Belajar Dari Film PK(Peekay)

Ilustrasi gambar diambil dari seword.com

Oleh, Metilda Menimawati Gulo

 

“Tuhan tidak perlu dibela, manusia terlalu kecil untuk membela Tuhan”

Film adalah salah satu media yang cukup efektif dalam menyampaikan pesan, salah satunya nilai yang ada di dalam agama. Berbagai fenomena keagamaan yang terjadi sekarang ini menjadi memprihantinkan, seperti tidak adanya saling toleransi di antara pemeluk agama. Guna memahami hal tersebut, saya akan mengkaji film PK yang dibuat di India.

Fillm ini sendiri pernah mengalami kontrovensi dalam pembuatannya, karena pesan yang disampaikan soal agama dinilai oleh beberapa kelompok tertentu dapat menimbullkan polemik serta ada anggapan tidak layak disampaikan sebab menghina lembaga agama. Tetapi jika kita tonton lebih jauh dan lengkap ada pesan kemanusian yang disampaikannya soal agama.

PK ini adalah nama makhluk asing atau alien mendarat di bumi dengan maksud melakukan penelitian. Tapi salah satu orang merampok satu-satunya yang dia miliki yatu Remote Control untuk berkomunikasi dengan saudaranya di planet lain. Sehingga dari sini dia harus mencari remote tersebut dan melupakan tujuannya ke bumi untuk penelitian.

Dan yang menarik dalam pencariannya disini adalah dia menemukan satu hal yang luar biasa dan dialami oleh umat manusia di bumi, salah satunya berkaitan dengan agama. Hal itu terlihat ketika dia mencari remote dan bertanya kepada polisi dengan penjelasan yang–menurut polisi itu–tidak rasional, dengan emosi polisi tersebut menyarankan agar PK bertanya pada Tuhan.

Disini, PK berpikir soal Tuhan. Dimana-mana umat manusia selalu menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan, yang bisa dimintai tolong dalam segala hal. Ibarat manusia yang kosong dan bertemu dengan banyak hal tanpa memahami batasan-batasan. Akhirnya PK terjebak pada konsepsi ke-Tuhanan yang beragam yang dianut banyak orang dengan identitas yang berbeda-beda. Dari segala permasalahan yang ada, membuat troble yang dalam bahasa PK disebut salah sambung, bagi para pengikut agama. Sehingga menjadi pemicu penyimpangan dalam memahami Tuhan, sebagaiamana yang diceritakan dalam film PK.

Karena di dalam pencariannya itu dia tidak memahami batas agama. Maka, dia mengikuti keseluruhan agama dan taat terhadap aturan-aturan apa yang ada di dalam agama tersebut. Dia pergi Gereja, Kuil, Masjid dan lain sebagainnya. Dia juga pernah mengalami trouble karna cara beribadah untuk sampai kepada Tuhan di masing-masing agama berbeda dan justru saling bertentangan. Misal, ketika dia pergi ke Kuil dengan membawa persembahan kelapa dan ke Gereja dengan membawa Kelapa dan di Gereja cara menyampaikan kepada Tuhan adalah dengan anggur dan ketika dia mencari anggur dan membawanya ke Masjid malah disitu tidak boleh.

Dia menjadi heran dan bertanya apa yang membedakan semuanya. Dan akhirnya dia menemukan bahwa setiap agama memiliki cara masing-masing. Tetapi karena keinginan yang kuat dalam menemukan remote, akhirnya dia mengikuti semua ajaran agama untuk bisa sampai kepada Tuhan dan menemukan remote miliknya.

Suatu ketika, remote yang dicarinya adalah remote yang ada disalah satu pemuka agama. Dan pendeta tersebut menyampaikan bahwa remote itu diberikan oleh Dewa Siwa. Tetapi disini PK merasa bahwa itu remote control yang dia miliki  dan pernah dicuri oleh orang lain. Sebelum sampai kepada pembuktian tersebut ada seorang reporter yang juga tertarik meliput PK dengan caranya yang unik. Ketika PK menceritakan dirinya sendiri oleh perempuan tersebut dianggap gila karena apa yang disampaikan PK sangat irasional. Akan tetapi, PK dapat membuktikan hal tersebut dengan cara menunjukkan isi pikiran reporter tanpa mengetahui kejadian yang dialaminya. Akhirnya perempuan tersebut percaya dan tertarik untuk membantu PK dalam menemukan remote control.

Sebelumnya diceritakan, Reporter dan Sutradara dalam filim ini juga pernah mempunyai konflik dengan pemuka agama –mempunyai pengikut yang sangat banyak–yang membawa remote PK. Sampai akhirnya diadakan debat di stasiun TV tersebut antara PK dan Pendeta. Dimana akhirnya membuktikan bahwa remote itu milik PK dan pendeta tersebut salah.

Hubungan Antara Agama dan Problematika

Salah satu pesan yang disampaikan disini adalah hubungan antara agama, manusia dan masalah yang melingkupinya. Bahwa kita berada dalam kehidupan nyata dan melihat kenyataan adanya banyak konflikantar agama. Ini bisa dilihat pesan-pesan yang disampaikan PK dalam film tersebut bahwa terkadang kita memang salah sambung. Salah sambungnya adalah ketika kita memahami diri kita dengan Tuhan sehingga terjadi satu perilaku keagamaan yang justru menyimpang dari sisi kemanusiaan dan salah memahami identitas agama orang lain. Sehingga kemudian pemaksaan kebenaran itu pada orang tanpa melihat nilai yang diusung dalam identitas agama masing-masing. Sehinnga menyebabkan terjadi pergesekan dan konflik.

Filem itu, secara implisit juga dapat dijadikan cermin konflik dalam masyarakat. Konflik sosial ini dipicu oleh perbedaan agama yang menimbulkan persepsi, keyakinan dan pendapat dalam memaknai arti dan aturan yang terdapat dalam agama tersebut. Tentu yang paling ekstrim terjadi adalah terorisme dengan membawa nilai agama dan melakukan teror terhadap pemeluk agama lain. Contoh nyata dari kasus ini adalah perang salib, dimana para penguasa Eropa memanfaatkan agama untuk mengobarkan rasa permusuhan terhadap muslim sehingga rakyatnya mau diajak berperang, padahal tujuannya ya cuma penjajahan, harta dan kekuasaan

Di Indonesia juga pernah terjadi pada pasca reformasi. Banyak sekali pemeluk agama yang kemudian menjadi  pemicu problem cukup serius, seperti dalam konflik Ambon.

Mempertanyakan Norma Agama

Berbagai fenomena yang ada di film ini adalah sekaligus memberikan pertanyaan yang mendasar terhadap fenomena-fenomena yang terjadi. Misal, peringatan hari asyura yang biasa dilakukan umat muslim dimana dengan senjata berupa rantai, dia cambukkan ke badannya sendiri hingga berdarah-darah dan umat Hindu yang melakukan ritual shayanapradikshanam dengan berguling-guling di jalan raya dan menyiksa diri sendiri. Di muslim maupun katolik ada istilah”Puasa”

Dalam film PK kesetaraan gender masih menjadi masalah di India dan sebagian negara muslim. Jika di India masalah kesetaraan gender masih sebatas norma, di sebagian negara muslim terutama timur tengah diskriminasi terhadap perempuan lebih parah karena diterapkan dalam bentuk hukum (hukum syariah).

Di Indonseia hukum syariah telah diterapkan di Aceh. Larangan perempuan untuk keluar rumah sendirian, larangan menyetir mobil tanpa ditemani keluarga, larangan bekerja, dan larangan bersekolah.

Dalam film PK ini agama dianggap sebagai sumber ajaran yang sempurna, langsung diturunkan dari Tuhan dan orang-orang akan menganggap bahwa ajaran tersebut lah sebagai kebenaran. Maka tidak mengherankan jika permasalahan kasta, diskriminasi perempuan, atau perbudakan masih terjadi secara masif dan dilakukan secara terbuka di negara yang penduduknya masih fanatik pada agama oleh karena norma yang ada di masyarakat sulit untuk dihapuskan.

Kesetaraan dalam tokoh aliran seperti Margaret Fuller, Harriet Martieu, Anglina Grimke dan Susan Anthony yang mengatakan bahwa semua manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan seimbang dan serasi. Oleh karena itu, tidak boleh terjadi penindasan antara satu kelompok dengan kelopok lain. Namun kini Justru yang terjadi sebaliknya. Manusia membuat hukum dengan mengatasnamakan agama yang dalam satu sisi malah menindas satu diantara yang lain.

Gusdur dan Foucould

Gusdur dalam bukunya “Tuhan tidak perlu dibela” mengajak untuk tidak usah membela Tuhan. Tulisan yang diserukan pada pertengahan 1982 ini kurang lebih didorong semangat untuk menyadarkan kembali akan hakikat keberagamaan manusia. Agama pada awal kelahirannya selalu merupakan koreksi atas kecelakaan sejarah yang menindas manusia sekaligus martabat kemanusiaannya. Tetapi, perkembangan sejarah justru cenderung mengebiri watak profetis dari agama itu sendiri, sehingga lahirlah praktik-praktik kekerasan dengan suatu pengawalan dari patron (kekuasaan) politis.

Menurut Gus Dur, hal ini terjadi karena akibat dari perilaku kaum fundamentalis agama yang berakar pada fanatisme yang sempit. Pada orang-orang semacam ini, kesadaran pluralisme sama sekali diabaikan. Sebagai suatu instrumen dalam formasi non diskursif, istilah Michel Foucould, agama lalu melakukan represi terhadap berbagai nalar yang liar dengan ditopang oleh suatu tafsir tunggal terhadap formasi diskursif dari agama itu sendiri, yakni teks suci. Hal inilah yang kemudian melahirkan suatu pemandangan paradoks dalam sejarah agama-agama: agama yang mula-mula hendak menghidupkan martabat kemanusiaan justru menjadi pisau pembunuh kemanusiaan itu sendiri.

Maka film PK sebenarnya ingin menyampaikan bahwa semua tafsir terhadap agama yang dilakukan oleh para tokoh agama itu sifatnya manusiawi, yang bisa salah alias salah sambung, atau bisa juga sengaja dimanfaatkan oleh oknum demi memuaskan nafsunya sendiri. Di titik inilah film PK memiliki pesan yang bunyinya sama dengan tokoh-tokoh plurarisme di Indonesia.

 Kesimpulan

Konflik dalam diri manusia dan dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh persepsi dan aturan yang dikonstruksi secara turun-temurun. Suatu persoalan bisa menjadi konflik bila persepsi antara satu manusia dengan manusia yang lain berbeda atau saling bertentangan. Film PK ini memberikan kesadaran bagaimana cara berpikir dan mengkritisi sesuatu yang terjadi.

Kalau kata Peekay, Tuhan itu ada 2 jenis, Tuhan yang menciptakan alam semesta, dan Tuhan palsu yang diciptakan oleh pemuka agama. Tuhan palsu yang diciptakan oleh pemuka agama adalah cerminan dari pemuka agama itu sendiri, pemarah, pencemburu, pembohong, suka dipuji, membuat umatnya takut, dan lebih suka mendatangi orang kaya dibanding orang miskin.

Bertuhan itu baik, tapi jangan pernah melupakan akal dan hati nurani dalam beragama karena selalu ada kemungkinan tokoh agama untuk salah menafsirkan ajaran, dan selalu ada kemungkinan orang jahat untuk memanfaatkan agama demi kepentingannya. Melalui film PK ini mengajak penontonnya untuk berpikir kritis dan turut memikirkan konflik yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari karena hidup ini tidak pernah lepas dari permasalahan.

.

 *Metilda Meniamawati Gulo adalah mahasiswi Atma Jaya Yogyakarta.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. November 14, 2017

    […] Baca juga : Belajar dari Film PK […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.