ANCAMAN POLITISASI ISU ROHINGNYA

ANCAMAN POLITISASI ISU ROHINGNYA

Warga Rohingnya yang mengungsi ke banglandesh, sumber: kompas.com

Oleh, Arif Budiman

Tubanjogja.org. Rohingya. Tragedi kemanusiaan di wilayah Rakhine Myanmar kini menarik perhatian Dunia Internasional. Pasalnya, peristiwa yang terjadi sudah menciderai nilai-nilai kemanusiaan seperti pembataian, persekusi dan diskriminasi terhadap Etnis Muslim Rohingnya. Terlebih, tindakan itu di lakukan secara langsung oleh Otoritas Myanmar terhadap Etnis Muslim Rohingnya. Tak ayal, kasus ini mendapatkan kecaman dari pelbagai negara salah-satunya Indonesia. Tetapi, di sisi lain isu Rohingnya kembali di manfaatkan menjadi alat politik oleh sekelompok orang dan organisasi baik organisasi politik maupun organisasi ekstrim islam.

Melihat peristiwa memilukan ini, terdapat beberapa hal yang menyita perhatian masyarakat khususnya Indonesia. Pertama : Isu Rohingnya yang berkembang di tengah masyarakat sudah  bergeser substansinya yakni dari “aksi kemanusiaan” menjadi “aksi politik” untuk menyerang pemerintahan. Pada saat bersamaan, permasalahan ini masih menjadi pekerjaan rumah yang masih belum terselesaikan.

Kedua : Islam Ekstrim sudah memaksakan isu Rohingnya ke arah isu Agama untuk menyerang kelompok minor Budha. Jelas saja kelompok demikian merupakan kelompok yang tidak berperikemanusiaan melebihi tragedi di myanmar. Karena, kelompok ini akan melahirkan konflik antar kelompok masyarakat. Sebenarnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah cerdas dan melek media sehingga isu agama sudah tidak relevan untuk di jadikan alat pemecah belah. Padahal, kelompok ini sudah memiliki pengalaman sebelumnya yaitu melalui aksi-aksi bela agama yang tidak mendapatkan respon positif dari masyarakat.

Fakta isu Rohingnya yang berpotensi konflik antara muslim-Budha. Di Indonesia sudah mulai terlihat terang terbukti, seperti banyaknya Tweet dan komentar di media sosial yang memuat konten-konten provokaif. Selain itu, banyaknya panflet dan spanduk yang bertebaran di jalanan juga menjadi ancaman serius. Sebab, hal ini pernah terbukti pada tahun 2012 lalu dengan adanya pernyataan Tim Pengacara Muslim (TPM) Aceh yang meminta Pemerintah Aceh untuk menutup sementara Vihara Budha di Banda Aceh. Selanjutnya, pada 2 juni 2015 publik pernah di hebohkan oleh selebaran provokasi berbunyi “desakan untuk tidak tinggal diam membiarkan para bhiksu merayakan Vesak (Waisak) 2559 di Candi Borobudur”. Lucunya, aksi kepung Borobudur kini mencuat kembali dan kedua kalinya gagal. Terang saja, masyarakat sudah sadar bahwa kelompok-kelompok Islam Ekstrim ada di balik aksi-aksi tersebut.

Saat ini, isu rohignya seperti badik bermata dua. Di satu sisi masyarakat dapat mengambil manfaat Positifnya bahwa kemanusiaan adalak kemutlakan seyogyanya harus di junjung tinggi. Tetapi, pada sisi lain dapat menjadi ancaman serius di tengah masyarakat dan negara. Pengalaman sudah memberikan pelajaran berharga, konflik atas nama Ras, Suku, Agama dan Antar Golongan (sara) seringkali pecah. Masih segar diingatan kita, tragedi pembantaian 1966 30S/PKI, Reformasi 1998 dan pemilihan umum (pemilu) presiden pada 2014 dan Pilgub DKI yang menyeret Basuki Cahya Purnama ke penjara. Pada gilirannya kita semua sadar bahwa kejadian-kejadian yang pernah terjadi sebelumnya adalah politisasi.

Namun, menjadi penting peran negara dalam merumuskan langkah-langkah agar kelompok demikian tidak secara liar menebarkan kebencian. Karena jika negara membiarkan kelompok ekstrim ini berkeliaran menyebarkan provokasi terhadap masyarakat niscaya pancasila sebagai dasar bernegara dan kebhinekaan sebagai perekat keberagaman akan menjadi sirna dan tak bermakna. . Hal senada pernah disampaikan oleh H.M Idham Samawi Anggota DPR/MPR RI ketika menjadi narasumber di UIN Sunan Klijaga pada saat sosialisasi 4 pilar MPR yang mengatakan pancasila adalah dasar bernegara sebagai bintang penuntun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Harapannya, masyarakat membuang jauh-jauh sifat kebencian. Karena tidak terdapat satu ajaran pun yang mengajarkan umatnya untuk menzolimi umat lainnya.  Jika, kebencian terhadap kelompok itu masih terjadi berarti secara sadar hal tersebut menodai Ayat Al-Qur’an yang bunyinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang di perolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-ngolok. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mengolok-ngolokkan perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari pada perempuan yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”. (QS. AI-Hujarat :11)

Sebagai umat beragama maka jagalah kerukunan karena menjaga kerukunan adalah sebagian dari keimanan.

Yogyakarta, 2017.

baca juga : alkacong-dan-alklimis

Arif Budiman

Ketua III Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cab. DI.Yogyakarta
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.