Anjing-anjing Penguasa

Anjing-anjing – Sederhana saja, tiap penguasa butuh anjing penjaga. Apakah anjing beneran atau jadi-jadian, tak jadi soal. Yang penting fungsinya jelas: menjaga penguasa dari rongrongan musuh-musuhnya. Maka untuk itu penguasa rela jor-joran dana untuk kesejahteraan para anjing-anjing itu meski anggaran itu harusnya untuk rakyat, bukan untuk anjing.

Anjing beneran tentu saja berjalan dengan kaki empat (mamalia tetrapedal). Ia mengandalkan indra penciuman untuk mendeteksi sedini mungkin terhadap datangnya suatu ancaman. Sekali ada ancaman, ia biasanya langsung bereaksi dengan menggonggong keras. Kalau ancaman sudah benar-benar melewati plang “awas anjing galak,” maka sang anjing tak segan-segan mengejar dan menggigit sebuas mungkin. Makin buas pada musuh tapi tetap nurut pada majikan, tentu majikan makin sayang. Bentuk sayangnya bisa dilempar daging segar tiap hari, minum minuman yang bergizi, kadang-kadang diajak tidur di ranjang laiknya suami/istri.

Anjing-anjing penguasa

Ilustrasi gambar diambil dari aliexpress.com

Tupoksi Anjing Jadi-jadian

Adapun anjing jadi-jadian mayoritas berjalan dengan dua kaki (mamalia bipedal). Tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) pada dasarnya sama dengan anjing beneran. Dan untuk itu, ia mengandalkan kejelian pengamatan dan penciumannya terhadap tiap ancaman yang bakal datang.

Ancaman-ancaman kekuasaan ada banyak sekali. Apalagi jika sang penguasa itu korup atau zalim. Hanya dengan tuntutan transparansi saja, akan langsung dianggap sebagai suatu ancaman serius. Adapun pemimpin yang tidak becus dalam menjalankan tanggungjawabnya, meski secara pribadi bisa dianggap orang baik atau saleh, ancaman-ancaman itu bisa berupa dengan suatu penerangan tentang ketidak-becusan penguasa itu dalam menjalankan tugasnya. Misalnya penerangan tentang kemelaratan yang merajalela di tengah melimpahnya SDA atau jurang kesenjangan yang begitu menganga dengan kesejahteraan hanya dinikmati segelintir elit belaka. Keterangan begitu adalah ancaman yang tak kalah seriusnya.

Oleh sebab itu, tupoksi yang seperti itulah yang mengharuskan anjing jadi-jadian lebih dari sekedar buas dan nurut, tapi kepintaran sangat dibutuhkan. Pintar membelokan atau peredaman isu yang berpotensi mengancam. Pintar melakukan pembodohan massal secara struktural sistematis dan massif lewat isu-isu murahan. Pintar mencitrakan majikan sebagai dewa penolong rakyat yang melarat. Pintar melakukan penyamaran secara canggih, yang biasanya bersembunyi di balik kedok moral keagamaan. Pendeknya, lebih dari sekedar buas dan taat, anjing jenis ini memang harus pintar. Makin banyak anjing pintar nan taat, tentu kekuasaan makin aman.

Anjing-anjing pintar tapi penurut memang idaman penguasa. Untuk itu, penguasa melakukan berbagai cara dalam rangka pengadaan atau pelatihan terhadap para calon anjingnya.

Tahap awal adalah penjaringan, yaitu dengan berbagai macam tes saat seleksi pemilihan anjing. Anjing yang terpilih biasanya terutama adalah anjing yang keturunan anjing. Sebab hanya keturunan anjinglah yang paling mudah menganjingkan dirinya. Disamping itu, anjing yang terpilih tentu saja adalah yang pintar berbagai macam keahlian, dari sekedar menggonggong, sampai menggarong.

Untuk memantabkan skill keanjingan, selanjutnya penguasa akan mengadakan berbagai macam pelatihan. Di zaman ini, ada dua hal serius yang harus dikuasai. Pertama, perkembangan IT mengharuskan sang anjing mengerti bagaimana meredam ancaman sekecil mungkin yang dengan sangat mudah tersebar lewat internet. Kedua, meski IT sudah canggih, taraf pendidikan atau kesadaran masyarakat kita masih di tahap magis atau naif, sehingga soal penampakan keagamaan menjadi sangat penting. Maka, sebagaimana kata Ibnu Rusyd bahwa untuk menguasai orang-orang bodoh segala sesuatu harus dibungkus dengan agama, hal itu akan persis dilakukan. Dimana-mana citra relijius sang penguasa harus ditebar, agar persoalan ketidakbecusan dalam memimpin atau laku korup penguasa, tetap tak terbongkar.

Jika kedua hal itu sudah dikuasai, maka sang anjing akan menjadi anjing idaman. Biasanya anjing begini akan dapat berjubel penghargaan.

Anjing Tetap Anjing

Bagaimana pun canggihnya, anjing tetap anjing. Ia akan bekerja keras untuk mengamankan majikannya, demi daging atau penghargaan.

Di titik ini, antara anjing beneran dan anjing jadi-jadian hampir tiada bedanya, selain cara menjulurkan lidah, mengibaskan ekor dan cara berjalan. Maka tak heran waktu kita masih kecil, Kiai kampung sering cerita bahwa nanti di alam mahsyar ketika kita bangkit dari kubur, akan banyak orang yang bangkit dengan tubuh manusia kepala anjing, atau tubuh anjing kepala manusia. Naudzubillah!

 

Baca Juga : Manifesto Berandal Lokajaya

Kaki Merapi, 25 Oktober 2017

Lembu Peteng

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.