KELANA SUNYI MENCARI MAKNA: Apresiasi Beberapa Sajak Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo -Kehidupan sukar dipahami dengan nalar yang lurus. Butuh penalaran jenis lain untuk memahami makna kehidupan. Dan penalaran jenis lain itu adalah penalaran rasa yang menampik campur tangan bahasa.

Cobalah sesekali Anda menjauh dari keramaian untuk merenungi perjalanan hidup Anda selama ini di sebuah tempat sunyi hening. Dan bertanyalah kepada sang aku yang berdiam dalam hati Anda, mengapa aku sekarang di sini dan melakukan hal ini, tidak di sana dan melakukan hal itu? Mengapa aku berinteraksi dengan orang-orang ini, bukan dengan orang-orang itu? Apa yang sesungguhnya sedang aku lakukan?

Mengapa aku masuk ke dalam rangkaian peristiwa dan untaian pengalaman yang sebenarnya tak kukehendaki dan tak pernah kurencanakan, sedangkan mimpi-mimpi yang direncanakan tak seluruhnya menjadi kenyataan? Lantas, apa itu kegagalan, apa pula keberhasilan itu? Apa makna kemenangan, apa pula makna kekalahan? Dari sendang mana air bengawan kehidupan ini bersumber dan akan ke laut mana dia mengalir?

Bagi nalar yang lurus, semua pertanyaan itu adalah lorong-lorong gelap yang pada hakikatnya hanyalah jalan buntu. Sebelum lidahnya kelu dan mulutnya terbungkam, nalar yang lurus memberikan kita bukan pencerahan, melainkan penyesalan, pemberontakan, amarah, dendam, dan kemudian lahirlah kejahatan.

Dan kejahatan yang lebih eksplosif berpotensi lahir apabila nalar yang lurus digunakan untuk memahami absurditas kehidupan kolektif. Tengoklah kenyataan di sekeliling kita yang menggelikan tetapi juga memprihatinkan. Orang miskin diharuskan menyumbang untuk orang kaya. Orang jahat menuntun orang baik. Orang bodoh menggurui orang pintar. Orang kotor mau membersihkan hati orang suci. Orang lapar mesti berbagi makanan dengan orang kenyang. Orang sakit mengobati orang sehat. Lucu, bukan?

Bukan. Hal itu bukan hanya lucu, tetapi juga membakar amarah siapa pun yang berpikir lurus, yang tidak akrab dengan gelak tawa, yang terbelenggu dalam prinsip “seharusnya, seharusnya, seharusnya…”. Pikiran lurus semacam ini, yang mengendarai bahasa sebagai wahananya, bagaikan pisau belati yang kalau tidak dipakai untuk menusuk perut sang lain (the other), niscaya digunakan untuk menikam jantung sendiri.

Karena itu, untuk memahami makna kehidupan yang tampak absurd ini, demi menjaga kewarasan dan kemanusiaan, kita terpaksa menanggalkan nalar-lurus untuk kemudian menggantinya dengan nalar-rasa. Kita terpaksa mencampakkan pakaian bahasa. Lalu, dengan tubuh rohani yang telanjang, kita naik mendaki ke puncak kebisuan.

Nalar-rasa, yang merupakan pintu gerbang religiositas, membuka kelopak yang selama ini menutup mata hati kita. Dan kita pun lalu mampu menyaksikan hakikat kenyataan dengan penuh penerimaan, penuh kepasrahan, penuh keislaman.

Biarkanlah pisau belati nalar-lurus terlepas dari genggaman tangan yang mengendur dan melemah, lalu jatuh berdering di lantai batu. “Di gerbang kuil,” tulis Subagio Sastrowardoyo dalam sajak Seperti Pisau Belati, “kata-kata terlalu tajam/—seperti pisau belati/yang berdering jatuh di atas batu.” Kiranya, pada momen kesadaran ini bermula apa yang kau cari-cari itu: kebahagiaan.

Bila di hadapan kehidupan yang absurd, kau mengambil sikap seperti sikap yang diambil kayon, yaitu diam, jarak yang memisahkanmu dengan kebahagiaan telah lenyap. Dalam sajaknya yang lain, Kayon judulnya, Subagio Sastrowardoyo bertutur,

Pohon purba

—di tengah hutan merah tua—

tahu akan makna dunia

maka diam

tak bicara

Aku dengar pertanyaan yang masih tersimpan dalam benakmu. Kau bertanya, kayon itu apa, bukan? Kayon adalah wayang berbentuk gunung—karena itu ada juga yang menamainya gunungan—yang menandai permulaan dan akhir lakon dalam pegelaran wayang kulit, yang juga mengisyaratkan perpindahan babak dalam pagelaran tersebut. Pada kayon, terlukis pohon kehidupan yang purba itu. Berbeda dengan boneka wayang lain, kayon tak punya dialog, tak punya kata-kata, tak punya bahasa. Bahasanya adalah diam.

Dengan bahasa langit ini, kayon menyaksikan seluk-beluk takdir kehidupan yang tergelar dalam lakon wayang kulit semalam suntuk. Dia tak pernah bicara, apalagi menggugat. Dia menerima dengan pasrah, sedikit pun tak marah, apalagi mengamuk demi melampiaskan dendam terpendam. Kayon, dialah lambang kesumarahan, sikap batin seorang muslim sejati; sebuah lambang yang mengingatkan kita pada sikap batin Baginda Ibrahim manakala dia hendak menyembelih putra semata wayangnya, Baginda Ismail; sebuah lambang yang menjadi tanda dari puncak gunung religiositas.

Dalam sajaknya yang lain, berjudul Dalang, puncak gunung religiositas tersebut dilambangkan oleh Subagio Sastrowardoyo dengan dalang yang melantunkan tembang “hong”. Saya kutip sajak indah tersebut selengkapnya.

Dalang

Pulang dari seberang pantai

lidahnya seperti kelu

dan ia tidak sedia

memainkan lagi bonekanya

Pondoknya tertutup buat tamu

Rakyat yang kebingungan

mendobrak pintunya dan berteriak:

—Kisahkan lakon hidup ini

dan terangkan apa artinya!

Terbangun dari keheningan

ia menulis sajak satu kata

yang paling bagus

berbunyi: “Hong”

“Hong” merupakan penggalan dari formula verbal yang biasanya diujarkan Sanghyang Tunggal. Tokoh wayang yang melambangkan sifat keesaan Ilahi ini seringkali memulai dialognya dengan ucapan “hong wilaheng”. Baik “hong”, “wilaheng”, maupun “hong wilaheng” adalah ujaran yang nonsens. Kita tak kunjung tahu apa arti sebenarnya dari kata-kata itu. Ketika kita mengejarnya, makna ujaran-ujaran itu sekonyong-konyong melesat menjauh dari tangkapan tangan pemahaman. “Hong” seperti kehidupan itu sendiri: nonsens, absurd, tak terpahami oleh nalar-lurus, oleh bahasa.

Dengan demikian, “hong” adalah simbolisasi nalar-rasa, diam, kesunyian, puncak gunung religiositas, atau makna kehidupan yang selamanya merupakan rahasia palung terdalam samudera hati. Hakikat kenyataan inilah yang tampaknya dinamai Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sebagai sirr al-asrar, rahasianya rahasia. Dia ada dalam rahasia. Dia hadir sebagai rahasia. Dia selamanya rahasia. Rahasia memperjumpakan kau, juga aku, dengan Sang Makna, dengan Sang Dalang. Kita adalah kata yang mengacu pada Dia. Kita adalah wayang yang dimainkan Dia.

“Hong” juga menandakan paradoks kehidupan: sebagai rahasia, makna justru tersembunyi dalam ketidak-bermaknaan. Kesia-siaan adalah cadar yang menyembunyikan wajah makna. Bila demikian, dalam alam “hong” yang suwung, di manakah perbedaan kegagalan dan keberhasilan, kekalahan dan kemenangan, kesenangan dan cobaan, tangis dan senyum, suka dan duka, kiri dan kanan, bawah dan atas, barat dan timur?

Siapa pun yang merenungi kehidupan hingga ke tulang sumsumnya demi mencari makna, boleh jadi bakal terbebas dari belenggu dualisme tersebut, sebuah belenggu jiwa yang lahir dari rahim nalar-lurus, yang adalah anak kandung bunda bahasa. Dalam ikatan ke-4 dari sajak berjudul Matahari Sudah Tua, Subagio Sastrowardoyo menyebut sosok seperti itu sebagai badut yang merenungkan dunia. Dan dalam wayang kulit siapa lagi badut itu kalau bukan Semar yang merepresentasikan kehadiran al-insan al-kamil.

Insan kamil yang datang dari pedalama

menunjukkan diri tak jantan dan

tak betina

Dari dadanya menyembul susu

dan dari perut keluar kelamin laki

Dari airmata yang bercucuran terus

tidak kentara

apakah ia menangis atau tertawa

Ia badut yang merenungkan dunia

dan berpuas seorang diri

Tengah hari ia tidur dengan bidadari

dan malam jaga berwawancara dengan dewa

Lantas, siapa pula al-insan al-kamil itu? Dia adalah cermin Ilahi yang bersihnya sempurna dan jernihnya paripurna. Dialah bayang-bayang transparan-Nya di muka bumi. Dia tidak jauh di sana. Dia amat dekat di sini. Dia potensi kemanusiaan kita yang belum kita aktualkan, atau malah sengaja hendak kita kubur dengan mencari berbagai rupa kebahagiaan semu dan mengejar berbagai macam makna palsu. Belum jugakah kau lelah, muak, dan kapok memburu fatamorgana?

Baba Juga: Lelucon Gibran

Oleh Lev Widodo

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Oktober 9, 2017

    […] Baca juga : KELANA SUNYI MENCARI MAKNA: Apresiasi Beberapa Sajak Subagio Sastrowardoyo […]

  2. Oktober 17, 2017

    […] Baca juga : Kelana Sunyi Mencari Makna […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.