayangkan Inem seperti perpustakaan dalam film-film ternyata jauh sekali dengan perpustakaan yang saat itu ada di hadapannya. Perpustakaan di film-film itu, selain banyak sekali rak dan koleksi bukunya juga tak ada rak kaca yang berisi buku-buku baru yang dikunci rapat. Permasalahan terjadi ketika Inem tiba-tiba nduding ke lemari kaca yang terkunci rapat itu, “Mas, aku mau baca buku itu.”

Inem menduding buku “Pelisaurus” yang duduk sumpek bersama “Gentayangan” yang mungkin tak lagi gentayangan karena terkunci rapat dalam kaca. Liman yang, sekilas membaca judul buku itu tertawa cekikikan dan segera merapat ke meja petugas.

“Bu, saya mau pinjam buku di sana, boleh?” Tanya Liman dalam Bahasa Jawa krama dan kesantunan orang desa.

“Yang di lemari itu?”

“Nggeh, Bu.”

Ibu petugas perpustakaan men-dada-kan tangannya. “Buku-buku yang di sana tidak boleh dibaca mas. Itu cuman buat pajangan saja karena buku baru.”

Liman ber-oh, lalu kembali ke istrinya dan membisik. Maka Inem balik berbisik, “Mas, ini perpustakaan atau museum sih, kok bukunya dimasukkan lemari dan dikunci dan gak boleh dipinjam?”

“Hus!” Liman mengacungkan telunjuk di depan hidung. “Kita lihat buku lainnya saja di ruang atas, siapa tahu kamu tertarik.” Mereka akhirnya menaiki tangga menuju ke ruang atas yang lebih banyak koleksi bukunya dan ada beberapa unit komputer yang telah penuh dihadapi anak-anak kecil sedang bermain game, facebook dan youtube.

Singkat cerita, mereka turun dari ruang atas dan siap-siap menghadap ke petugas perpustakaan dengan membawa buku pilihan masing-masing: Inem dengan 33 Senja di Halmahera[2] dan Liman, sekali lagi buku biografi tokoh dunia, Biografi Lengkap Karl  Marx-Pemikiran dan Pengaruhnya. Mereka menghadap petugas perpustakaan sekarang. Setelah menyetorkan kartu perpustakaan ke ibu petugas, sambil menunggu buku itu siap dipinjam, Inem nyeletuk:

“Bu, tetangga saya ada juga yang menulis buku, tapi kok saya lihat tidak ada bukunya ya di rak baca.”

Petugas perpus hanya melirik. Inem melanjutkan,

“Padahal tetangga saya itu juara loh nulisnya. Buku Dari Batu Jatuh Sampai Pelabuhan Rubuh[3]—karya tetangga saya itu jadi juara lomba buku puisi se-Jawa Timur tahun ini.”

Petugas berhenti mengetik. “Wah… bagus tuh kalau sampean mau kasihkan satu bukunya buat ditaruh di sini.”

Inem dan Liman meringis. Petugas kembali menghadap komputer, dan tak lama kemudian bilang: “Ini bukunya sudah siap, Mbak. Masa peminjaman hanya dua minggu. Bila telat akan dikenakan denda per hari seribu. Dan bila hilang harus menggantinya dengan buku yang sama.”

“Apa tidak bisa sebulan Bu?”

“Tidak bisa, Mbak.”

“Masak tidak bisa, Bu, rumah saya jauh di pelosok Kecamatan X.”

“Owh… Dari Kecamatan X ya? Kalau begitu maaf kami tidak bisa meminjamkan buku ke anda.”

“Yah…” Inem menatap lesu ke Liman yang juga berwajah lesu.

Alkisah mereka keluar dari gedung magrong-magrong itu dengan iringan grimis. Di atas laju motor pinjaman, Liman coba meredam kekecewaan istrinya, “Dik, ayo tumbas bakso disik ya!” Liman tidak mengajak istrinya mampir ke toko buku, karena di kota itu toko buku memang tak buka di hari minggu.

“Ogah! Langsung muleh wae, Mas!” Inem benar-benar kesal sampai-sampai mencubit keras suaminya.

Mereka pulang. Benar-benar pulang. Tanpa bakso, apalagi buku pinjaman. Sementara itu gerimis semakin meriwis. Inem Hidayati dan Liman Sutarman ora iso lali udan grimis sing dadi saksi, mereka pulang tanpa buku pinjaman dari perpustakaan.

***

Temen-temen bisa membaca kisah muram Inem Hidayati dan Liman Sutarman sebagai sebuah cerita pendek atau sebatas ocehan, kenyataannya apa yang dialami dua sejoli itu disadap dari alam nyata. Dan masih banyak lagi kisah serupa, atau bahkan lebih kejam yang terjadi di perpustakaan yang kebanyakan memang tidak dijaga oleh orang-orang yang mencintai buku.

Salah satu yang ingin saya peruncing dalam tulisan ini adalah, hal yang sangat menyedihkan sekaligus persoalan lama: tidak adanya kesadaran untuk memiliki karya dengan cara terhormat sebagai salah satu apresiasi terbaik bagi penulis. Mirisnya, penyakit lama ini bahkan lahir dari balik tembok besar sebuah lembaga besar. Mereka lebih memilih jalan yang lain, meminta belas kasih penulis, yang dalam ungkapan sahabat saya, Ikal Hidayat Noor: meminta buku dari penulis miskin adalah sebuah kejahatan!

Ketika saya rampung menuliskan kisah mereka berdua, betapa sesaknya dada saya. Mungkin Inem hanya akan ngambek berhari-hari saja setelah hari itu, atau seorang pengembara agung yang dahaga akan mati di tengah sahara luas hidup ini, tapi bagaimana nasib si jabang bayi dalam perut Inem yang menyaksikan semua tragedi itu berlangsung? Bagaimana bila kelak bayi itu lahir dan membenci perpustakaan juga bacaan? Oke, mungkin itu hanya bayi Inem. Tapi bagaimana jika itu bukan hanya bayi Inem, dan ada ratusan bahkan ribuan?

Pada titik ini, saya mendadak meragukan apa yang sejauh ini saya genggam dari wasiat Paman Borges : “Saya selalu membayangkan surga itu sebagai semacam perpustakaan”[4]. Wasiat itu benar-benar runtuh, seperti pasir kering yang terlepas dari genggaman. [ ]

Tuban, 2017

*Artikel ini ditulis oleh Umar Affiq, seorang pegiat litersasi asal Rembang Jawa Tengah.

[1] Hari Anjing-Anjing Menghilang karya Umar Affiq, dkk. Sebuah kumpulan cerpen pemenang Kampus Fiksi Emas 2017.

[2] 33 Senja di Halmahera karya Intan Andaru. Salah satu buku pilihan versi Majalah Femina tahun 2017.

[3] Dari Batu Jatuh Sampai Pelabuhan Rubuh karya Daruz Armedian. Sebuah kumpulan puisi pemenang lomba manuskrip puisi Dewan Kesenian Jawa Timur 2017.

[4] Dikutip dari buku Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, Diva Press, 2015

Baca juga : Jogja dan Buku Bajakan

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. November 22, 2017

    […] baca juga tulisan selain ” Hidup di Tuban Sejahtera dan Bahagia, Sebagai Bagian dari Ilusi Industri Kotor ” tubanjogja.org: Penjahat Itu Bernama Penjaga Perpustakaan […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.