Cerita Tua tentang Tanda Ulama

Cerita Tua tentang Tanda Ulama - Mullah Nasrudin Hoja

Ilustrasi gambar diambil dari http://static.inilah.com

Oleh Lev Widodo

Mullah Nasrudin Hoja adalah ulama dari tipe yang tidak lumrah. Ketika berceramah, dia tidak memakai busana ustadz dan segala pernak-perniknya. Sehari-hari dia mengenakan pakaian awam yang sederhana. Dalam pengajiannya, sang mullah tidak pernah menggunakan kitab rujukan, bahkan jarang sekali mengutip ayat atau pun hadis. Nasihatnya yang otentik merupakan buah renungan mendalamnya atas kehidupan. Baik dari segi penampilan maupun retorika, tidak ditemukan satu pun alasan untuk menyebut Nasrudin sebagai ulama.

Karena itu, banyak orang yang meragukan keulamaan Nasrudin, termasuk sebagian tetangganya sendiri. Pada suatu hari, mereka menemui Mullah yang sedang menggembalakan kambing. Tujuannya satu dan pasti: menguji keulamaan Mullah Nasrudin. Mereka berbicara dengan Mullah secara tajam dan blak-blakan.

“Mullah,” kata salah seorang dari mereka, “kami tidak percaya bahwa Anda seorang ulama. Bila Anda memang ulama, panggillah pohon itu untuk bersujud di bawah kaki Anda.” Di depan mereka, memang tumbuh sebuah pohon besar.

Mullah sadar benar bahwa mereka datang untuk menguji. Dan dia siap dengan tantangan seberat apa pun. “Baiklah. Akan kupanggil pohon itu. Wahai pohon, datanglah ke sini.”

Para penguji kaget menyaksikan keberanian Mullah Nasrudin. Ketika mereka mendengar Mullah memanggil pohon dengan suara yang mantap, jantung mereka berdebar-debar. Jangan-jangan, Nasrudin memang ulama. Dan mereka percaya, bila bersikap kurang ajar terhadap ulama, mereka akan dihampiri nasib sial. Namun, sesaat kemudian, kekhawatiran mereka menyusut. Pohon yang dipanggil Nasrudin tetap diam di tempatnya.

Mullah mengulangi perintah. “Wahai pohon, datanglah ke sini.” Pohon itu tidak mendengar perintah Mullah. Masih saja diam. Orang-orang pun tertawa.

“Benar dugaan kami. Anda bukan ulama. Mana ada ulama yang kalau berceramah jarang mengutip ayat dan hadis seperti Anda. Mana ada ulama yang memberi pengajian tanpa landasan kitab sama sekali. Mana ada ulama yang tampang dan penampilannya seperti kami yang awam ini. Anda ulama gadungan. Kalau memang ulama, pohon itu pasti akan menuruti perintah Anda. Kalau memang ulama, Anda pasti punya karomah.”

Mullah Nasrudin menanggapi olok-olok itu: “Oh, jadi kalian ingin melihat karomah saya? Akan saya panggil sekali lagi pohon itu. Wahai pohon, mereka ingin menyaksikan karomahku. Datanglah ke sini.”

Apakah yang terjadi? Tidak terjadi apa pun. Pohon itu tidak memahami bahasa Mullah. Diam. Hanya dahan dan daunnya bergoyang-goyang tertiup angin. Mullah lalu melangkah menuju pohon, sambil berkata, “Kalau yang dipanggil tidak mau datang, cinta akan membimbing seorang ulama untuk mendatangi siapa yang dipanggil. Itulah karomahnya.”

Cerita ini sudah tua. Sangat tua. Tapi, masalah yang disinggungnya adalah fenomena klise yang berulang muncul pada zaman yang berbeda. Saat ini, kita pun bertemu dengan fenomena keagamaan tersebut. Ukuran keulamaan yang hakiki dilupakan. Keulamaan dipahami lebih secara simbolis.

Dalam pandangan simbolistis, ulama adalah figur publik yang mengenakan busana islami, pintar bahasa Arab, sering mengutip ayat dan hadis, dan merujukkan pendapat dan nasihatnya pada berbagai kitab. Di kalangan muslim tradisional, ciri simbolis ulama ditambah satu lagi: punya karomah, yaitu kemampuan luar biasa yang menyimpang dari hukum alam, misalnya dapat memanggil pohon, membaca isi pikiran orang lain, meramal masa depan, berada di lebih dari satu tempat pada satu waktu, berjalan di atas air, dan sebagainya.

Apakah itu semua merupakan ciri seorang ulama? Atau, apakah ciri ulama hanya hal-hal itu saja? Cerita Mullah Nasrudin Koja di atas mengisyaratkan jawaban yang jelas. Keulamaan tidak bisa dipahami melulu secara simbolis. Di samping penampilan, retorika, dan karomah, ada prasyarat dasar yang harus dipenuhi seorang ulama: cinta. Pada ulama, cinta menjadi pondasi yang menopang tritunggal sifat keulamaan, yaitu keilmuan dalam arti gnosis, kehambaan yang berpadu dengan kekhalifahan, dan kegentaran di hadapan Ilahi (Q.S. Fathir: 28).

Bila seseorang mengaku ulama, padahal hatinya gersang dari air suci cinta, dia tidak patut dipanggil ulama, biar pun dia berbusana islami, hapal al-Quran dan ribuan hadis, menguasai banyak kitab, dan mampu menunjukkan kesaktian adikodrati. Agama tanpa cinta, adakah maknanya? Ilmu tanpa cinta, adakah manfaatnya? Ibadah tanpa cinta, adakah sayapnya?

“Cinta” yang dimaksud di sini adalah cinta vertikal yang berimplikasi horizontal, spiritualitas yang bervisi kemanusiaan, kegandrungan ilahiah yang melahirkan budi pekerti luhur. Dan budi pekerti luhur selamanya dihasilkan dari keberjarakan kritis terhadap dunia. “Cinta dunia,” kata Nabi, “adalah pangkal setiap kesalahan.”

Ulama tidak mencari atau bahkan mengejar dunia. Dia tidak mendidik demi mencari pengikut, pemuji, dan pemuja. Dia pun tidak berdakwah untuk menumpuk harta, popularitas, dan jabatan. Dia tidak mengemis di depan pintu penguasa. Tapi, bila kekuasaan mendekati dan mengelilinginya, dia bagaikan ikan yang hidup di lautan: berenang dalam air asin tetapi dagingnya tidak menjadi asin. Kecantikan artifisial dunia tidak sedikit pun memikat ulama.

Seorang ulama berdakwah atas dasar cinta yang tulus dan jujur. Dengan sabar dan arif, dia mengajak umat untuk menempuh perjalanan pulang menuju pangkuan Ilahi. Dia mendidik umat dengan tabah dan konsisten. Dia ingin membebaskan umat dari kebahagiaan semu yang merupakan topeng dari wajah penderitaan, demi memperjumpakan mereka dengan kebahagiaan sejati yang menenteramkan.

Bagi umat, dia menjadi tangan kasih sayang Kehidupan, pancaran nama al-Rahman-Nya. Ulama seperti ini adalah bukti rahmat Ilahi, sebagaimana Nabi Muhammad, penghulu para nabi dan rasul, juga menjadi bukti rahmat Ilahi. “Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad),” demikian tertulis dalam al-Quran, “kecuali untuk menjadi rahmat (Ilahi) bagi alam raya” (Q.S. al-Anbiya: 107).

Bukankah ulama adalah pewaris para nabi? Pada dasarnya, yang diwarisi ulama dari para nabi adalah cinta. Sebab, cintalah yang merupakan jantung risalah agama tauhid. Sekali lagi al-Quran perlu dikutip: “Dan orang-orang yang beriman itu, amat cinta kepada Allah” (Q.S. al-Baqarah: 165).

Karena memiliki cinta, seorang ulama tidak gampang marah kepada umatnya, apalagi menyalah-nyalahkan, membidah-bidahkan, memurtad-murtadkan, dan mengkafir-kafirkan mereka. Bagaikan bunda bagi anak kandungnya, ulama mengemong umat dengan metode tut wuri handayani. Arah langkah umat diorientasikan dengan cara yang empatik, arif, cerdas, dan efektif.

Sebagai guru, dia tegas dan memegang prinsip, tetapi hatinya tidak pernah kehabisan pengertian, pemakluman, dan pemaafan. Hatinya lebih luas daripada tujuh samudera, tujuh lapis bumi, ditambah tujuh petala langit. Sebab, hatinya itu merupakan dampar kencana tempat al-Rahman bertahta. Di mana pun dan kapan pun, dia menjadi pelita suci yang memendarkan cahaya cinta.

NB: Artikel ini saya tulis untuk Dik Doank, pendiri dan pengasuh komunitas kreativitas Kandang Jurang Doank. Dengan caranya sendiri, seniman ini mewujudkan gagasan kependidikan Ki Hadjar Dewantara yang banyak disalahpahami, disalahgunakan, disalahterapkan, dan disalah-arahkan. Salawat dan salam terlimpah kepada kekasih kita, Baginda Muhammad, seluruh hawari dan sahabatnya, segenap keluarga dan keturunannya, dan semua pengikut dan perindunya yang tabah melangkah di jalan kemanusiaan yang berliku dan tangguh mendaki gunung cinta yang terjal.

 

Baca juga : Kelana Sunyi Mencari Makna

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Oktober 24, 2017

    […] Baca Juga : Cerita Tua Tentang Tanda Ulama […]

  2. Oktober 30, 2017

    […] melantunkan lagu salam dan menembangkan kidung rahayu, cinta sebagai pelukan hangat kedamaian. Cinta ibu itu pedih karena seorang ibu rela berpisah dari anaknya. Dia rela hidup sendiri dalam kesepian […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.