Bintang-bintang Putih di Genggaman

Oleh: Joko Gembili

 

Aku terkapar di bawah pohon beringin besar beralasan koran-korang lusut. Telingaku yang menyentuh tanah seperti mendengar suara semut-semut membicarakanku, atau bisa jadi menertawakanku. Kusobek sebagian koran yang terdapat huruf-huruf besar itu. Tertulis: TUBAN AMAN.

Pandanganku samar-samar. Kelopak mataku menciut. Tubuhku terasa gemetar. Bangku, pohon-pohon, pejual asongan malam, banci-banci, tukang becak, pengemis, pemulung, jari-jariku, semua terlihat menjadi dua, terkadang terlihat seperti menari-nari, terkadang juga seperti mengejekku.

Tak ada hal lain di pikiranku. Hanya senang dan pikiran tenang saja. Ternyata segenggam karnopen yang aku minum tak sia-sia seperti biasanya. Entah sekarang ini jumlahnya yang terlalu banyak atau campuran-campuran lainnya yang juga ikut lebur dalam perutku.

Kakiku terasa gemetar. Kuangkat perlahan. Aku duduk. Melihat pemulung mengendong anaknya. Melihat banci dengan gendangnya. Aku mencari sepasang sendalku yang entah kemana. Aku berdiri dengan keadaan tubuh gemetar, tapi masih dengan pikiran tenang, masih senang, masih tanpa beban. Satu sendalku kutemukan. Kuraba tanganku yang gemetar ini, tak sadar dan tak terasa ternyata terdapat bintik-bintik yang entah itu warnanya merah atau biru, atau bisa jadi kuning, hitam, coklat. Ah, Cuma semut-semut kecil yang menggigitnya. Aku meraba semak-semak di belakangku. Agak basah. Baunya pesing. Mungkin bekas kencingku tadi.

Aku menemukan kedua sendalku. Kuletakan di depanku. Untuk memakai kedua sendal ini memerlukan waktu beberapa menit, kurang lebih dua menitan. Bukan karena terlalu rumit sendal ini, tetapi karena bayangan-bayangannya yang berubah menjadi banyak.

Seseorang mengenakan baju merah dengan sepatu hak tinggi menghampiriku. Tidak dengan gendang. Tidak juga menyandang tas. Biarpun mata ini sudah kehilangan kontrol tapi aku masih bisa meyakinkan kalau yang berjalan mendekatiku ini adalah seorang wanita, wanita bertubuh seksi. Bibirnya terlihat merah, rambutnya panjang, sebahu. Tetapi ternyata perkiraanku salah. Memang benar dia seorang wanita dengan paras menawan. Tapi bukan menghampiriku. Menghampiri orang berbadan kekar dengan jaket hitam, dan sepertinya mereka sudah janjian.

Malam sudah terlalu tua. Angin semakin berasa menusuk pori-poriku. Aku berjalan ngelantur. Kuambil rokok dalam saku. Aku tak sadar kalau korek apiku jatuh entah di mana. Terpaksa untuk menyalakan rokok aku harus meminjam korek api.

“Se se sejak kapan Bapak nariik becak?” tanyaku membuka percakapan sambil tergagap-gagap.

Orang itu tersenyum kecil, tapi tidak menangapi pertannyaanku.

“Te te terimaaakasih, Ppppak.” Kataku lalu pergi.

Aku berjalan sempoyongan. Berharap ada seseorang yang aku kenal lalu menghampiriku. Tetapi sudah tenggah malam. Tak mungkin juga ada. Kuputuskan saja untuk menghampiri banci yang tenggah duduk dengan menaruh muka penuh harapan.

“Haiii. Ganteeeng,”

Aku tak membalas menyapanya. Hanya saja kini aku duduk di sampingnya.

“Ganteng kesepian?”

Aku diam.

“Mau eke temenin?”

Aku tetap diam.

“Ajakin ke tempat sepi doong,”

Aku masih diam. Aku malah merasa geli. Tadinya aku berharap bisa menawari obrolan yang menarik. Tentang kehidupan seorang banci. Tentang bagaimana rasanya menjadi bancai. Tentang bagaimana rasannya dikejar-kejar Satpol PP. Tapi entah kenapa, setelah aku duduk di sampingnya mencium bau parfumnya dan mendengarkan suaranya aku malah terasa geli. Mungkin mabukku sudah sedikit menghilang.

Terdengar suara motor lalu-lalang. Peluit yang nyaring di telingku. Hangat menyentuh ujung kaki sampai ujung rambut. Suara sepatu, sendal, obrolan orang, teriakan kondektur, sangat jelas di kupingku.

Aku sudah sadar. Kudapati sandalku yang jauh dari tempatku tertidur. Aku merasa anuku sudah tak tahan menahan cairan yang memberontak ingin keluar. Tetapi semua tempat terdapat banyak orang. Aku tak bisa kencing sembarangan seperti tadi malam. Rasa maluku sudah kembali bersarang. Ketenanganku sudah tertidur lagi. Tak mungkin aku kencing di sini, bisa-bisa dianggap orang gila, atau orang yang baru gila.

Tepat pukul satu siang aku bertemu salah seorang tetanggaku. Aku memintanya untuk mengantarkanku pulang. Di rumah kelihatan biasa-biasa saja. Sepertinya semalam tak ada yang mencemaskanku.

“Kapan kamu daftar sekolah?” tanya Kakak.

“Besok,”

“Di mana?”

“MAN.”

“Bagus. Kasih tahu Kakak kalau ada apa-apa. Dan jangan lupa kasih tahu ibu dan bapak!”

“Siap.” Kataku mengakhiri.

Keesokannya, aku mendatangi sekolahan yang akan kudaftari. Gedungnya besar. Mungkin di sini aku bisa merubah haluan hidup. Kumpul bersama orang-orang baru. Aku sengaja masuk ke sekolahan yang berbasis keagamaan. Di dalam hati yang paling dalam ada sedikit rasa ingin mengakhiri kekonyolan ini. aku masih muda, baru hilang ingus. Aku tak mau terjerumus semakin dalam.

“Slamat, kau lulus tes, Nak.” Kata seorang guru.

Aku pulang, pulang membawa kabar gembira.

Mak, aku lulus tes,”

“Berapa biaya yang perlu dikeluarkan?”

“Satu juta delapan ratus ribu, Mak,

“Tak ada yang  lebih murah? Tak bisa minta keringanan. Atau biaya siswa?”

“Tidak,”

“Cari sekolahan yang lebih murah!”

Yah, aku bisa memaklumi keadaan. Karena memang ekonomi rumah tak memungkinkan. Bapakku seorang buruh tani. Ibu hanya pegawai gudang dengan upah duapuluh lima ribu perhari. Aku harus mencari sekolahan baru sebelum pendaftaran ditutup.

Di TJP, SMK 1, semua sama. Rata-rata biaya masuk satu juta ke atas. Ah, tai!

Sebotol minuman mungkin bisa mendatangkan ketenangan. Cukup berdua saja dengan botol, tak dengan teman. Di tempat biasa aku meminumnya hinga tak tersisa setetes pun. Kutunggu sampai sejam, tak ada reaksi, hanya saja aku terus-terusan kencing. Aku masih benar-benar sadar. Aku masih dengan mataku yang begitu jelas untuk melihat seorang bapak-bapak dengan seragam kantornya membukakan pintu mobil kepada seorang wanita dengan rok mininya. Aku berjalan menuju tempat penjual karnopen langgananku. Dalam perjalanan langkahku menjadi pelan setelah melihat soerang Polisi berunding dengan salah seorang yang melanggar lalulintas. Telinggaku sempat mendengar kata damai dari mulut polisi itu. Mataku juga sempat melihat uang berwarna biru disodorkan dengan hati-hati.

Aku masih berjalan di trotoar. Menyapa para pedagang kaki lima. Menyapa bapak-bapak tua yang duduk di atas becaknya. Melihat muda mudi sepertiku dengan pasangannya. Aku juga sempat membantu ibu-ibu menaikan barangnya ke atas motor.

Dari kejauhan, terlihat mobil polisi parkir tepat di depan penjual karnopen langgananku. Ah, tai, hal biasa, batinku. Aku tak perlu cemas. Aku akan menunggu Polisi itu beranjak dari situ, lalu akan membeli karnopen.

Uangku cukup untuk mengantongi 20 butir karnopen. Aku meminum semua itu. Kurasakan dosis yang mulai bekerja begitu manjur. Aku merasa sempoyongan, kakiku gemetar, jari-jariku, bibirku, tubuhku, semua gemetar. Kukeluarkan rokok dalam saku. Kunyalakan. Kuhisap sangat dalam. Kukeluarkan asap putih yang mengumpal ke udara. Kembali kuhisap lagi. Kukeluarkan lagi. Terjatuh, dan kuambil kembali.

Aku duduk di trotoar sambil memeluk lutut. Dari kejauhan terlihat mobil dangan lampu biru di atasnya.

“Tangkaplah aku, aku yang sedang mabuk berat ini. lalu buatlah laporan; seolah-olah kau petugas yang telah menjalankan tugas dengan baik, memberantas korupsi, memberantas narkoba, mengerebek bandar-bandar di kota ini, membersihkan kotoran-kotoran sepertiku . Tangkaplah aku, seolah-olah kau telah melakukan pengejaran bandar naorkoba dengan susah payah. Kalau perlu tembaklah lututku ini, biar seolah-olah akulah bandar tengik yang susah untuk ditangkap. Lalu buat laporan lagi; Polisi telah menangkap seorang bandar dengan adu tembak. Atau; bandar berusaha melarikan diri dan terpaksa Polisi menembak di bagian lutut.”

Brakkk… lamunanku buyar. Aku melihat darah berceceran di depanku. Sepasang kekasih jatuh dari motornya akibat menghindari kucing yang tenggah menyebrang. Aku tak menghampirinya. Aku takut akan darah. Darah akan menyadarkanku dari mabuk. Mobil Polisi yang tadi aku lihat juga sudah tak ada lagi. Dengan langkah sempoyongan, aku berjalan mencari tempat yang tenang.

Aku menemukan tempat yang menurutku mampu membawa ketenangan. Tak begitu ramai, tak juga terlalu sepi. Tak ada keributan suara motor.

“Rokok,” salah seorang datang menghampiriku dan menawariku rokok. Dari langkah kakinya sepertinya ia juga tengah mabuk.

“Kau berhasil melarikan dari Polisi itu?” tanyanya.

“Aku tak sedang dikejar Polisi,”

“Untunglah. Polisi itu mengawasiku keluar saat membeli karnopen, lalu mengejarku. Unutng saja aku berhasih lari.”

“Mereka takut tak dapat setoran.”

“Maksudnya?”

Kami berbincang lama. Terbawa suasana malam. Semua terlupakan. Aku sudah tek memikirkan sekolah lagi. Sekolahan tak menerima orang misikin sepertiku. Mungkin derajat mereka akan turun kalau tahu muritnya yang miskin sepertiku, yang nantinya malah menyusahkannya saat di tarik SPP. Oh, ya. Aku hanya anak miskin yang baru tumbuh remaja dan suka mabuk. Eh, tapi dalam hati kecilk untuk mengihilangkan kebiasaan ini masih ada, masih selalu membisiki.

“Berita hari ini: Polisi berhasil menangkap bandar besar karnopen. Tuban tentaram, pemabuk semakin berkurang. Semua bandar di gang-gang telah berhasil mereka sapu dengan bersih. Lima pejabat yang tenggah korupsi berhasil mereka sadap, kini telah menjalani hukuman di balik jeruji. Oknum-oknum pungli tertangkap semua. Tuban benar-benar bersih. Pedagang kaki lima tertata rapi. Alun-alun kota menjadi bersih, tak ada yang kencing sembarangan di taman. SPP semua sekolahan di Tuban telah diturunkan. Kini tak perlu binggung lagi mencari sekolahan yang murah. Orang tua tak perlu takut menyekolahkan anaknya. Tuban bersih. Tuban aman. Tuban Kota Wali.”

“Jangan bergerak! Kalian tertangkap!”

Lamunanku kembali buyar.

 

*Joko Gembili mantan pengguna bukan pengedar.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. November 2, 2017

    […] Baca juga : Bintang-bintang Putih di Atas Kepala […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.