Pagi yang Menyebalkan di “Hari Santri”

Santri Zaman Now. Hari ini, pagiku terganggu sekali dengan gambar-gambar tamplate hari santri yang silih berganti bermunculan di pemberitahuan gawaiku. Okelah, satu sisi ini mungkin keteledoranku karena tidak dari kemarin mematikan pemberitahuan. Namun, pada sisi lain, itu tidak berarti bahwa mereka terbebas dari perilaku “tidak efektif”.

Ketidakefektifan seperti apa? Mengunggahnya di ruang maya publik (digital public sphere). Tidak semua yang berada di ruang tersebut memiliki pengalaman yang hangat dengan kata santri. Tidak semua pula nyaman dengan gaya berlebihan unggahan foto di situ. Mungkin, orang akan bisa nyeletuk begini, “Lha, ini kan hak saya sebagai penikmat gawai?” Tidak salah, kita semua memiliki hak, termasuk hak untuk mendapatkan informasi yang tidak sampah.

 

Santri Zaman Now

 

Belum lagi ketika kita tahu rupanya, salah satu alasan mengapa mereka begitu adalah ketidaktahuannya sendiri atas apa yang mereka lakukan. Dalam artian, soal alasan kenapa mereka mengunggah, mereka tidak tahu. Mengapa itu bisa terjadi? Nietzsche menyebut ini sebagai “pengetahuan yang tidak asyik”, lawan dari la gaya scienza, “pengetahuan yang mengasikkan”.

Istilah pesantrennya, mereka itu sebatas taklid. Karena teman-temannya mengunggah template berisi foto unyuk-nya berikut beberapa toping penyedap, maka berbondong-bondong pula mereka melakukan hal yang sama. Pada praktik semacam ini, ke-diri-an seseorang usai lenyap. Ia teralienasi dari fungsinya sendiri sebagaimana manusia yang harusnya bisa menentukan pilihannya sendiri untuk bergerak. Dan saya kira, untuk itulah Nietzsche mengistilahkannya dengan pengetahuan yang tidak asik. “Bagaimana mau asik, wong kehendak saja tidak punya!” Begitu teriaknya.

Pada wilayah lain, sangat mungkin, itu disebabkan oleh ditengarainya krisis identitas kelompok. Ada semacam narasi di benak mereka bahwa ideologi santri perlu dipermak lebih kekinian supaya tidak tertindih dengan ideologi lain yang mengancam. Ini terbukti dari kata-kata yang dijadikan toping dalam template mereka, seperti “Santri Zaman Now”. Tidak bisa tidak, kecenderungan semacam itu menyiratkan betapa mereka ingin berteriak bahwa santri tidak melulu jumud. Santri juga bisa beradaptasi, dan sebagainya—terlepas dari apakah upaya semacam itu masuk akal atau tidak.

Kembali pada ihwal ketidakefektifan, selain nuansa “taklid zaman now”, saya juga mengendus satu lagi faktor yang membelakanginya. Apa itu? Manusia satu dimensi, bahasanya Marcuse. Mereka benar-benar tengah berada di pusaran tempat media sosial menjadi wabah. Instagram sebagai vektor, dan narsis sebagai penyakitnya. Dalam kondisi semacam itu, sistem tidak lagi berfungsi sebagai sesuatu yang ditentukan oleh manusia. Tapi sebaliknya, manusia yang ditentukan, diarahkan, oleh sistem—aplikasi media sosial maksudku. Tersedianya banyak sekali wahana untuk menjual ke-aku-an, baik individu atau kelompok adalah bukti nyata atas ini.

Akibatnya, dimungkiri atau tidak, semisal ada “santri zaman now” (ehm) yang tidak melakukan hal senada (unggah template), maka perasaan berdosa akan segera memenuhi rongga dadanya. Jadi, sampai di sini, akhirnya saya bisa mengerti—meski bi sukht—mengapa pagi ini, di halaman media sosialku, menjamur template narsis hari santri dengan nama institusinya masing-masing.zav

 

Baca juga : Instagram dan Hantu Naif

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.