Pintu Tamasya ke Taman Santa Cruz

Oleh : Nafisa fiana

 

Hidup saja denganku, aku bisa membuatkan rumah dari kaca jernih tanpa harus menghafal mantera-mantera. Kau begitu jelita, jangan ingin kembali pada ketiadaan.

Sudah lama aku mengamati perempuan itu, matanya biru dan kulitnya putih bersih, tampaknya dia peranakan bangsa lain, atau peninggalan kolonial dari gundik perawan lokal. Perawakannya yang tinggi selalu membuat tubuhnya tampak serasi memakai pakaian apapun.  Cantik. Sayangnya banyak orang yang menjauhinya, entah apa alasannya aku belum tahu pasti. Akhir-akhir ini aku sering saling sapa dengannya, Abella namanya. Barangkali kau ingin kenal dengannya.

Sudah beberapa hari aku sama sekali tak melihatnya berjalan di koredor perpustakaan. Aku tiba-tiba berfikir banyak tentang Abella. Mulai dari dia tinggal dimana, dia sekarang ngapain, kenapa beberapa hari tak terlihat di sekolah, apakah dia baik-baik saja, apa yang kau rasakan, ada apa di balik nanar matanya dan ah…… siapa sebenarnya kau Abella ? aku semakin penasaran.

Kemudian  aku mencari-cari akun facebooknya, karena waktu itu belum ada instagram, path, BBM atau apalah. Abella… Abella… Abella… yap !!! aku menemukan akun bernama Abella dan banyak sekali. Akhirnya aku menelisik satu persatu dan aku menemukan sebuah akun yang paling berkemungkinan bahwa itu akunnya. Aku melihat-lihat dinding kronologinya, tak banyak foto-foto seperti perempuan pada umumnya, hanya foto-foto bangunan tua yang unik dan tampak bersejarah.

Disana ada sebuah foto yang sangat menarik. Sebuah bangunan tinggi seperti dalam serial negeri dongeng, lalu perempuan berjubah hitam memakai flower Crown dikepala dan rambutnya yang tergerai dalam foto itu. Oh… Abella kau begitu jelita tapi kemana kau sekarang ? apa kau sudah pindah kampus atau kau tak betah disini ? aku ingin mengenalmu.

Dalam setiap postingannya dia selalu mengakhiri dengan kata “Alohomora” yang kutahu kata itu adalah sebuah mantra, dia mencantumkan kota Sevilla sebagai kelahirannya. Sudah kuduga, dia bukan perempuan pribumi.

Suatu sore dengan senja berwarna saus tomat, aku duduk sambil membaca buku di taman depan gereja. Kupikir tak ada salahnya jika kucoba sensasi menikmati taman kesukaan Abella.

“Kau juga akan mengusikku seperti orang-orang yang lain…? melihatku berbeda dan akan menjauhiku pada akhirnya…,’’ aku terkaget dengan kedatangan Abella yang sangat tiba-tiba setelah beberapa hari aku tak melihat batang hidungnya sama sekali.

“A….a aku tak mengerti dengan maksudmu, aku hanya duduk disini sedari tadi” jawabku dengan tergugup-gugup.

“Pergi dari tempat ini atau aku akan memaksamu,” sambungnya dengan mata memerah.

Aku ketakutan dengan kata-katanya yang begitu sergap, kemudian aku menyadari bahwa ini tempat paling sering dikunjunginya dan setahuku kali ini hanya aku yang duduk di kursi taman ini selain dia. Aku lalu meminta maaf padanya, meskipun aku tak begitu tahu apa alasan kemarahannya.

“Apa kau tak mengerti sesiapa yang menjauhiku karena aku aneh, aku menyukai taman dan kursi ini dan tak siapapun boleh berada disini,” katanya.

Aku lalu meminta maaf untuk hal yang menurutku juga aneh. Lebih dari itu, aku merasa penasaran dengan dia.

“Jadi apakah aku juga harus menjauhimu atau menganggapmu aneh juga…?” kataku.

Dia terdiam, dua detik kemudian berkata “ itu hakmu..!!”.

“Kalau begitu beri aku waktu untuk benar-benar menganggapmu aneh dan memiiki alasan untuk menjauhimu,” timpalku.

*

Jika hanya karena hal demikian dan orang-orang menjauhi Abella aku rasa bukan, sebab nyatanya masih ada tempat duduk dan taman yang kian lebih menarik dari tempat itu. Atau ada apa dibalik kursi besi tua berwarna putih itu ? ah kursi itu tak jauh berbeda dengan yang lainnya. Lalu apa sebenarnya yang tak kutahu.

Aku lalu beranjak menuju taman yang sering  didatangi Abella, nampak disana dia sedang duduk dan membaca buku. Aku pikir tak ada salahnya jika aku menempati kekosongan kursi di sebelahnya. Aku duduk, dia berdiri dan seperti ingin beranjak, aku menahan langkahnya dengan meraih pergelangan tangannya. Tapi apa yang terjadi? aku terpelanting jatuh ke tanah seketika dia berusaha melepas tangannya dariku. Ah.. kupikir ini terlalu magic untuk perempuan dan Abella pun. Aw… sakit sekali pantatku.

“Aku sudah bilang, aku tak menyukai ada orang memasuki taman ini apalagi duduk di kursi ini termasuk kau..!” dia seolah mengutukku.

“Ayo mari kuantar kamu untuk pergi kemanapun yang kau mau” kataku.

Dia kemudian terperangah dan “maksudmu…?” katanya. “sepertinya kau kehilangan sesuatu atau ingin mendapatkan sesuatu, aku mau membantumu atau aku hanya terlalu serius dengan status-status facebookmu. Apa itu Alohomora?”.

Dia lalu duduk dan aku juga. Aku menunggu-nunggu dia berkata tapi dia hanya diam dan termangu.

“Aku hanya tak betah tinggal disini aku ingin kembali bersama teman-temanku yang dulu” hanya itu yang dikatakan tak panjang lebar kemudian dia pergi.

“Hey…. Abella ini buku catatanmu tertinggal…!!!” aku berteriak dan dia terus berlari, sepertinya suaraku termakan angin sehingga dia tak mendengar.

 

**

Rembulan pecah. Begitu terang dan tak terlalu dingin malam itu. Tapi tak begitu menyenangkan jika malam yang indah selalu mengingatkannya pada ketiadaan. Dia merasa jangar, malam itu benar-benar merasa ingin kembali dengan teman-temannya yang dulu, disebuah sekolah yang sangat dia senangi dan orangtuanya juga.

Baru sekitar tiga tahun dia pergi dari sekolah dibawah naungan kementrian sihir karena sebuah kesalahan yang dia lakukan sehingga dia harus di keluarkan dari sekolah itu. Biasanya dia selalu menulis ketika merasa terpuruk, tapi kali ini tidak, dia mencari-cari buku catatannya tapi tak ditemukan.

Dia ingin pergi ke kota Santa Cruz di Sevilla bertemu dengan ayah dan ibunya. Sudah tiga tahun dia tinggal di Indonesia sendiri karena sebuah hukuman yang diberikan kepala sekolah sewaktu dia melanggar aturan di sekolah sihir, dia harus menjalani hukumannya sendiri. Ia tak boleh lagi kembali ke sekolah itu selama-lamanya. Ibunya adalah seorang  muggle  yaitu bukan keturunan keluarga penyihir, atau memiliki bakat penyihir sejak lahir. Tetapi dia adalah seorang penyihir hebat dan bahkan menjadi anggota kementerian sihir.

Tepat  jam 12 malam dia berjalan menuju taman yang sering didatanginya di dekat gereja. Malam begitu sepi dan derap langkahnya yang berirama. Ia menoleh kekiri dan kekanan, gelap, hanya lampu jalanan dan bayang-bayang patung yesus terkena sorotan lampu di gerbang gereja. Ia menuju kursi. Ia kemudian menggeser kursi yang ada di taman itu, dia kemudian membaca mantera  Alohomora. Lalu tanah itu membelah, membentuk sebuah kubangan dan terdapat tangga turunan.

Lelaki itu mengintip Abella dari kejauhan, dia terkejut, ternganga melihat Abella dan suatu hal yang magic. Setelah Abella memasuki lorong pintu itu kemudian tanah itu rata seperti semula, seperti tak terjadi apapun. Cerdik. Dia kemudian membuka-buka buku catatan Abella yang dibawanya, lalu mengikuti mantera itu“Alohomora”  tanah yang di pijakinya kemudian bergerak-gerak.

Amazing… dia kemudian memasuki pintu itu dan wusss…….. dia terbang kencang seperti dilempar begitu saja, dia merasa seperti burung-burung melihat bangunan-bangunan indah dari ketinggian, terkadang pandangannya terhalang awan. Begitu sampai, dia lalu terjatuh. Laki-laki itu menoleh kebingungan, tak ada siapapun disitu, ini hal yang ajaib dalam hidupnya.

Dia kemudian berjalan dan terus berjalan, ternyata dia berada di kota Santa Cruz, disebuah kuil dilihatnya seorang laki-laki dan dua orang perempuan duduk pada satu kursi panjang. Sepertinya mereka sedang sangat bahagia, perempuan yang ditengah itu menyandarkan kepala di pundak laki-laki yang berada duduk disampingnya.

“Abella kau mengajakku tamasya”.

 

*Nafisa adalah aku, sedangkan Fiana adalah seorang perempuan dalam puisi dan aku menyukai.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.