Muhammad, Bukan “Nabi” Muhammad

Nabi Muhammad- Mengapa kamu tidak memakai kata “nabi” saat menyebut Muhammad dalam karanganmu? Apa maksudmu dengan penyebutan itu? Di mana letak akhlakmu? Kurang mulia apakah beliau sehingga untuk memanggilnya saja kamu langsung memakai namanya?

Nabi Muhammad Bukan "Nabi"

Ilustrasi dipinjam dari duniagames.co.id

Beberapa pertanyaan di muka adalah sebundel tanda tanya yang disasarkan pada penulis buku Pesan Kedua Muhammad ketika dibedah beberapa hari silam di LKIS oleh KPMRT. Sebagai peserta, entah kenapa, saya turut kepikiran. Apa memang iya, menyebut Nabi Muhammad tanpa kata “nabi” adalah amoral? Apa iya, Nabi Muhammad sendiri menginginkan dirinya disebut nabi? Kalau pun iya, apakah itu suatu kewajiban?

Di tengah “kepikiran” tersebut, tiba-tiba saya ingat dua nama yang disebut oleh Angelica Neuwirth, salah satu sarjana studi al-Quran yang bermazhab Jerman, dalam artikelnya, Locating the Quran in the Epistemic Space of Late Antiquity. Adalah Abraham Geiger dan Josef Horovitz. Keduanya disebut lantaran kajiannya terhadap al-Quran yang terkesan reduksi. Reduksi bagaimana? Baik Geiger atau pun Horovitz menyimpulkan bahwa al-Quran itu tidak ada. Yang ada sebatas bentuk lain dari Taurat atau pun Injil. Kenyataan bahwa bahasa serta logika yang dipakai al-Quran sangat identik dengan tradisi Bibel merupakan salah satu alasan mengapa mereka begitu.

Dengan ungkapan lain, seketika itu, muncul dalam benakku pertanyaan begini, jika al-Quran saja memiliki kemungkinan untuk menjadi palsu atau ahistoris, apakah tidak memungkinkan juga itu terjadi pada Nabi Muhammad? Apakah memang iya, Nabi Muhammad itu ada, mengetahui data sejarah yang kita pakai sebagai referensi—sekaligus yakini— seperti Sirah Ibn Hisyam danTarikh Tabari ­baru muncul pada abad 10 M? Kalau pun kita sepakati ada, bagaimana kita bisa meyakini kalau dirinya benar-benar seorang Nabi? Apakah tidak mungkin bagi beliau untuk memproklamasikan dirinya sendiri sebagai Nabi, mendapati bahwa pada kisaran tahun 610 M ada beberapa ahli agama, baik Yahudi atau pun Nasrani—keluarganya dari Khadijah—yang tengah dekat dengannya? Toh, pada sisi lain, banyak pula sejarah mencatat kalau Nabi Muhammad sendiri, sampai batas waktu tertentu, masih tidak memercayai bahwa dirinya adalah Nabi.

Mungkin saya yang terlalu berlebihan soal ini. Tapi percayalah, itu yang kurasakan. Belum lagi semisal kita setuju dengan kesimpulan Samuel Butler “God cannot Alter the Past, Though Historians Can” atau Mencken yang menyebut “Historian: an Unsuccessful Novelist”. Jadi, adalah tidak menutup kemungkinan, yang selama ini kita pahami, kita yakini, bahkan kita bela mati-matian—sampai harus merelakan untuk menuduh orang lain amoral, kafir, dan segalanya—adalah tidak lebih dari sekadar bulan di sore yang mendung. Dan akhirnya, supaya terlihat lebih meyakinkan (ehm), mari kita lihat lagi bagaimana kontroversi soal posisi al-Quran dan Muhammad di mata kalangan sarjana Barat Modern—ndak usah tanya kenapa harus Barat Modern ya, nanti malah melebar.

Apakah al-Quran muncul di Makkah dan oleh Nabi Muhammad?

Pada masa awal modern, paling tidak terdapat tiga arus utama studi al-Quran di kalangan sarjana Barat. Adalah mereka yang fokus pada adanya keterpengaruhan al-Quran atas Injil dan Taurat, mereka yang nyaman dengan kajian soal kronologi al-Quran, dan mereka yang lebih pada kandungan makna al-Quran, baik sebagian atau pun keseluruhan.

Pertama bertolak dari tujuan untuk membuktikan bahwa al-Quran tidak lebihnya merupakan gema lanjutan dari ajaran Yahudi dan Kristen. Banyak bukti usai mereka coba untuk menunjukkan bahwa al-Quran sejatinya sama dengan Taurat atau pun Injil. Pun, secara bersamaan, Muhammad adalah seorang Yahudi (atau juga Nasrani). Ada beberapa nama yang bersemayam pada kategori ini, yakni Abraham Geiger dengan Was hat Mohammed aus dem Judenthume Aufgenommen (1883), Hartwig Hirschfeld dengan Judische Elemente im Koran (1878), John Wansbrough dengan Quranic Studies (1977), dan sebagainya.

Sebagai ilustrasi ringkasnya, saya tergoda menceritakan sekilas soal pandangan Wansbrough soal al-Quran. Bagi sarjana yang nanti studinya banyak dikembangkan oleh Crone dan Cooks ini, al-Quran muncul tidak pada masa Nabi. Tapi jauh setelahnya, yaitu pada kisaran abad 9 M. Kenapa? Sebab dilihat dari cerita yang termuat dalam al-Quran sendiri, konteks saat ia muncul dipenuhi oleh perdebatan antarsekte Yahudi-Kristen yang tidak bisa disebut sederhana. Dengan ungkapan lain, Wansbrough ingin menyebut bahwa adalah terlalu terburu-buru ketika kita langsung memercayai jika al-Quran muncul di Makkah, oleh Muhammad, dan dengan masyarakat Arab Badui sebagaimana banyak digambarkan sejarawan Muslim klasik.

Di mana letak keterpengaruhannya? Pada kondisi ketika al-Quran muncul. Ia lahir saat ada perdebatan antarsekte Yahudi dan Nasrani, sehingga al-Quran hanyalah perpaduan antara beberapa (tradisi) sekte yang berdebat saat itu. Dengan begitu juga, model kemunculannya adalah sekali waktu, serentak. Bukan berangsur seperti yang kerap kita yakini. Soal ini, ada beberapa nama lagi yang berbeda dengan Wansbrough, tapi terkait, yaitu Gunter Luling dan Mingana. Luling menyebut jika al-Quran muncul jauh sebelum Muhammad lahir, sedangkan Mingana pada masa Khalifah Malik bin Marwan.

Kedua berpegang teguh pada asumsi bahwa susunan ayat dalam al-Quran murni produk pekerjaan manusia yang terlepas dari wahyu. Ini tampak, salah satunya, dari pandangan Richard Bell—dalam introduction to the Quran— yang bilang jika alasan mengapa ayat-ayat dalam al-Quran tidak teratur adalah sebab kelemahan para penyalin untuk membedakan mana awal dan mana akhir. Selain Bell, ada juga Noldeke-Schwally, Montgomery Watt, dan lainnya. Adapun terakhir ada Tosihiko Izutsu yang berbicara soal relasi Tuhan dan manusia, H. Grimme dengan teologi serta doktrin dalam al-Quran, dan beberapa lainnya.   

Sampai di sini, mungkin saya penting untuk membagikan juga. Yaitu bahwa bayanganku ketika mengetik ini adalah “kita yang mulai mencari serta mempelajari lebih dalam soal al-Quran, Nabi Muhammad, berkenaan dengan teks-teks suci lainnya”. Bukan melulu pada “makna” al-Quran. Untuk apa? Ya supaya kita memiliki alasan yang kuat kenapa kita harus marah ketika Nabi Muhammad dipanggil dengan tanpa “Nabi”. Duh, saya rasa itu.Idayu

Baca juga : Mengimajinasikan Tuhan

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. It is not my fіrst time to pay a quick visit thiѕ website, і ɑm visiting tһis
    website dailly and obtain gօod facts fr᧐m here every day.

  1. Oktober 8, 2017

    […] sesuatu yang bisa dikritik, dikaji, dan bahkan ditolak eksistensinya. Apa yang ditulis kawan Idayu beberapa hari silam dengan judul “Muhammad, bukan Nabi Muhammad” murni berada di wilayah kedua, […]

  2. November 2, 2017

    […] kewahyuan al-Quran, Quranic divine disclosure criticisme, serta tulisan Idayu yang berjudul “Muhammad, Bukan Nabi Muhammad”. Pertama, adalah tidak efektif untuk mendekati al-Quran dengan gaya pendekatan terhadap bibel. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.