Agama, Pada Suatu Puisi

Seorang wisatawan Amerika melancong ke negeri tirai bambu. Dia menikmati kuliner Tionghoa di sebuah kedai makan. Dan di tempat itu, dia menemukan pemandangan yang baginya antik: di pojok kedai, seorang perempuan muda khusyuk berdoa kepada dewanya. Kian kuatlah rasa penasaran si bule terhadap cara beragama pribumi oriental. Karena itu, kepada pegawai kedai yang menghidangkan makanan pesanannya, dia sekonyong-konyong bertanya, “Mas, bagi kalian, agama itu apa sih?”

Agama, Pada Suatu Puisi

Ilustrasi gambar diambil dari pixabay.com

Yang ditanya kaget. Terdiam sejenak. Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, pegawai kedai itu malah mengajak si Amerika keluar kedai. Di tengah keramaian jalanan, dia merentangkan kedua tangannya, sambil berkata, “Tuan, bagi kami, inilah agama”.

Anekdot ini menghadirkan dua pandangan yang berbeda tentang hakikat agama, secara tersirat juga menggambarkan dua persepsi yang berlainan tentang hakikat ilahiah. Wisatawan Amerika mewakili pandangan modern tentang agama. Pegawai kedai merepresentasikan bagaimana masyarakat tradisional menghayati agama.

Bagaimana orang modern menyikapi agama? Sebelum pertanyaan ini dijawab, kita perlu terlebih dahulu membuka catatan sejarah tentang kelahiran dunia modern. Modernitas lahir antara lain sebagai kritik atas, juga jalan keluar dari, persekongkolan-korup agama dan negara. Bila masuk ke dalam kancah politik, agama memang berpotensi menjadi pelita yang menerangi kehidupan bernegara dan tongkat yang membimbing perjalanan politik pemimpin. Tapi, itu hanya terjadi manakala agamawan berhasil istikamah menjaga kewarasannya di tengah keedanan politik.

Bila agamawan hanyut dalam arus politik edan, bahkan menjadi lebih edan daripada para pejabat korup, agama dipastikan gagal mengemban amanah sucinya sebagai pelita pada malam gelap dan tongkat bagi pejalan buta. Agama jatuh dari martabat luhurnya. Dia menjelma sebagai sekadar kuda tunggangan bagi kepentingan politik yang diliputi kerakusan ekonomi. Inilah yang terjadi pada zaman kegelapan Eropa.

Gerakan renaissance, yang dibanggakan sebagai gerbang fajar modernitas, menawarkan solusi yang kelak dinamakan sebagai sekularisme. Menurut paham ini, agama harus dipisahkan dari negara, sejajar dengan pemisahan ruang privat dari ruang publik dan ruang sakral dari ruang profan. Dalam negara-bangsa modern, agar tidak disalah-manfaatkan sebagai instrumen politik, agama dibiarkan berada dalam kesunyian masing-masing warga. Orang tidak perlu pamer simbol agama di pasar, sekolah, kantor, pengadilan, rumah sakit, dan ruang-ruang publik lain yang seharusnya profan, tidak tercampuri oleh sakralitas kitab suci. Kerja adalah satu hal sedangkan doa adalah hal lain. Kehidupan publik ada di sana dan kehidupan agama ada di sini. Gereja bukan pasar. Juga sebaliknya: pasar bukan gereja.

Maka, oleh seorang modernis, Tuhan dikurung dalam gereja. Ibadah hanyalah kebaktian dalam gereja. Kerja di kantor, jual beli di pasar, persidangan di pengadilan, pelayanan kesehatan di rumah sakit, belajar dan mengajar di sekolah, pendeknya segala tindak-tanduk manusia yang dilakukan di luar gereja, secara teoretis tidak digolongkan sebagai ibadah dan bukan bagian dari aktivitas keagamaan.

Pandangan keagamaan seperti itu rupanya memenuhi benak wisatawan Amerika dalam anekdot di atas. Karena itu, dia terheran-heran ketika menyaksikan seorang perempuan berdoa di pojok kedai makan. Kedai makan adalah tempat kerja. Mengapa agama campur tangan dalam ruang publik? Kerja yang menyatu dengan doa, bagaimanakah fenomena itu dijelaskan?

Jawaban dari pegawai kedai barangkali lebih mengherankan dan mengejutkannya. Bagi orang Tionghoa, sebagaimana pemeluk agama apa pun yang tidak menganut paham sekuler, seluruh segi kehidupan ini, tanpa ada pengecualian satu pun, adalah agama. Dalam ruang publik yang paling ramai sekali pun, manusia religius merasakan getaran ilahiah.

Tidak ada pemisahan substantif—walaupun kadang-kadang ada pemisahan formal dan simbolis—antara rumah Tuhan dan pasar, ibadah dan kerja, ruang sakral dan ruang profan, ruang privat dan ruang publik, agama dan negara. Pada hakikatnya, dua kutub itu menyatu secara harmonis dan amat halus. Sebegitu halusnya penyatuan itu sampai-sampai kita sering tidak merasakan kehadiran agama di ruang publik.

“Tradisi” keagamaan mana pun pasti menyanggah pendapat yang menyatakan bahwa Tuhan hanya berdiam dalam rumah ibadah. Tidak, Tuhan, yang kehadirannya mengatasi ruang dan waktu, ada “di mana-mana”. Kapan pun dan di mana pun, Dia selalu bersama kita. Kemanusiaan dan ketuhanan, sukar membayangkan dua hal itu terpisah.

Tuhan tidak pernah berpisah dari manusia. Manusia saja yang seringkali merasa terpisah dan jauh dari-Nya. Manusialah, khususnya pemeluk agama munafik, yang kelewat sering melupakan kehadiran-Nya. Tuhan tidak meninggalkan manusia sendirian. Manusia saja yang tergesa-gesa menyimpulkan bahwa dirinya ditinggalkan dan dilupakan-Nya. Dalam terang “tradisi” keagamaan yang meyakini Tuhan sebagai sosok omnipresent (serba hadir) inilah Sapardi Djoko Damono menulis sajak Hanya.

Hanya

hanya suara burung yang kaudengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu ada di sekitarmu

hanya doaku yang bergetar malam ini

dan tak pernah kaulihat siapa aku

tapi yakin aku ada dalam dirimu

Selain secara lirih dan sembunyi-sembunyi menampilkan Tuhan sebagai wujud yang omnipresent, sajak tersebut juga berbisik-bisik kepada kita tentang Tuhan sebagai sosok yang omniscient (serba awas). Kehadiran-Nya memang identik dengan pengawasan-Nya. Dalam wacana tasawuf, pengawasan Ilahi yang sempurna dan tak dicacati kelalaian ini disebut sebagai muraqabah, separuh bagian dari dimensi batin keihsanan. Kesadaran muraqabah adalah tanda kematangan dalam beragama.

Tapi perlu digarisbawahi, Dia yang sepanjang waktu mengawasi kita itu bukan saja Dia yang semata-mata Mahaadil, melainkan juga Dia yang sesesungguhnya Mahacinta. Keadilan yang bukan pancaran cinta, sulit menghasilkan rasa jera, taubat, dan pencerahan pada pihak yang dihukum. Keadilan Ilahi adalah sungai yang airnya bersumber dari mata air cinta. Pengawasan Ilahi pun merupakan ungkapan cinta-Nya kepada manusia. Berpadunya cinta dan pengawasan Ilahi dalam hati, kiranya itulah senyawa kimiawi spiritual yang mematangkan perilaku beragama kita.

Sebuah cerita populer menegaskan bahwa pengawasan Sang Mahacinta mengindikasikan kematangan religius. Sesempit wawasan saya, cerita ini punya dua versi, yaitu versi Timur Tengah dan versi yang telah dimodifikasi ulama nusantara. Di sini, saya tuturkan versi kedua saja, yang terasa lebih dekat dengan kita.

Berkat ketajaman penglihatan spiritualnya, seorang kiai sudah merasakan tanda-tanda kematiannya. Tapi, sejauh ini dia belum menemukan santri yang akan melanjutkan tugasnya sebagai pengasuh pondok pesantren. Karena itu, pada sebuah pagi yang cerah, dia mengumpulkan seluruh santrinya di lapangan. Dan dia mengadakan sayembara.

Kepada setiap santri, dia memberikan sebuah pisau dan seekor ayam. “Anak-anakku,” begitu dia menjelaskan aturan main dalam sayembara itu, “sembelihlah ayam yang kalian pegang. Carilah tempat mana pun yang kalian sukai. Tapi ingat, ketika menyembelih, jangan sampai ada yang melihat kalian. Satu jam sebelum salat zuhur, kalian harus berkumpul lagi di lapangan ini.”

Setelah mendengar instruksi sang kiai, jamaah santri bubar. Beberapa santri berlarian ke belakang gedung pesantren. Ada yang menyelusup ke dalam semak-semak sekitar kompleks pesantren. Ada yang bersembunyi dalam kamar mandi. Sebagian besar berjalan menuju sudut-sudut kampung.

Tempo sayembara usai. Waktu berkumpul-kembali pun datang. Semua santri pulang ke lapangan dengan ayam yang sudah tidak bernyawa, kecuali seorang santri. Santri satu ini adalah santri pada umumnya. Dia berpenampilan ratra-rata santri. Selama nyantri, sekali pun dia tidak pernah mencatat rekam jejak yang nakal, unik, aneh, atau pun nyeleneh. Baru kali inilah dia berperilaku tidak jamak. Kali ini dia menjadi santri yang tidak umum, yang aneh, yang unik, yang luar biasa. Karena itu, teman-temannya sesama santri kaget. Bukan hanya kaget, bahkan mereka juga marah kepadanya. Berani-beraninya dia melanggar perintah kiai!

Tapi, sang kiai tidak merasa dilecehkan apalagi dibangkangi. Dia justru tersenyum, lalu bertanya, “Mengapa kau pulang dengan ayam yang masih bernapas?”

“Maaf, Kiai,” jawab santri yang gagal menyembelih ayamnya itu. “Tadi saya bingung. Saya sudah mencari tempat di mana saya dapat menyembelih ayam ini tanpa ada yang melihatnya. Tapi saya gagal. Saya merasa, ada yang selalu melihat saya, di tempat paling rahasia sekali pun. Saya merasa selau diawasi Tuhan.”

Mendengar jawaban itu, sang kiai kembali tersenyum. Puas dan lega. Dia sudah menemukan penerus. Saat itu juga dia mengumumkan bahwa santri tersebut akan menjadi pemimpin pesantren berikutnya.

Begitulah, keyakinan akan Tuhan sebagai sosok omniscient menandakan kematangan religius. Keyakinan ini melindungi pemiliknya dari kontaminasi paham sekuler. Meski demikian, orang yang menghayati kesarwahadiran Ilahi dan menyadari kesarwa-awasan-Nya tidaklah selalu orang yang menampilkan simbol dan identitas keagamaannya secara vulgar dan narsistis.

Individu yang matang secara religius justru menghindari belenggu simbolisme dan perangkap identitas. Alasannya sederhana: simbolisme yang hampa dan identitas yang kaku menghalangi realisasi tugas kemanusiaan yang merupakan pesan para nabi dan amanah kekhalifahan. Bahkan, boleh jadi individu tersebut tampil sebagai pembela gagasan negara- bangsa yang gigih.

Agama adalah ruh sebuah negara dan tidak harus menjadi jubahnya. Agama tidak harus diformalkan dan disimbolkan dalam ruang publik, apalagi bila formalisasi dan simbolisasi agama rentan menimbulkan diskriminasi terhadap minoritas (mustadh’afin) dan rawan memicu konflik antarwarga. Namun demikian, ruang profan tidaklah sama sekali terpisah dari ruang sakral. Pada hakikatnya, cahaya kesucian senantiasa menerangi ruang publik walaupun ruang publik itu tampak sedemikian gelap. Kerja, juga kerja kenegaraan, merupakan kesalehan sosial, ibadah yang tidak bersifat ritual, dan doa yang tidak verbal. Tuhan hadir baik di masjid maupun di pasar.

Dia omnipresent. Dia omniscient. Di mana pun dan kapan pun, Tuhan bersama kita. Selamanya Dia mengawasi hamba-Nya dengan mata cinta. Dengan mata cinta.

Baca Juga : Cerita Tua Tentang Tanda Ulama

 

Oleh Lev Widodo

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. November 15, 2017

    […] memahami keutamaan moral yang dijunjung tinggi dalam agama dan budaya apa pun ini, kita perlu membandingkannya dengan adil. Keadilan menetapkan bahwa mata […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.