Lelucon Gibran

Kahlil Gibran

Oleh Lev Widodo

Tulisan ini saya mulai dengan prasangka baik. Sebagai manusia milenial berwawasan luas yang menelusuri sudut-sudut bumi melalui sarana media sosial, saya menganggap Anda telah cukup kenal dengan Kahlil Gibran. Benar, kita tahu, dia adalah sastrawan Lebanon yang menjadi sedemikian populer di Barat karena novel mistiknya, The Prophet.

Novel yang serius sekali ini mencerminkan bayangan wajah Gibran sebagai sastrawan, pemikir, dan mistikus yang juga bertampang serius sekali. Barangkali, hanya orang gila, yang telah kehilangan akal sehat dan rasa seni, yang bisa membaca The Prophet dengan gelak tawa. Lantas, bertolak dari pembacaan atas The Prophet—satu di antara sejibun karya Gibran—kebanyakan orang buru-buru menyimpulkan bahwa Gibran adalah sosok yang serius, melankolis, romantik, dan kadang-kadang murung. Kehidupan Gibran seakan-akan asing sama sekali dari lelucon, homor, komedi, dan sejenisnya. Benarkah begitu?

Sebagaimana umumnya mistikus, Gibran pun punya selera humor yang tinggi. Humor yang dikarang dan dituturkannya bukanlah humor yang dangkal dan banal. Humor Gibran sama kuat, sama dalam, sama sofistikatis, dan sama evokatifnya dengan humor tentang Nasrudin Koja, Abu Nawas, Si Kabayan, dan Gus Dur. Kekuatan, kedalaman, kesofistikatikan, dan keevokatifan humor-humor tersebut memancar dari ruh sufisme yang terkandung di dalamnya.

Seperti halnya genre humor lain, humor sufisme juga mengandung tenaga satir, tetapi bukan sembarang satir, melainkan satir yang menggugah jiwa-jiwa yang terlelap dalam mimpi malam hari. Humor sufisme mendayagunakan hiperbola dan menampilkan tokoh karikatural tidak semata-mata demi mengejek, menjatuhkan, dan mem-bully sasaran lawakan, tetapi dalam rangka self-criticism. Tidak menudingkan telunjuk kepada orang lain, humor sufisme membujuk kita dengan amat halus untuk menertawakan diri sendiri. Ironi dan paradoks yang menjadi ciri khas humor sufisme mematahkan kejumawaan rasio kita yang kadang-kadang lupa akan batas jangkauan dan takdir kemampuannya sendiri. Ternyata, di seberang cakrawala pikiran sana, terhampar daerah sunyi mahaluas yang akal tidak sanggup menjelajahinya barang sejengkal pun.

Ada satu lagi karakter humor sufisme yang jangan sampai luput dibicarakan. Humor sufisme tidak hanya mengajak kita berpikir tentang lucunya polah tingkah manusia. Ia menenggelamkan kita dalam samudera renungan tentang kemanusiaan sebagai dimensi lahiriah dari rahasia ketuhanan. Dalam humor sufisme, sayup-sayup kita mendengar jawaban dari rangkaian pertanyaan eksistensial yang tegak kokoh walaupun diseret arus sungai waktu: Siapakah aku? Dari mana dan mau ke mana aku? Mengapa aku hidup dan mengapa pula aku mati? Apakah lakon kehidupan yang absurd tetapi juga lucu ini hanyalah kesia-siaan belaka?

Unsur-unsur humor sufisme seperti itulah yang kita temukan saat merenungi sejumlah humor karangan Gibran. Tiga humor Gibran berikut ini, Sebuah Patung, Si Pengigau, dan Gelak Tawa dan Air Mata, sebenarnya juga menampilkan unsur-unsur tersebut meskipun sering secara sembunyi-sembunyi saja. Ketiganya saya salin dari Renungan tentang Sang Khalik (2005), buku kecil garapan Penerbit Narasi yang memuat beberapa ungkapan hikmah, anekdot, dan cerpen Gibran. Semua karya Gibran yang terdapat dalam buku ini diambil dan diterjemahkan dari A Treasury of Wisdom: A Collection of the Works of Kahlil Gibran.

Sebuah Patung

Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki di sebuah perbukitan. Ia memiliki sebuah patung yang dibuat oleh seorang pematung zaman dahulu. Patung itu tergeletak di depan pintu, tertelungkup, dan ia tak sedikit pun memperhatikannya.

Suatu hari lewatlah di depan rumahnya seorang lelaki, yang tampak terpelajar, dari kota. Melihat patung itu, ia bertanya pada pemiliknya apakah patung itu akan dijual.

Pemilik patung itu tertawa dan berkata, “Ah, siapa yang hendak membeli patung jelek dan kotor itu?”

Dan lelaki dari kota itu menjawab, “Kuberi engkau sekeping perak untuk patung itu.”

Pemilik patung itu terkejut sambil merasa gembira.

Patung itu pun lalu dibawa ke kota, diangkut di atas punggung seekor gajah. Dan beberapa bulan kemudian, lelaki dari perbukitan ini turun mengunjungi kota. Ketika sedang berjalan menyusuri jalanan, orang udik itu melihat banyak orang berkerumun di depan sebuah toko. Seorang lelaki sedang berseru dengan suaranya yang lantang, “Mari masuk, dan lihatlah patung terindah, yang paling menakjubkan di seluruh dunia. Hanya dengan dua keping perak, Anda dapat melihat karya hebat dari seorang ahlinya.”

Orang udik itu ikut membayar dua keping perak untuk memasuki toko dan melihat patung yang dulu dijualnya dengan sekeping perak saja.

Si Pengigau

Di kota mana aku lahir, pernah hidup seorang wanita dan putrinya, yang mempunyai kebiasaan berjalan dalam tidurnya.

Suatu malam, ketika kesunyian menyelimuti bumi, wanita dan putrinya itu berjalan dalam keadaan tertidur, dan mereka bertemu di kebun yang tertutup kabut.

Si ibu berkata dan mengigau, “Inilah! Inilah dia musuhku! Engkau yang telah menghancurkan masa mudaku! Engkau yang telah menghancurkan masa mudaku—dan engkau yang membangun hidupmu di atas puing-puing kehidupanku! Seandainya aku dapat membunuhmu!”

Dan putirnya pun menjawab dalam igauan, “Kau wanita terkutuk, tua dan licik! Engkau yang telah memisahkan diriku dari kebebasanku! Engkau pula yang menjadikan hidupku tiruan hidupmu yang gagal! Seandainya engkau mati sekarang!”

Dan tepat saat itu, seekor ayam jantan berkokok, dan kedua wanita itu terbangun. Si ibu berkata dengan lembut, “Apakah itu engkau anak manisku?”

Dan si anak menjawab, “Betul, ibuku sayang.”

Gelak Tawa dan Air Mata

Pada sebuah sore di tepian sungai Nil, seekor hyena bertemu dengan seekor buaya. Keduanya berhenti dan saling mengucapkan salam.

Hyena berkata, “Bagaimana kabar Anda, Tuan?”

Buaya menjawab, “Nasibku hari ini sangat buruk. Aku sering menangis dalam penderitaan dan kesedihanku. Tetapi, makhluk-makhluk lain selalu berkata, ‘Itu hanyalah air mata buaya’. Sungguh tiada terkira betapa sakit diriku mendengar perkataan itu.”

Lalu heyna menyahut, “Anda hanya mengeluh tentang penderitaan dan kesedihan Anda sendiri. Pikirkanlah juga penderitaanku ini sejenak. Aku senang melihat keindahan dunia ini, dengan keanehan dan keajaibannya. Dan karena suka citaku itu, aku tertawa seperti halnya dunia ini yang bersuka ria. Namun, orang-orang di dalam rimba hanya menganggapnya ‘Itu hanya tawa heyna saja’.”

 Jauhkanlah diriku dari … … … filsafat yang tak pernah tertawa

(Kahlil Gibran, dalam Segenggam Pasir Pantai)

 

Baca juga : KELANA SUNYI MENCARI MAKNA: Apresiasi Beberapa Sajak Subagio Sastrowardoyo

*Lev Widodo, kontributor tetap tubanjogja.org

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.