PRATAMA??

Ilustrasi diambil dari pinterest.com

Hampir tengah malam. Malam semakin sepi, hanya gemericik air hujan yang menjadi musik pengiringnya. Di langit, bayangan awan-awan hitam yang menggumpal sesekali nampak karena kilat-kilat dari kejauhan. Udara yang dingin melelapkan siapapun yang beringsut dalam selimut tebalnya. Namun, di sudut kamar, ada seseorang yang tidak tergoda dengan lambaian selimut tebal yang tampak begitu hangat.

Layar di atas meja belajar itu, di depan matanya jauh lebih menarik ketimbang selimut yang melambai-lambai. Jemari tangannya bergerak lincah seolah memiliki mata yang tidak akan membuatnya tersesat menelusuri letak setiap huruf. Wajah yang sedari tadi begitu serius, mulai menampakkan sesungging senyum yang manis dengan lesung pipi di sebelah kiri. Dan….

“Yes!! Akhirnya selesai juga.”
Drrt..drrrt…, getar HP membuatnya beranjak dari kursi.

“Hallo, Widia,” ucapnya.

“Hallo Tommy, bagaimana? Sudah selesai belum?,” suara perempuan di sebrang sana.

“Kamu tepat sekali menelpon. Baru saja aku menyelesaikannya. Ini akan menjadi novel ketiga ku yang juga menjadi best seller. Hahaha,” Jawab Tommy dengan penuh semangat.

“Kau ini, selalu saja ke-PD-an. Tapi aku juga setuju, pasti yang ketiga ini juga tak kalah seru seperti kedua novelmu yang lain. Aku sudah tak sabar ingin membacanya. Cepat kirimkan ke email ya. Ku tunggu!,” jawab Widia.

“Oke,” jawab Tommy, mengakhiri pembicaraan.

Tanpa menunda-nunda, Tommy segera mengirim filenya ke alamat email Widia. Salah satu editor di penerbit ternama Pustaka Utama, Bandung. Baru dua kali ia menjadi editor novel karangan Tommy. Ia tidak menyangka novelis pendatang baru itu mendapat sambutan luar biasa dari pembaca. Bahkan semua novelnya menjadi best seller menyaingi penulis-penulis senior.

Tommy, 23 tahun, novelis tampan dengan tinggi badan 170 cm, selalu bersemangat, ceria, murah senyum, dan suka sekali menolong orang lain yang membutuhkan bantuan.

Setelah beberapa malam ia menghabiskan waktu untuk fokus menyelesaikan novel, kini saatnya menghirup udara segar, apalagi setelah hujan. Debu-debu kota yang memenuhi udara siang, luruh semua terbawa air hujan. Suasana yang demikian, sangat cocok untuk bersantai sambil menikmati kopi hangat di kedai milik om Rudi.

Malam ini Tommy melaju santai dengan sepeda gunungnya. Ia menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya yang seolah menyingkirkan semua kelelahan dan ketegangan. Jalanan sepi, hanya ada dua atau tiga kendaraan yang lewat. Setelah lima belas menit, ia berhenti melaju di depan kedai kopi favoritnya. Langganan.

“Hai, pemuda. Kemana saja kau? Satu bulan tak nampak batang hidungmu. Ku kira sudah bosan dengan kopi buatanku,” Seorang laki-laki paruh baya menyambutnya dengan manyun.

“Hallo, Om Rudi. Kalau sudah bosan, aku tidak mungkin datang kemari sekarang. Hehe. Iya Om, aku menyelesaikan novel ketigaku. Tadi baru selesai. Jadi, aku baru kemari. Dan sekarang aku ingin Om buatkan aku kopi yang paling enak,” jawab Tommy dengan santainya sambil berlenggang mencari tempat duduk yang nyaman.

Setelah puas menikmati kopi hangat dan bercengkrama dengan om Rudi, ia berpamitan untuk pulang. Ia mengambil sepeda gunung yang diparkirnya di bawah pohon mangga depan kedai. Bersiul-siul, bernyanyi di sepanjang jalan sambil mengayuh santai sepedanya. Bahagia membayangkan jika suatu saat ia mendapat penghargaan atas novelnya.

Dini hari, suasana semakin sepi. Hanya dia satu-satunya yang melintas di jalan itu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada seorang lelaki muncul dari gang kecil yang tepat di depannya.

Brakkk…., Tak pelak ia menabrak lelaki itu. Lalu terjatuh. Begitu pun dengan lelaki itu juga terjungkal.

“Rio?? Hei, ada apa? Kau membuatku terkejut,” tanya Tommy heran dengan menahan sakit di lengannya karena jatuh tadi. Sambil berusaha bangun.

“Oh.. kau.. kau Tommy? Itu.. kita.. kita.. harus lari, nanti saja ku jelaskan situasinya. Ayo cepat!!,” jawab Rio dengan nafas tersengal-sengal yang segera bangkit dan membantu Tommy menyiapkan sepedanya. Tommy melihat ada tiga lelaki yang berlari ke arah mereka.

“Hei.. kau.. jangan lari..!!,” teriak salah seorang lelaki itu.

Belum sempat mereka menaiki sepeda, dua orang bertubuh kekar itu menyerang Rio. Satu orang lagi menyergap Tommy. Ia berontak namun percuma. Orang itu bertubuh kekar dan sangat kuat sekali, hingga ia tidak mampu berbuat apa-apa. Tommy hanya melihat sahabatnya dipukul dan ditendang di depan matanya. Rio tidak berkutik karena salah seorang memegangnya dengan erat dan satu lagi dengan beringas menyerangnya.

“Hei.. dasar anak tidak tahu diuntung. Mau kabur kemana lagi kau sekarang? Hah ??,” orang itu berbicara dengan wajah garangnya.

Melihat itu semua, Tommy merasakan jantungnya berdetak menggebu, darah berdesir seolah sangat terasa mengaliri setiap sel dalam tubuhnya. Perlahan-lahan matanya berkunang-kunang, mulai kabur, dan beberapa detik kemudian gelap. Ia sudah kehilangan kesadarannya.

“Bagaiman bos? Kita apakan juga anak ini? Sepertinya dia teman si Rio itu,” tanya orang yang memegangi Tommy.

“Bawa saja!! Dia sudah melihat apa yang kita lakukan,” jawab si Bos.

Rio merasakan tubuh dan tulang-tulangnya sudah seperti dahan yang lepas dari pohonnya. Antara sadar dan tidak sadar, tidak mampu bergerak saat orang yang memegangnya kemudian menyeretnya untuk dibawa menuju ke mobil.

Sementara, Tommy yang tadinya pingsan sesaat yang lalu tiba-tiba terbangun. Ia membuka matanya dan merasakan tangan kekar kuat memegang tangannya dari belakang. Dengan gerakan yang cepat tiba-tiba ia menyerang orang itu dan membuatnya lepas dari sergapannya. Berbalik badan dan pasang kuda-kuda, siap membalas jika tiba-tiba diserang.

“Siapa kalian?,” tanyanya kepada orang-orang asing itu. Satu orang tampak sibuk mengikat seorang pemuda yang sudah babak belur, yang tak lain adalah Rio. Namun, ia menatap dengan heran seolah juga tidak mengenal pemuda itu. Satu lagi tampak berjalan santai seperti akan pergi meninggalkan tempat itu. Satu lagi, orang yang tadi memegangnya, tampak terkejut dan meringis kesakitan karena ulahnya. Ketiga orang itu, sejurus kemudian terhenti dari setiap aktivitasnya lalu semua memandang ke arahnya.

“Hah?? Apa yang kau lakukan? Kau berani dengan kami?,” orang itu menyerang akan menyergap lagi seperti tadi yang dia lakukan.

Namun, Tommy berhasil menghindar. Bahkan ia berhasil melayangkan tendangan yang membuat orang itu jatuh tersungkur alih-alih menyergapnya. Melihat kejadian itu, salah seorang lagi yang tadi sibuk mengikat Rio, ikut menyerang membantu rekannya. Lagi-lagi Tommy berhasil membuat seorang lagi tumbang hanya dengan beberapa pukulan.

Melihat dua anak buahnya yang terkapar, Bos yang tadi sudah hampir pergi berlari ke arah Tommy dan menyerangnya. Terjadi lah pertarungan yang sengit. Ternyata si Bos ini memiliki kemampuan bertarung yang lumayan dari pada kedua anak buahnya. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk membuatnya menyerah dan akhirnya mereka semua kabur.

Tommy melihat pemuda tak berdaya itu, mendekati dan melepaskan tali yang mengikatnya. Ia memastikan apakah pemuda itu masih sadar atau tidak.

“Hei, Bung! Kau bisa mendengarku?,” tanyanya dengan nada suara yang berat.

Rio perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan menatap Tommy, tersenyum, kemudian pingsan hilang kesadaran.

***

Sinar matahari yang cerah menerobos masuk melalui celah jendela. Tommy tergeletak di lantai sedangkan Rio di atas tempat tidur. Mereka masih tampak tidur lelap.

“Kriiiiinggg!!,” suara alarm HP mengejutkan Tommy yang langsung terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling, mengrenyitkan dahi mendapati dirinya terbangun dan di lantai. Tetapi sejurus kemudian ia teringat kejadian yang menimpa Rio semalam. Ia langsung menghampiri Rio yang terbaring lemah di kasur miliknya. Rio juga terbangun karena suara alarm tadi.

“Rio, bagaimana keadaanmu? Apa lukamu parah? Siapa orang-orang itu? Mengapa mereka menyerangmu?,” tanya Tommy dengan penuh kecemasan dan penasaran pada sahabatnya itu.

“Hmmm, kau ini, seperti orang kesetanan. Bertanya itu satu-satulah. Kau tidak lihat aku masih lemah menahan sakit seperti ini?,” jawab Rio yang kesal ditanya beruntun.

“Tapi, terima kasih. Aku tidak menyangka kalau kau pandai berkelahi. Melihatmu semalam tampaknya kau sudah terlatih bela diri”, imbuhnya.

“Bela diri? Siapa? Aku?? Ah, aku tidak berbuat apa-apa,” Tommy malah balik bertanya. Ia tidak merasa kalau dirinya semalam berkelahi untuk menyelamatkan sahabatnya itu. Yang ia tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena disergap, malah justru pingsan saat melihat Rio dipukuli.

“Sudahlah, tak perlu merendah diri. Semalam kau juga kan yang membawaku pulang? Sepertinya aku pingsan setelah kau menyelamatkanku. Lalu aku juga merasakan kalau kau merawat ku sepanjang malam,” jawab Rio.

“Mereka, dua orang itu adalah orang suruhan. Aku terlibat hutang dengan seorang rentenir. Sebenarnya bukan aku yang hutang, tetapi pamanku. Seperti yang pernah ku ceritakan padamu waktu kita pertama bertemu dulu. Aku hanya tinggal dengan pamanku. Tetapi aku kabur dari rumah setelah mengetahui kalau aku akan dijadikan tenaga kerja illegal sebagai jaminan paman yang tidak mau mengembalikan uang yang dihutang. Sebelumnya aku juga pernah diserang namun mereka pergi setelah ku berikan seluruh uang yang ku punya. Saat itulah tepat kau lewat dan tidak sengaja melihatku terkapar. Lalu kau menyelamatkanku dan membawaku ke rumah sakit,” jelas Rio.

“Lalu yang seorang lagi, siapa? Juga suruhan?,” tanya Tommy karena tadi Rio hanya menyebutkan dua orang.

“Dia adalah pamanku,” jawab Rio sambil menghela nafas.

“Wah… sungguh kejam…,” Tommy tidak menyangka jika itu pamannya Rio.

“Sudah aku tidak ingin membahasnya. Aku yakin, sekarang dia tidak akan berani menggangguku setelah apa yang kau lakukan semalam”, Rio mengakhiri penjelasannya dengan tersenyum.

“Ah, semalam. Tunggu dulu, aku benar-benar tidak ingat kalau aku berkelahi demi menyelamatkanmu. Disergap saja semalam aku sudah gagal memberontak dan melawan. Apa lagi bela diri? Sepertinya tidak mungkin itu aku. Pasti ada orang lain yang menyelamatkan kita,” jelas Tommy yang masih ngotot kalau bukan dia yang berkelahi.

“Kau yakin? Aku tidak melihat orang lain datang selain hanya kita berdua dan ketiga orang itu. Aku masih bisa melihat dengan jelas meskipun tubuhku rasanya sudah tidak bisa digerakkan sebelum akhirnya pingsan juga. Dan aku melihat itu kau,Tommy,” jelas Rio penuh dengan keyakinan.

Tommy sejenak merenung, berusaha mengingat hal yang mungkin ia lupa. Tapi hasilnya, NIHIL. Iya tetap tidak mengingat apa-apa.

“Ah sudahlah, yang penting kita selamat, dan kau harus segera pulih,” akhirnya ia menyerah dengan hal yang tidak diingat itu.

Hari ini mereka berdua tidak pergi kemana-mana. Rio istirahat. Sedangkan Tommy menyibukkan diri di depan layar laptopnya. Ia sudah punya ide untuk membuat novel baru lagi. Sungguh-sungguh produktif. Tidak perlu menunggu satu minggu atau satu bulan, satu malam sudah cukup baginya untuk menelurkan ide baru.

***

Malam tiba, seperti malam sebelumnya, udara malam ini cukup dingin menusuk tulang. Memaksa siapa saja bersembunyi di balik selimut. Termasuk Tommy yang juga sudah bergumul dengan selimut tebalnya. Malam ini ia tidak pergi. Ia menemani Rio yang masih lemah. Tampaknya Rio sudah tertidur lelap di sampingnya. Sementara, ia sulit memejamkan mata. Ia masih penasaran dengan obrolan tadi pagi bersama Rio. Mengapa ia sama sekali tidak ingat dengan apa yang telah dilakukan. Ia gelisah, miring kanan, miring kiri, duduk, lalu berbaring lagi. Rio yang berada di sampingnya merasa terusik.

“Hei, kau sedang apa? Tidurlah, aku ngantuk ni, jangan bergerak-gerak terus,” keluhnya dengan kesal.

“Aku masih penasaran, apa aku benar-benar melakukan seperti yang kau bicarakan tadi,” jawab Tommy menjelaskan.

“Emmm, baiklah, besok kita bahas lagi. Akan ku carikan bukti kalau kau benar-benar melakukannya. Sekarang cepat tidur,” jawab Rio dengan malas dan tetap memejamkan matanya.

Akhirnya Tommy merebahkan tubuhnya dan terlelap dengan hati yang masih gelisah.

***

“Kriiiiiiiiing…,” alarm pagi sudah berdering membangunkan dua pemuda yang masih tidur terlelap di atas kasur yang hangat.

“Ah… hei, bangun!,” Rio mengguncang-guncang tubuh Tommy. Ia lalu beranjak dari kasur, sementara Tommy masih sembunyi dalam selimutnya.

Rio menuju kamar mandi. Ia sudah merasa badannya lebih enak. Setelah mandi, ia berencana mengajak Tommy jalan-jalan ke tempat dimana mereka mengalami kejadian tidak mengenakkan itu. Dengan maksud, agar Tommy bisa mengingat apa yang dilupakannya.

Tommy mulai menggeliat-geliat, membuka selimutnya, lalu perlahan membuka matanya dan tiba-tiba terbelalak. Menoleh ke kanan ke kiri memperhatikan ruangannya.

“Ah… jangan-jangan… pasti ini terjadi lagi.,” ia menggerutu sendiri dan dengan malas beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

“Cklek..!!,” tepat ketika ia akan membuka kamar mandi, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Lalu keluarlah Rio yang baru saja selesai mandi. Sontak saja membuatnya terkejut.

“Oh my God! Siapa kamu?,” tanyanya pada pemuda yang sepertinya tidak dikenalnya itu.

“Hei, kau ini,Tom. Pagi-pagi sudah melucu. Sudah, cepat mandi sana! Setelah sarapan, aku akan mengajakmu ke tempat kemarin malam. Siapa tahu kau jadi ingat apa yang sudah kau lakukan,” balas Rio sekenanya sambil berlalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.

“Tom? Tommy?Ah pasti, Tommy pasti muncul lagi”, sejenak Tommy yakin pada hal yang sempat dia ragukan tadi. Setelah beberapa saat termangu di depan kamar mandi, ia segera masuk dan mandi.

‘Apa yang sudah kamu lakukan Tom? Berapa lama kamu di sini? Malah ada sahabatmu juga?,’ Tommy menggerutu pada dirinya sendiri. Ia bertanya seolah tidak ingat sama sekali kalau dia sudah satu minggu tinggal di rumah ini dan sudah menyelesaikan satu novel ketiganya. Selain itu, dalam batin ia berfikir harus bersikap bagaimana dengan Rio. Atau haruskah ia mengaku??

Rio sudah selesai membuat sarapan, ia jago sekali masak.

“Tom, kau tidur di kamar mandi? Lama sekali,” teriak Rio yang tidak sabar menunggunya untuk sarapan bersama, membuyarkan lamunan.

“Oh iya, sudah selesa,” ia membalas. Tommy sudah berganti pakaian dan berjalan menuju meja makan.

“Ini, aku membuat nasi goreng dengan telor dadar. Setelah ini kita pergi,” kata Rio yang sudah duduk di depan menu buatannya sendiri itu.

Tommy hanya mengangguk lalu duduk, kemudian melahap nasi goreng sesuap demi sesuap tanpa berbincang sama sekali. Rio yang menyadari ada hal yang aneh memulai berbicara.

“Hei, Tom, kenapa kau murung begitu? Kau marah karena semalam aku mengabaikan dan memintamu menunggu hingga pagi ini untuk memastikan apa yang telah kau lakukan?,” tanya Rio yang mulai penasaran melihat sikap Tommy yang dingin dan kaku, tidak seperti biasanya.

Tommy teman yang selalu ceria dan bercerita apa saja yang ingin dia ceritakan, seolah tidak habis cerita yang dia punya. Meskipun sedang makan, biasanya dia akan berbicara di sela makannya. Tapi kali ini berbeda. Tommy hanya menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan Rio.

“Bener?,” tanya Rio memastikan. Sekali lagi, Tommy hanya mengangguk tidak berbicara sepatah kata pun.

“Ah.. jangan begitulah, Tom. Aku merasa bersalah jika kau bersikap murung dan dingin seperti ini,” Rio kesal, namun juga merasa bersalah pada sahabatnya itu. “Baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak mau menjelaskan sekarang,” tambahnya.

Tommy hanya diam dan melanjutkan makannya. Sementara, dalam hatinya berisik sekali.

‘Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa berpura-pura menjadi Tommy. Aku tidak tahu pasti bagaimana ekspresi wajah Tommy saat berinteraksi dengan orang lain. Atau aku mengaku saja? Ah, kenapa juga Tommy pergi di saat yang tidak tepat. Aku harus bertemu dengan sahabatnya begini. Bagaimana ini?’

“Tom.. Tom.. Tommy!!,” bentak Rio.

“Hah? Apa?,” Tommy kaget.

“Kok malah bengong? Pasti ada sesuatu yang kau fikirkan ini,” desak Rio.

“Em… itu..,” Tommy menjawab dengan ragu-ragu.

“Tidak apa-apa katakan saja jika kau memang marah dan kesal pada ku, aku juga minta maaf kalau semalam mengabaikanmu,” sela Rio.

“Hmmm, baiklah. Tapi kamu pasti akan terkejut mendengar penjelasanku. Meskipun mungkin nanti akan membuatmu terkejut, kamu tetap akan menjadi sahabatku?,” tanya Tommy agak ragu.

“Apa maksudmu? Tentu saja lah. Kau itu sudah seperti saudaraku sendiri. Lagian, kau juga baik sekali pada ku, sering membantuku. Tentu saja aku tidak akan mudah menjadi marah padamu hanya karena kau marah kepadaku,” jelas Rio.

“Bukan itu. Bukan karena aku marah padamu. Tetapi ada hal lain,” balas Tommy.

“Hal lain? Apa itu? Tidak apa-apa, katakan saja. Aku akan mendengarkan penjelasanmu,” jawab Rio sambil memposisikan diri siap menjadi pendengar seperti siswa baru yang seksama memperhatikan gurunya menyampaikan pelajaran.

“Baik, selama aku menjelaskan, kamu harus mendengarkan dengan seksama, jangan menyela, jangan bertanya. Tunggu sampai aku selesai menjelaskan,” pinta Tommy pada Rio.

“Oke..,” jawab Rio singkat, sudah tidak sabar ingin mendengar penjalasan Tommy.

Tommy bersiap, tidak kalah serius, suasana jadi terasa tegang, seperti harap-harap cemas. Mereka duduk di kursi yang bersebrangan yang dipisah dengan meja makan.

Tommy mulai bercerita, “Sebenarnya… sebenarnya aku bukan Tommy. Aku adalah Pratama.”

“PRATAMA?? Maksudnya namamu yang sebenarnya Pratama?,” sela Rio.

“Hei, dengarkan, ingat. Jangan menyela. Dengarkan aku sampai selesai. Jika ada pertanyaan, simpan dulu sampai aku mengatakan kamu boleh bertanya,” jawab Pratama.

Ya. Pemuda yang bangun tadi pagi, yang terkejut saat melihat Rio keluar dari kamar mandi, yang juga sarapan bersama. Dia adalah Pratama Putra. Anak seorang pengusaha sukses yang kaya raya. Ia pergi dari rumah sekitar satu minggu yang lalu setelah terlibat pertengkaran hebat dengan papanya.

“Aku tidak ingat kapan tepatnya aku pergi dari rumahku yang di Jakarta. Sebelum aku tersadar dan melihat sudah berada di tempat ini, aku bertengkar dengan papaku. Setelahnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Lalu, tadi pagi aku bangun dan terkejut melihatmu yang juga ada di sini. Mendengar kamu memanggilku dengan sebutan Tom, aku jadi teringat, bahwa Tommy pernah meninggalkan catatan kepadaku kalau dia memiliki satu-satunya sahabat terdekat bernama Rio. Ternyata itu kamu. Benarkan?,” Rio mengangguk membenarkan kalimat Pratama.

Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang menggema di otaknya, tetapi ia berusaha menahan diri sampai Pratama memberi kesempatan untuknya bertanya.

“Aku dan Tommy, adalah orang yang berbeda. Meskipun kami berbagi satu tubuh, kami memiliki rasa yang berbeda, keahlian yang berbeda, sifat yang berbeda, bahkan kami memiliki ingatan yang berbeda. Aku tidak akan mengingat apa yang sudah dilakukan Tommy, begitu juga sebaliknya. Tommy pun tidak akan mengingat apa yang aku alami. Kami benar-benar menjadi orang yang berbeda,” Pratama berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mungkin mudah untuk dipahami Rio.

Rio masih tampak mendengarkan dengan seksama. Meskipun dalam hati ia masih belum benar-benar mengerti, Apa maksudnya kalau dia dengan Tommy adalah orang yang berbeda? Jelas-jelas mereka satu orang.

“Menurut dr.Rani, seorang psikiater yang menanganiku, aku mengalami gangguan kejiwaan karena trauma masa lalu yang pernah ku alami. Tiga tahun yang lalu aku ditetapkan memiliki gangguan kepribadian, DID (Dissociative Identity Disorder). Tanpa sadar, aku menciptakan kepribadian lain selain diriku yang sesungguhnya. dr.Rani menemukan aku menciptakan dua kepribadian yang berbeda. Yang pertama adalah Tommy, dia memiliki kepribadian yang tidak aku miliki. Bahkan berlawanan. Kamu bisa melihat sendiri saat ini, tentu kamu tidak akan melihat wajah Tommy yang ceria dan selalu tersenyum. Karena saat ini yang bersamamu adalah Pratama. Aku, yang dingin, pendiam, dan juga tidak bisa membuat novel seperti Tommy, yang mampu membuat dua novel dalam satu bulan. Satu hal lagi yang juga menjadi kepribadian Tommy, adalah ia suka menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan, meskipun dia tidak pandai berkelahi seperti Satria,” Pratama berhenti sejenak. Ia mengingat kalimat Rio tadi sebelum ia mandi.

‘Setelah sarapan, aku akan mengajakmu ke tempat kemarin malam. Siapa tahu kau jadi ingat apa yang sudah kau lakukan.’

Rio yang dari tadi mendengarkan, juga ikut termangu dan tampak menahan nafas sejenak, ia tidak tahan untuk tetap diam.

“Satria?? Siapa itu? Jangan-jangan si ahli bela diri? Yang menyelamatkan ku saat malam lalu?,” Rio akhirnya berbicara karena terkejutnya yang pertama tentang Tommy adalah Pratama belum juga hilang, sekarang ada nama baru lagi, Satria. Semakin ia tidak mengerti. Bagaimana bisa satu tubuh berubah menjadi bayak orang begitu.

Pratama mengangguk, “Dia adalah Satria, dia hanya muncul pada saat ada bahaya yang mengancam dan tidak bisa aku atasi maupun diatasi juga oleh Tommy. Ia memiliki kemampuan bela diri. Aku bahkan pernah masuk penjara karena Satria terlibat perkelahian dengan preman. Tetapi, diampuni setelah hasil pemeriksaan menyatakan bahwa aku positif mengalami DID.”

“Pantas saja, Tommy juga tidak mengingat apa yang telah dilakukannya. Dan aku menyangka kalau Tommy, diam-diam belajar bela diri tanpa ku ketahui. Ternyata…..ah….aku masih tidak percaya,” Rio menanggapi dengan emosional juga.

Dia benar-benar masih tidak percaya hal seperti ini ada, bahkan itu pada sahabatnya. Iya jadi bingung, “lalu, dimana Tommy sekarang? Apakah dia tidak nyata?”

Pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan membuat dia semakin bingung. Dia tidak tahu harus harus bersikap bagaimana, mana mungkin orang yang sangat baik itu hanya ilusi? Ia bahkan sangat mengagumi Tommy dan sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Tetapi itu lah kenyataannya, Tommy yang dihadapannya saat ini bukanlah Tommy. Sangat berbeda. Bicaranya, tatapannya, gestur tubuhnya, sangat berbeda. Pratama berbicara dengan nada yang dingin dan berat, berbeda dengan Tommy yang lebih luwes dan tidak kaku. Tatapannya…..

“Saat ini aku masih menjalani perawatan,” Pratama melanjutkan penjelasannya.

Rio berhenti memandangi dan mengamati orang di depannya itu. Ia memejamkan mata sejenak untuk meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi dan di hadapannya sekarang adalah Pratama.

“Kami masih mencoba mencari intervensi yang tepat untuk menyembuhkan penyakitku ini. Oh ya, apakah kau tahu Tommy sudah disini berapa lama? Aku harus segera menemui dr.Rani,” tanya Pratama untuk memastikan ia sudah pergi dari rumah berapa lama.

“Kau sudah disini… oh maksudku, dia sudah disini sekitar satu minggu. Dia juga sudah menyelesaikan novel ketiganya. Aku senang sekali ketika kemarin malam bertemu dengannya lagi setelah satu bulan dia menghilang tanpa kabar. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Ia begitu baik padaku. Dan sekarang dia pergi lagi?,” Rio tampaknya masih berharap Tommy ada bersamanya.

“Entahlah, aku juga tidak tahu apakah dia akan muncul lagi atau tidak. Tetapi jika dia muncul, pasti dia akan kembali lagi ke sini,” jawab Pratama yang juga masih belum tahu apa yang akan terjadi pada dirinya di kemudian hari.

“Aku sudah menceritakan ini semua kepadamu, Rio. Aku mempercayaimu karena kamu sahabat Tommy yang paling dia percaya. Tidak biasanya aku berbagi kisah tentang hidupku pada orang lain. Sekarang, aku harus kembali ke Jakarta. Maaf jika Tommy harus pergi lagi,” Pratama sedikit merasa kasihan juga pada Rio yang merasa sangat kehilangan sahabatnya.

Rio hanya menunduk. Lalu Pratama beranjak berdiri. Ia akan berkemas dan kembali ke Jakarta hari ini juga. Tepat saat Pratama berdiri dan akan melangkah pergi, Rio berkata dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar, “Tunggu”.

Pratama yang mendengar suara pelan itu mengurungkan niat untuk melangkah, ia berbalik badan menatap Rio yang sekarang juga menatapnya.

“Pratama, apakah…. aku boleh ikut dengan mu ke Jakarta?,” tiba-tiba Rio mengatakan ingin ikut ke Jakarta.

Pratama tidak langsung menjawab. Ia diam sejenak.

“Apakah kau keberatan jika aku ikut dengan mu? Aku tidak ada niat apa-apa, aku hanya ingin menjadi sahabatmu juga seperti aku menjadi sahabat Tommy. Aku ingin membantumu melalui semua ini dan ingin melihatmu sembuh,” Rio menjelaskan alasannya untuk ikut ke Jakarta sambil tersenyum penuh harap.

Pratama yang menatap wajah tulus itu akhirnya mengijinkan Rio untuk pergi bersamanya, “Hmmm, ini adalah untuk pertama kalinya ada orang lain yang ingin bersahabat denganku. Selama ini aku melalui ini semua sendiri. Hanya dengan psikiater dan juga papa ku yang emosinya pun terkadang juga tidak stabil saat menghadapiku. Kau benar-benar ingin menjadi sahabatku?,” tanya Pratama seolah masih tidak percaya kalau dia akan memiliki seorang sahabat.

“Tentu saja,” jawab Rio tanpa keraguan.

Hari ini, selesai berkemas mereka langsung menuju Jakarta menggunakan mobil milik Pratama.

**END**

Jogja, 09 Oktober 2017

Oleh: Trilis Widia, si perempuan yang tertarik pada banyak hal.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. susi berkata:

    good job

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.