Vaksinasi Terorisme (Bagian I)

Vaksinasi Terorisme (Bagian I)

Ilustrasi diambil dari http://www.strategic-affairs.com

tubanjogja.org.-terorisme.  – ISIS adalah salah satu jenis virus sosial yang mengalami transmutasi paling mutakhir. Medan yang becek oleh pergesekan antar kekuatan global demi rebutan SDA dan pasar, ditambah limbah busuk perseteruan purba bernama SARA, menjadi lahan subur bagi merebaknya kuman-kuman yang menjadi inang bagi kehidupan virus itu. Dan ketika batas-batas keruangan itu mulai dilipat akibat proses menuju revolusi teknologi tahap keempat, virus ISIS memanfaatkan itu dengan baik, sehingga dengan mudah menyebarkan teror kemana-mana, terorisme menyesaki udara di sekujur bumi.

Berakhirnya perang dingin (1991), memang membuat Barat (terutama Amerika) sejenak di atas angin. Amerika merasa menjadi pengendali dunia, terutama karena jadi pengendali terhadap teman-teman bermainnya dalam NATO. Tapi kemudian hilangnya musuh membuat NATO kikuk. Tapi Amerika yang hiperaktif karena kelebihan energi, tak kurang akal dalam mencari permainan baru. Ditebarlah wacana globalisasi (Toffler, kemudian Friedman), liberalisasi pasar dan demokratisasi (Fukuyama dan Huntington), sampai dengan benturan peradaban (Huntington), yang intinya adalah suatu keangkuhan bahwa the west was the best and the rest had to follow (Ronaldo Munck). Dan dibalik wacana-wacana itu sesungguhnya adalah soal penguasaan SDA dan pasar, dan hendak mengukuhkan diri sebagai penguasa dunia lewat Pax Americana.

Namun, negara-negara Eropa rupanya membuat area bermain baru lewat perjanjian Maatschap (1992) yang menjadi cikal-bakal Uni Eropa. Sesuatu yang membuat Amerika merasa ditinggalkan. Tapi Amerika tetap meneruskan langkahnya dengan terus mencari permainan-permainan baru agar NATO tetap bisa ia ajak bermain dan berbagi hasil permainan. Maka gejolak Timur Tengah yang ada hingga saat ini, adalah memang ulah permainan mereka. Gejolak itu dijalankan di Irak, Afganistan, Libya dan terakhir Syuriah, dengan tetap memanfaatkan Israel dan Saudi Arabia sebagai pangkalannya. Polanya sama, rezim-rezim yang menguasai mereka dianggap diktator yang menindas rakyat, sehingga harus dipaksa untuk demokratis dengan berbagai cara. Dari proses itulah, terorisme kemudian lahir sebagai bentuk perlawanan yang paling mungkin terhadap Amerika yang diteropong sebagai pusat kemerosotan moral, sebagaimana tragedi 9/11 oleh Al-Qaeda.

Namun, rupanya ruang bermain di Timur Tengah yang semula mulus, kini mendapat tantangan. Rusia dan China yang mulai bangkit dan membuat SCO (2001), di Timur Tengah menggandeng Iran untuk bermain. Hasilnya sangat signifikan dengan bukti bahwa Bashar Assad (Suriah) bisa bertahan. Itulah yang membuat Amerika dan Inggris kewalahan, apalagi UE tak lagi nurut kemauan mereka selain malah nampak mesra dengan SCO—sesuatu yang turut menjadi pertimbangan keluarnya Inggris dari UE (Brexit). Belum lagi mereka tak berdaya membendung serbuan pasar dari produk-produk China, dan serbuan kaum imigran. Sehingga langkah-langkah defensif (yang menunjukkan kelemahan mereka) seperti America First (Trump), dan kebijakan ketat atas imigran, mereka laksanakan.

Di tengah benturan kepentingan diatas itulah, virus terorisme yang muncul sebelumnya sejenis Al-Qaeda, kemudian mengalami transmutasi, dengan bentuk paling mutakhir adalah ISIS. Kalau dulu sasaran utama Al-Qaeda adalah “negara kafir,” ISIS bergerak di wilayahnya sendiri dengan menghancurkan sesiapa yang tidak mendukung kemauannya. Maka wajar jika ISIS menyerang secara brutal “saudara-saudaranya” sendiri. Selain itu, ISIS betul-betul memanfaatkan hasil dari pesatnya perkembangan IT, sehingga propagandanya sangat apik, baik yang berbentuk tulisan maupun video yang mereka sebar kemana-mana. Dari propaganda itulah, berduyun-duyun “kuman-kuman” datang untuk menjadi inang di lahan yang becek penuh comberan tadi.

Melihat virus ISIS itu, grup Amerika memanfaatkan betul keberadaannya. Dimana-mana grup AS teriak perang terhadap terorisme, tapi disisi lain memberi ruang gerak berupa lahan becek, dan menyebar kuman-kuman yang terus mereka hidupi dari dua sisi. Satu sisi lewat Saudi dan lembaga-lembaga penyokong wahabisme, sementara sisi lain berkampanye soal pluralisme terutama pada kelompok-kelompok liberal. Keduanya adalah sejalur meski nampak bertentangan. Alur itu bernama kesibukan yang sama: agama. Nampak kesamaan pendapat mereka soal terorisme: yang pertama menganggap terorisme adalah bagian perjuangan atas nama agama, yang liberal bilang bahwa terorisme adalah soal salah tafsir agama. Ya, lewat kedua kelompok “binaan” Amerika inilah diskursus keagamaan menjadi sangat gaduh mendominasi jagad media.

Vaksin Macam Apa?

Dalam kajian mikrobiologi virologi, virus sangat sulit (atau belum bisa) dimatikan. Ia hanya bisa dilemahkan dan ditundukkan dengan antivirus, dan peningkatan imunitas tubuh. Sebagai virus, ISIS sangat sulit dimusnahkan. Ketika Suriah (dengan bantuan Rusia, dan Iran), Irak dan pejuang Kurdistan, disana berhasil memporak-porandakan ISIS, yang terjadi adalah ia berdiaspora, mencari inang-inang baru di seluruh dunia. Sementara tempat paling kondusif bagi para kuman adalah lahan yang becek oleh konflik perebutan SDA dan pasar, serta SARA.

Dari situ bisa dipahami jika ISIS yang menyebar itu, menemukan tempat bergiatnya pada daerah-daerah konflik. Ke barat ada Afrika, dimana Libya masih tak jelas, militan Islamis di Tunisia dan Mesir menguat, dan Boko Haram masih mencengkeram. Ke Timur ketemu medan bernama Rakhine, Patani, dan Mindanao. Di Indonesia mungkin belum menemukan tempat yang tepat. Lahan Indonesia memang becek oleh perkelahian politik antar elit, yang juga memanfaatkan isu SARA. Sehingga kuman-kuman banyak bertebaran yang tinggal selangkah lagi siap jadi inang. Sementara banyak gerakan anti-terorisme, baik dari unsur pemerintah maupun warga sipil, hanya menganggap bahwa terorisme adalah sekedar kebodohan dalam menafsir ayat suci belaka, atau malah dianggap sekedar terlalu khusuk beragama sehingga perlu dimoderasi.

Hal diatas berarti bahwa ancaman terorisme itu memang nyata, tapi selalu disalahpahami. Sementara hasil dari kesalahpahaman adalah memperuwet keadaan yang sudah ruwet. Contohnya, ketika terdengar Muslim Rohingya dibantai, respon sebagian muslim adalah “kita harus jihad melawan kafir di Myanmar,” atau “cabut nobel perdamaian Aung San,” atau “kita putihkan Borobudur.” Yang sebagian lagi menyuruh introspeksi diri, bahwa fundamenalisme agama apapun akan menindas agama lainnya. Toleransi dan pluralisme solusinya. Sementara respon aparat pemerintah tak kalah lebay dari kedua golongan diatas.

Jadi, kemudian pertanyaan ini muncul: vaksin macam apa yang tepat? Jawabannya ada pada bagian selanjutnya.

 

Taufiq Ahmad

Bogor, 16 September 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. November 10, 2017

    […] Baca juga : Deradikalisasi, Pentas Dagelan yang Menggelikan  dan Vaksinasi Terorisme […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.