Ngopi Santai, KPMRT Bahas Permainan Tradisional

 

Bantul, 23/10/2017. Majunya suatu zaman tidaklah selalu berdampak positif bagi semua aspek kehidupan yang ada. Hal tersebut, terbukti dengan berkurangnya media aktualisasi diri serta mulai terkikisnya permainan-permainan tradisional yang ada, terutama permainan yang melibatkan gerak tubuh bagi anak-anak.

Foto dokumentasi pribadi

Sebut saja permainan petak umpet yang jarang kita jumpai, loncat karet yang sudah mulai ditinggalkan, atau bahkan babak sodor yang bahkan namanya saja sudah asing di telinga anak-anak zaman milenial seperti saat ini.

Permasalah-permasalahan itulah yang coba ditelisik oleh teman-teman KPMRT dalam sesi diskusi santai malam kemarin.

Dalam agenda diskusi yang berlangsung di Blandongan Kopi tersebut, Abdul Adhim selaku Ketua KPMRT periode 2017-2018 berkomentar, bahwa cikal-bakal terkikisnya permainan-permainan tradisional tersebut adalah semata-mata karena perkembangan teknologi yang tak mampu untuk dibendung lagi.

” Tidak itu saja, faktor kurangnya media apresiasi juga harus diperhatikan lho. Coba kita lihat, contoh kecilnya saja adalah lapangan bermain yang hampir tidak tersedia lagi di setiap desa, apalagi kota!”, ujar Dimas salah satu anggota diskusi.

Alan salah satu anggota baru KPMRT yang sempat hadir dalam diskusi tersebut pun menambahkan, bahwa yang menjadi dasar hilangnya pola permainan edukasi tersebut, tidak terlepas dari peran media yang ada. Sebut saja tayangan-tayangan yang tidak mendidik, juga tentang mudahnya akses-akses media (Facebook, Instagram dll) yang mengarah pada hal negatif bagi anak-anak dibawah umur.

Permainan tradisional

Info grafis by Dimas Chill

Senada dengan Alan dan Adhim, Tilda Guo salah seorang duta wisata edukasi di Yogyakarta menegaskan, bahwa memang faktor media-lah yang paling bertanggung jawab atas hal tersebut. “Apalagi kalau dalam mengakses media-media tidak dibarengi dengan bimbingan dari orang tua”, tambah Mahasiswa jurusan Sosiologi Atma Jaya itu.

Namun, hal yang sedikit berbeda dilontarkan oleh Zubas salah satu guru yang sempat nimbrung dalam acara tersebut. “Menurut saya, yang menjadi suber dari segala sumber adalah faktor lingkungan. Kok bisa? Ya, karena lingkunganlah yang membentuk pribadi seorang anak, lingkunganlah yang berpengaruh besar dalam sikap, prilaku dan kebiasaan mereka. Lebih-lebih dalam lingkungan keluarga” ujar Zubas.

 

Joko Telo

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.