ROMANTISME EMBUN PAGI: Jawaban Atas Diam

Embun Pagi –Disudut ruang sepi aku tertunduk dan berfikir tentang apa yang sebenarnya berhenti parkir dalam sanubari rasa. Hilang sejenak fikiran tentang material yang selalu hinggap dalam benakku. Hanya ada sebungkus rokok dan cairan kopi yang mungkin menjadi media meditasi alam rasa yang hinggap ini.

ROMANTISME EMBUN PAGI: Jawaban Atas Diam

Ilustrasi gambar di baut oleh Tim Kreatif

Mau apa aku???.

Seputung rokok mulai lenyap menjadi debu, lalu dengan tak sadar kunyalakan computer untuk meneriakan perlawanan atas apa yang terjadi terhadapku.

Cerita tentang idealisme masa lalupun muncul. Teriakan lantang tentang perlawanan, revolusi harga mati, diam ditindas atau bergerak melawan, serta tangan terkepal maju ke muka dengan teriakan lawaaaaaaan !!!

ah,, semua itu hanya masa lalu.

Lalu, apa serta siapa masa depanku…?

Otaku mulai fokus pada pertanyaan sederhana ini,,

Perempuan itu,, iya, itu masa depanku.

Lama tak menghubungimu, dan tak tau apa kabarmu, betapa jahatnya aku!!!.

Mendiamkan perempuan revolusioner semacam kamu, cerdas, halus, kuat, sederhana, tak suka berias, apa adanya…

kata-kata ini tidak cukup mewakili penggambaran perempuan semacam kamu… mungkin kamu menjadi sosok perempuan idaman banyak orang, atau aku yang berlebihan…?

“rokok kunyalakan lagi, dengan api sederhana kusulut sebatang rokokku. Asap mulai memenuhi ruangan yang cukup lebar untuk menampung rapat kaum pemberontak. Tak lupa kusruput kopi yang menemani disamping kanan keyboardku…

“sruuuuuuuut……………………!!!!

Sedaaaaaap, (Dalam Hatiku)

Tiba-tiba, terdengar suara panggilan yang menggelora,

“toooooooo…………….!!!

(Iya, Parto namaku. Menarik bukan?)

“rokok Ae…………………!!!!! (Sumbang Sekali nadanya.)

Mbok ditabung gawe Mas Kawinmu!!!!!! (dengan tatapan tajam, sambil berjalan menghapiriku)

Ah, bicara apa anda.??? (tegasku) Rokok tak akan megurangi rizki manusia. Tuhan sudah memberikanku jatah rizki untuk merokok. Jika aq tak merokok, rizki yang sudah diberikan kepadaku pasti akan dikurangi….

“Mbantah ae………!!!

Ws… ndang mangan!!!!

Itulah perempuanku yang setia setiap hari memberikan celotehan yang membuat diri ini merasa kurang jika tak mendapat gertakan yang mempesona itu.. “ibuku”

Segera dengan sigap, kutinggalkan computer yang menyala, bak roket yang lepas landas menerjang daerah musuh. Ku hampiri meja makan dengan hidangan sederhana.

Nasi putih, tempe goreng, sambel trasi, serta sayur asam. Kusantap dengan penuh kebahagiaan.

Setelah perut tak kuat menampung, aku kembali beranjak ke meja yang selalu rindu dengan sentuhanku. Aku mulai melanjutkan huruf demi huruf untuk menyusun sebuah kalimat yang menjadi cerminan kegelisahan yang menyerang secara bertubi-tubi dan aku pun pasrah, tanpa perlawanan apapun.

Aku teringat dulu, saat bersamamu. “Kala cinta itu muncul diwaktu yang tepat”. Saat aku dan kamu setubuh dan seirama dalam mencapai tujuan , kompak dalam hal permainan, mempersatukan hobi yang nyatanya tak kau senangi, berkumpul dengan manusia-manusia aneh yang tak kau tahu sebelum kamu bersamaku, berjalan dengan motor butut yang enggan berjalan jauh. Kamu tersenyum riang, dan akupun senang. Ternyata ada perempuan yang sanggup bersamaku, kala itu

Ngatini, dialah ngatini. Perempuan revolusiner kedua dalam hidupku setelah ibuku dengan getaran suara yang seperti petir yang menyerang pohon lalu tumbang.

Yang kuingat, dalam perpisahan yang aku anggap sementara. Kala itu aku sudah selesai menempuh studi yang tergolong kemelut dalam hidupku selama 13 Semester lebih 3 Bulan, Nyaris DO. Engkau menangis dengan tatapan takut kehilanganku…

“dalam hatiku, : Engkau sungguh mempesona, kamu menyerangku dengan tangisan sendu dengan iringan rasa tak mau aku tinggalkan. Aku terbelalak dan tetap meningglkanmu walaupun rasa ingin bersamamu tetap melakat dalam sanubariku.”

Tanganku mulai lelah untuk mendeskripsikan betapa sempurnanya perempuan ini, lalu tak kusangka mulai muncul rasa kantuk yang luar biasa.

Akupun tidur.

 Akhirnya Masa Itu Pun Tiba

Jawaban atas gertakan yang selalu menerjang itu “Mbok ditabung gawe Mas Kawinmu!!!!!!”  mulai sirna. Tentunya dengan perempuan itu “Ngatini”

Dengan modal mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai Rp. 1000.000,00 pun sudah aku siapkan. Teringan Harapan dulu yang manjadi tonggak perjuangan untuk diwujudakan, Saling menjaga komitmen bersama untuk melanjutkan pada hubungan nyata yang sering disebut denga istilah menikah. Akupun akhirnya menikahimu. Sebuah pagi yang menjadi saksi atas betapa bahagianya diriku.

Tepat pukul 09.00 WIB rombongan mempelai pria atau rombonganku terbang menju istana yang sudah dipersiapkan pihak cintaku (Ngatini)

Akupun datang dengan modal kalimat yang sudah ku pelajari berhari-hari. “qobiltu nikahaha watajwijaha bimahrin madzkur, haaaalan !!!!!!

“Saaaahhhhh,,,” terdengar terikan

Lantang sekali suara itu, dan akupun lega. Dia resmi menjadi istriku.

Hari demi hari kita lewati dengan penuh cinta yang melekat, dia selalu menghidangkan kopi di pagi hari dengan senyum ceria serta daster seksinya, kadang juga sebelum kita berangkat kerja, kita bersama menikmati pagi dengan embunnya ,ditemani dengan kopi untukku dan teh untuk dia “Istriku” Sambil kunyalakan rokok, kita bercanda dimeja halaman rumah sambil menentukan berapa jumlah anak yang diinginkan.

Istriku ngatini bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta, sedangkan aku bekerja sebagai pegawai di lembaga swasta. Kita semua bekerja atas tujuan agar anak kita kelak tidak menderita seperti kita yang dulu sulit dalam hal materi. Waktu efektif untuk kita bertemu hanya diwaktu pagi hari serta malam hari. Malam hari untuk melampiaskan rasa cinta yng menggebu-gebu, kala pagi hari untuk menunjukan sisi romantisme masing-masing  dengan tujuan menggelorakan semangat dalam mengais rizki.

Kala pagi kita sering berdiskusi tentang berita Koran yang sedang kita baca, terkadang kita berselisih pendapat tentang sikap yang harus kita lakukan dalam menghadapi problematika yang terjadi, contoh saja, berita tentang si dewan yang korupsi triliyunan rupiah. Istriku menanggapi dengan nada datar, “biarkan saja, biarkan hukum tuhan yang bertindak. Sedangkan aku, realistis saja. “Dimana ada keuntungan disitulah si penguasa pasti mulai bekerja, dan ajang korupsi besar-besaran pun terjadi, dan tawaran solusi ku, khusus untuk para karuptor dihukum dipermalukan semalu-malunya atau ditembak mati, biar tuhan segera menghukumnya.

Namun kita dipersatukan dengan iklim semacam ini. Dengan kalimat penutup diskusi pagi “aku cinta kamu, Istriku”

Dia pun menjawab :”ndang adus, budal makaryo!!!!”

Kami sangat bahagia.

Di pagi hari tepat pukul 05.00 Wib Tiba-tiba terdengar suara gebrakan yang kencang, membuat kaget serta membuat ku terbangun dari tidurku. Segera aku mengecek keadaan istriku. Ku raba sebalah kanan kiriku, namun tiada. Ku cek ditoiletpun juga tiada. Lalu dimana istriku???

Terdengar teriakan yang tidak asing “Dang adus, sholat subuh!!!” (Itu suara ibuku)

lalu kisah itu tadi apa hanya mimpi semata????

Iya, Ternyata itu mimpi.

Komputer yang masih terjaga lalu kumatikan dengan rasa yang membingungkan.

“Pagi Dimimpiku Ternyata Romantis” 

bersambung

*Oleh, El-Arhamadalah penikmat sastra di pojok Senori.

Baca juga : Puisi Pengantar Tidur.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.