Menjadi Superhero Hanyalah Impian Anak Kecil

Menjadi superhero – Dulu aku bercita–cita ingin menyelamatkan dunia. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan dengan keindahan pantai pesisir tambakboyo. Tapi dulu waktu aku masih kecil aku sangat lugu sehingga bercita–cita ingin jadi superhero, seperti halnya yang aku tonton di TV.

Menjadi superhero hanyalah impian anak kecil

by: chill kim

Pada saat remaja, aku berubah pikiran tentang cita–citaku menjadi superhero. Karena sudut pandangku dalam melihat dunia ini  sudah dipenuh dengan sihir dan keajaiban tanpa harus menjadi superhero. Sehingga patut dihargai dalam sudut pandang manapun.

Semakin dalam aku mendalami gemerlapnya dunia ini, semakin aku melihat ada sisi gelap didalam terangnya ekspantasi yang ditaburkan dalam film drama fiksi. Begitu halnya yang ada pada pesisir pantai tambakboyo, orang–orang terbuai akan kehidupan yang menurut mereka tiada kegelapan yang ada dibalik terangnya kehidupan yang ada dikota. Sehingga mereka dalam melihat film drama fiksi sudut pandang mereka menganggap itu tidaklah fiksi, namun melihatnya sepertihalnya melihat berita.

Saat mulai sedikit dewasa cita–cita menjadi superhero pun sirna. karena aku melihat orang atau diriku sendiri saat dihadapkan dengan sesuatu dengan kenyataan rumit ternyata lebih sulit dari yang aku bayangkan saat aku menonton di TV.

Aku mempelajari itu dengan dengan cara keras dalam proses sudut pandang yang luas. Sedangkan jika seseorang terjebak dalam keadaan dengan tingkat keberhasilan yang rendah, secara kebetulan mereka akan menunjukkan takdirnya yaitu hanya memohon pada tuhan untuk dipemudah dalam keadaan seperti itu.

Pada akhirnya, berdoa itu adalah tindakan akhir yang akan dilakukan orang untuk menghadapi sesuatu yang telah terjadi walaupun kemungkinan keberhasilan sangatlah rendah.

Saat aku  masuk kuliah aku mulai berpikir berbeda lagi tentang ketidak pengalamanku dalam bersosialisasi kelingkungan yang belum aku pahami. Sehingga aku mulai mencoba berteman kepada teman yang bersudut pandang realis.

Dari pertemanan itu aku mendapat kesimpulan, bahwa realis dapat mengendalikan ketidak berpengalaman, disaat ketidak berpengalaman membuat orang realistis menciptakan sebuah motivasi untuk bisa lebih baik kedepanya tanpa harus menjadi superhero.

Dalam pertemanan berkelompok pun ada berbagai sudut pandang dan pola pemikiran yang bermacam–macam. Sedangkan rata–rata orang bersosialisasi dalam kelompok, masih memegang prasangka tertentu, besar kemungkinanya untuk menyortir informasi mana yang sesuai dengan keyakinannya. Begitu lingungan sekitar terus menerus mendoktrinya untuk membenci suatu kelompok, individu, atau ideologi. Mereka akan cenderung menutup telinga terhadap kebenaran yang ada diluar keyakinanya.

baca juga: cerpen kpmrt Tuban Jogja

penunulis by: chill

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.