Surat Cinta untuk yang Telah Tiada (1)

Surat Cinta

Oleh: Dea Diana Amanda

 

Bagaimana jika aku pergi dan tak akan mengingatmu lagi?

Sesungguhnya, aku menulis ini setelah hatiku benar-benar patah. Kamu yang mematahkannya. Kamu pergi dan tak memberiku kabar apa-apa. Kamu membuatku bertanya-tanya di mana sebenarnya kamu berada. Apakah kamu pergi karena merasa telah bosan denganku? Apakah kamu pergi karena ada yang lebih baik dariku? Apakah kamu pergi karena…

Aku duduk di beranda rumahku malam itu. Tidak ada apa-apa di meja. Tidak ada kopi ataupun teh. Yang ada hanyalah kepedihan hatiku. Dan, tentu saja, dengan malam yang terasa lebih gelap dari biasanya. Angin yang terasa lebih dingin dari biasanya.

Aku perempuan. Duduk di beranda rumah malam itu. Sendirian. Sedang membayangkan kamu tidak benar-benar pergi. Kamu duduk di sampingku sambil merebahkan kepala di pundakku. Bercerita tentang pedihnya hidup di dunia. Bercerita tentang masa lalumu yang tidak begitu bahagia.

Surat Cinta Untuk yang Telah Tiada

Ilustrasi dipinjam dari perempuanfajar.wordpress.com

Lalu aku menyentuh rambutmu. Menyadarkanmu kalau di dunia ini apa yang tidak tercipta dari kepedihan? Jika hidupmu, ah, jika masa lalumu tidak bahagia, itu wajar. Itu memang jalan cerita yang digariskan Tuhan. Tetapi, kamu telah menuntaskannya. Kamu telah membuat itu sebagai masa lalu yang tak akan kamu sentuh lagi.

Kamu bangunkan kepalamu. Matamu mengerling. Lalu tersenyum. Kamu membenarkan ucapanku. Akan tetapi, nyatanya, itu hanya bayangan konyolku. Itu hanya bayangan orang yang sedang patah hati. Sebab, kamu telah pergi.

Aku perempuan yang patah hati. Duduk di beranda rumah malam itu. Mengingat-ingat ketika kamu masih bersamaku. Ternyata, memang benar ucapanku. Di dunia ini apa yang tidak tercipta dari kepedihan?

Semuanya hanya kepedihan. Kepedihan demi kepedihan menjadi struktur bangunan yang aku diami. Jika seandainya kamu ada di sampingku malam itu, aku yang akan bersandar di pundakmu sambil bercerita mengenai kebahagiaan. Aku ingin tidak menyetujui pendapatku mengenai dunia yang dibangun dari kepedihan.

Ya, seharusnya begitu.

Aku menuliskan ini ketika patah hati yang berlarut-larut telah menghabiskan waktuku. Ia mengajakku bersedih setiap waktu. Ia membuatku lupa bahwa ada hal lain sebenarnya yang harus kukerjakan. Menggarap tugas kuliah, misalnya. Atau berlibur ke tempat yang ramai, agar lupa kalau aku sedang sendiri.

Bagaimana jika aku benar-benar pergi dan tidak akan mengingatmu lagi, sebagaimana kamu pergi dan tak mengingatku lagi? Tetapi, pergi dan melupakanmu begitu saja tidak mudah bagiku. Aku tidak bisa setega kamu. Aku tak bisa seperti itu.

Barangkali hanya aku yang mencintaimu dan kamu tidak. Barangkali hanya…

Selanjutnya

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Oktober 27, 2017

    […] Surat Cinta […]

  2. Oktober 27, 2017

    […] Baca cerita sebelumnya : Surat Cinta Untuk yang Telah Tiada […]

  3. November 13, 2017

    […] baca : Surat Cinta untuk yang Telah Tiada (1) dan Surat Cinta untuk yang Telah Tiada […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.