Mempertanyakan Keistimewaan Jogja

Keistimewaan Jogja – Apa yang istimewa dari Jogja (baca: DIY)? Bukankah hari ini Jogja juga termasuk kota yang semakin hari semakin sesak jalan rayanya karena bertambahnya jumlah pengendara baik mobil maupun motor? Bukankah hari ini Jogja termasuk kota yang berpolusi? Bukankah hari ini Jogja juga membiarkan pembangunan-pembangunan hotel merebak luas? Bukankah hari ini sawah-sawah di Jogja semakin sempit sebagaimana di tempat-tempat lain? Bukankah hari ini kualitas udara di Jogja turun?

Mempertanyakan Keistimewaan Jogja

Ilustrasi gambar diambila dari santapjogja.com

Dan entah butuh berapa tanda tanya lagi untuk mempertanyakan keistimewaan Jogja.

Jika sudah seperti ini, kita akan mengingat beberapa tahun yang lalu ketika orang-orang Jogja berbondong-bondong turun ke jalan memakai pakaian adat untuk mempertahankan keistimewaan daerah mereka. Ketika itu, Presiden (sekarang sudah jadi MANTAN) Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa Jogja menganut sistem monarki dan itu tidaklah sesuai dengan asas demokrasi Negara Indonesia (yang padahal, monarki di Jogja itu secara kultural, bukan secara politis). Rupanya, orang-orang Jogja tersinggung atas ungkapan Pak Presiden. Maka, terjadilah aksi damai di jalanan yang dilakukan oleh orang-orang Jogja untuk mempertahankan keistimewaan wilayah mereka. Lalu, keistimewaan macam apa yang dipertahankan?

Apa yang istimewa dari Jogja ini bukan semata-mata pertanyaan dari saya. Pada tanggal 19 Oktober 2017, di Balai Bahasa DIY, penyair Joko Pinurbo, ketika menjadi pemateri dalam bedah buku Kota, Ingatan, dan Jalan Pulang (kumpulan puisi pemenang lomba yang diadakan oleh BBY tahun 2017), menanyakan hal yang serupa. Apa yang istimewa dari Jogja?

Joko Pinurbo atau kerap dipanggil Jokpin menceritakan pengalamannya ketika keluar dari Jogja. Ia mengatakan selalu rindu Jogja ketika sudah sampai ke daerah lain. Bahkan, saya langsung rindu Jogja ketika baru turun dari kendaraan di daerah lain, tuturnya.

Jokpin sendiri tidak tahu apa yang istimewa dari Jogja, tetapi ia merasakan keistimewaan itu. Ia bergiat dalam dunia kepenyairan ketika berada di Jogja. Ia banyak menulis puisi ketika di Jogja. Ia hidup di Jogja dan menikmati keadaan Jogja. Dan, tentu saja, masih banyak yang lainnya.

Karena ada keresahan seserupalah, saya menuliskan ini. Sebagai perantau (dari Tuban, Jawa Timur) yang sampai hari ini terhitung tiga tahun bertempat tinggal di Jogja, saya betul-betul merasakan keistimewaannya. Tetapi, saya tidak tahu itu bagian mana.

Sebagai orang yang suka menulis, saya bisa menulis (baca: menulis secara lancar) ketika berada di Jogja. Saya mengenal buku-buku juga ketika berada di Jogja. Saya mengenal teman-teman yang bergelut dalam dunia literasi juga ketika berada di Jogja. Saya merasa nyaman ketika berada di Jogja. Baik ketika masih berjualan koran di sekitar lampu merah maupun tidak berjualan koran lagi. Baik sebelum kuliah maupun sudah berada di perkuliahan. Baik ketika masih jomblo dan tetap jomblo lagi. Apa sih?

Ya, saya benar-benar nyaman dengan Jogja. Bahkan, saya hampir menafikan kampung halaman saya. Rumah asal saya hanya seperti tempat singgah yang untuk kemudian saya tinggalkan lagi. Ketika berada di kampung halaman, seringnya pada hari raya Idul Fitri, saya selalu merindukan Jogja. Saya ingin cepat-cepat balik dan menikmati Jogja kembali.

Seolah-olah, setiap sudut Jogja menyimpan surga dan saya betul-betul menikmati surga itu. Sehingga, ketika keluar dari Jogja, saya akan merindukannya. Bahkan, saya pernah membayangkan, betapa pedihnya jika suatu hari nanti saya lulus kuliah (baca: kalau lulus) dan meninggalkan Jogja, saya tidak akan menemukan lagi orang-orang berdiskusi di warung kopi, orang-orang baca buku di tempat umum, mural-mural yang estetik di jalanan, dan lain-lain yang sederhana tapi terasa menyenangkan sekaligus menentramkan.

Bagaimana jika saya, pada suatu hari ketika pergi dari Jogja, merindukan Jogja sementara tubuh saya sudah renta, atau keadaan ekonomi saya tidak mencukupi untuk perjalanan ke sana, atau ada hal-hal lain yang membuat saya tidak bisa berkunjung ke Si Gudeg dan Si Bakpia itu? Sungguh mengerikan jika kerinduan saya tidak bisa dituntaskan. Bukankah hal paling mengerikan di dunia ini adalah merindukan sesuatu yang mustahil bagi kita untuk bertemu?

Oleh karena itu, saya bermimpi untuk tinggal di Jogja sampai akhir hayat saya. Oh, iya, bersama keluarga saya juga. Istri dan anak-anak saya (istri dan anak-anak? Bajindul. Skripsi aja belum).

Ya, barangkali memang saya tidak perlu mempertanyakan lagi keistimewaan Jogja. Akan saya buang jauh-jauh (tidak terlalu jauh sih sebenarnya) pertanyaan itu. Ini bukan tentang keistimewaan Jogja yang sudah disahkan oleh undang-undang. Tetapi, saya rasa, Jogja tetap istimewa. Meskipun kelihatannya macet, banyak hotel-hotel, kualitas udara menurun, dan sebagainya dan sebagainya. Bukankah keistimewaan hanya bisa dirasakan oleh hati, bukan oleh pandangan mata?

“Ya Tuhan, nikmat Jogja mana lagi yang kamu dustakan, wahai anak muda yang malang?” kata tokoh imajiner saya pada suatu hari yang ceria.[]

Baca Juga : Jogja dan Buku Bajakan

*Oleh Daruz Armedian

Yogyakarta, 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Harmoko berkata:

    Bisa jadi begitu mas, istimewa dalam rasa brand dan juga konstitusi.

  2. Andika berkata:

    Ya pak sepakat dengan yang anda pikirkan

  3. Fakhruddin berkata:

    Mungkin keistimewaanya ya itu “Orang merasa Jogja itu istimewa tapi tidak tau bagian mana yg istimewa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.