Eutanasia: Perihal Tuban yang Tidak Baik-Baik Saja

Tubanjogja.org, Buku Eutanasia, Sudah lama rasanya saya tidak membaca tulisan, terutama fiksi, mengenai Tuban, tempat yang kerapkali disebut sebagai Kota Wali atau kota Qurani itu. Terakhir yang saya baca adalah Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer. Itupun sudah lama dan saya rasa saya butuh kembali buku-buku yang menceritakan kota tempat saya dilahirkan itu. Terutama menengai kondisinya saat ini.

Eutanasia: Perihal Tuban yang Tidak Baik-Baik Saja

Oleh : Daruz Armedian

Judul Buku                    : Eutanasia

Penulis                          : Linda Tria Sumarno

Penerbit                        : Pataba Press

Cetakan Pertama       : Juni 2017

Tebal                              : 148 hlm.

Di hadapan Eutanasia, buku kumpulan cerita yang sebagian besar latarnya diambil dari Tuban, saya terenyuh bukan main. Dengan cara yang sederhana, seperti bahasa kita sehari-hari, Linda Tria Sumarno, penulis buku itu, menggambarkan suasana Tuban dalam lanskap orang-orang pinggir, orang-orang kecil yang tertindas. Dan itu, cukup membuat saya kembali bernostalgia, mengingat-ingat masa kecil: bermain bola di sawah yang belum ditanami apa-apa, hujan-hujanan di bawah teritis rumah sambil membuat irigasi-irigasian bersama teman-teman, mencari sarang burung di rimbunan bambu dan pohon-pohon (asam, juwet, mahoni) yang rindang, dan lain-lain.

Tuban sekarang sudah banyak yang berubah. Mulai dari pembangunan jalan, listrik yang sudah masuk ke pedalaman, pabrik-pabrik didirikan, pohon-pohon banyak ditumbangkan, sawah-sawah mulai ditanami rumah-rumah, toko-toko merebak luas. Dan, hanya satu yang tidak berubah (mungkin tak akan pernah bisa berubah), yaitu kemiskinan.

Itulah kemudian yang mengantarkan Tuban meraih peringkat lima besar Kabupaten termiskin di Jawa Timur. Padahal kalau ditilik lebih lanjut, Tuban bukanlah daerah yang tandus. Batang singkong ditancapkan sembarangan bisa hidup, padi-jagung-palawija ditabur dan tumbuh subur, tabungan minyak di dalam tanah tidak pernah kurang, lautnya tidak pernah kekurangan ikan, dan lain sebagainya. Barangkali memang, Tuban dipimpin oleh pemerintah yang salah. Petinggi-petingginya banyak yang tidak peduli akan kesejahteraan penduduk setempat. Tidak masuk akal!

Tidak heran kemudian, Linda, sebagai salah satu orang yang menyadari atas ketidakmasukalan itu, menuliskannya ke dalam ceritanya. Dari cerita-ceritanya, saya bisa memahami kegelisahan Linda terhadap lingkungannya.

“Megah sekali masjid itu, tapi sayang, semakin sedikit penghuninya. Begini kok katanya Bumi Qurani. Lha wong yang belum bisa baca Quran juga banyak. Apalagi tingkah orang-orangnya, pejabat-pejabatnya, jauh dari ajaran Quran. Apa sebaiknya diganti dengan Bumi Ranggalawe saja?”(Senandung Senja Sang Veteran, hlm. 69)

Cerita Linda yang berjudul Maryam, Lelo Ledong, Senandung Senja Sang Veteran, Rey, Sekar Wardani, Eutanasia, mampu menggambarkan wong cilik yang hidup di pusaran penderitaan. Seperti kata Soesilo Toer dalam pengantar di buku ini, Linda mampu menghanyutkan pembaca ke dalam ceritanya.

Saya berharap, di Tuban, tidak hanya Linda saja yang gelisah atas lingkungannya, tetapi semoga ada Linda-Linda lain yang bermunculan. Sehingga, orang-orang Tuban, terutama pejabat-pejabatnya, menyadari bahwa Tuban sekarang tidak baik-baik saja.

 

Daruz Armedian, bocah Tuban yang lebih suka menyebut Tuban sebagai kota tuak ketimbang kota wali.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.