Al-Quran itu Mushaf?

Mushaf Al-quran. -Boleh dibilang, banyak dari masyarakat Muslim hari ini masih ogah untuk beranjak dari pandangannya bahwa al-Quran adalah mushaf. Bukti paling nyatanya, bisa kita lihat dari betapa mereka memosisikan al-Quran sebagai sesuatu yang suci dan kedap kritik, baik secara isi maupun fisik. Ketika kita meletakkan al-Quran di lantai atau sekadar mempertanyakan mengapa al-Quran kok sampai bisa memakai diksi berbau “porno”—seperti surah Yusuf (12): 23 dan 24—misalnya, tentu mereka akan segera memberikan tatapan nista terbaiknya kepada kita.

Mushaf :  Al-quran itu Mushaf ?

Mushaf : Al-Quran itu mushaf ?

Kenapa bisa begitu? Ya sebab itu tadi. Al-Quran di benak mereka sebatas mushaf. Barang siapa berani mengotak-atiknya, maka itu artinya menghina. Dan siapa saja berani menghina al-Quran, jawabannya cuma satu: neraka.

Pandangan semacam ini, oleh banyak sarjana disebut sebagai “gaya eksklusif”. Terlalu melihat al-Quran sebagai mushaf berpotensi besar menggiring seseorang pada pandangan yang eksklusif, tertutup, dan truth claim. Apakah itu salah? Secara fenomenologis, mungkin tidak. Tapi dilihat dari perspektif perkembangan keilmuan Islam, jelas itu bermasalah. Mungkin pertanyaannya begini, bagaimana mungkin keilmuan Islam dapat tumbuh subur ketika masyarakatnya saja berteriak kesakitan saat teks utamanya (al-Quran) dibedah, mengetahui bahwa ia memuat banyak sekali pengetahuan?

Nah, saya kira, itulah kegelisahan Nasr Hamid Abu Zayd—salah satunya—sampai ia memutuskan untuk menyuarakan bahwa al-Quran bukanlah mushaf. Al-Quran adalah teks. Ia adalah wacana yang sama sekali terbuka. Tercipta dalam payung kebudayaan (tasyakkul) tempat ia muncul secara berangsung—yang nantinya juga berkontribusi besar dalam pembangunan budaya baru yang lebih menenangkan hati (tasykil). Ia adalah pesan yang dikirim untuk Muhammad.

Pesan seperti apa? Pesan yang hanya bisa dipahami ketika kita mengenal pengirimnya. Atau mengenal lingkungan tempat ia dimunculkan. Mengenal bagaimana kondisi penerimanya, dan sejenisnya.  Tepat di pusaran ini, ilmu sabab nuzul menjadi masuk akal untuk senantiasa diperbarui.

 

Antara Mushaf dan Wacana

Kembali pada perkara, jadi, di sini kita penting untuk membedakan antara mushaf dan wacana dalam membaca kajian keislaman. Al-Quran sebagai mushaf konotasinya pada meletakkan al-Quran sebagai barang antik, sedangkan wacana sebagai sesuatu yang bisa dikritik, dikaji, dan bahkan ditolak eksistensinya. Apa yang ditulis kawan Idayu beberapa hari silam dengan judul “Muhammad, bukan Nabi Muhammad” murni berada di wilayah kedua, al-Quran sebagai wacana. Ia tidak lagi memosisikan al-Quran sebagai barang antik, sehingga wajar bagi saya kenapa data yang ia paparkan adalah karya para sarjana Barat yang kurang bisa disebut “menghargai tradisi (turats) dalam Islam”.

Adapun—biar objektif lah—mengenai teman-teman daerah yang menilai negatif tulisan Idayu berada di posisi pertama. Posisi al-Quran sebagai mushaf. Jadi, tidak mengherankan juga mengapa mereka sampai pada justifikasi bahwa Idayu itu seorang ateis. Lebih jelasnya, seperti disebut di muka, berada di posisi ini secara tidak langsung telah menjadikan mereka kesulitan untuk melihat kebenaran di luar dirinya. Di luar kelompoknya. Yang ada hanyalah kebenaran dalam dirinya.

Apakah mereka salah? Lagi-lagi saya harus mengakuinya: tidak bisa kita begitu saja menyebut mereka salah. Mereka memiliki alasan yang kuat—kendati berada di level nirsadar—kenapa mereka melakukan itu. Paling tidak demi keutuhan Islam itu sendiri. Keutuhan suatu agama yang mereka yakini sejak kecil. Agama yang di benak mereka senantiasa membutuhkan pembelaan, bantuan, pengorbanan, dan bahkan nyawa sekalipun. Ini adalah murni ekspresi keagamaan.Sapari

baca juga artikel  : Muhammad, bukan Nabi Muhammad

Al-Quran sebagai basis “Literasi Agama”

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Sandjaya berkata:

    Seperti bapakmu seperti juga bapak2 orang lain itu hanyalah manusia,, hanya manusia saja.
    mungkin ketika anaknya menjadi seorang intelektual yang selalu berpikir ilmiyah dan obyektif bapakmu juga bapak2 yang lain tidak akan memiliki, minimal sirah atau mutaka mereka hanya akan memiliki “Ndas” (toh sama saja), mereka tidak memiliki lagi wajah atau pasuryan mereka hanya akan memiliki “Rai”,, toh bapakmu (juga bapak2 yg lain) itu manusia, dan segala ”hirarki” bahasa itu cuman wacana saja..

  1. Oktober 22, 2017

    […] baik. “Masalahnya saat ini, belum banyak yang mau berpikir terbuka. Contoh ketika ada yang bilang Al-quran adalah dongeng, mereka langsung marah. Dikit-dikit marah, dikit-dikit marah. Marak kok dikit-dikit,” ujar Ipung […]

  2. November 10, 2017

    […] Baca juga, Yakin, al-Quran itu Mushaf Suci? […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.