Via dan Nella: Resolusi Kebangkitan Dangdut Koplo Indonesia

Tubanjogja.org, Dangdut Koplo, Dalam bukunya yang fenomenal berjudul On the Origin of Species, Carles Darwin, seorang naturalis dan geolog asal Inggris, memaparkan teori evolusi yang menjelaskan bahwa spesies makhluk hidup berasal dari satu nenek moyang bersama. Percabangan berbagai spesies yang banyak itu, menurutnya dipengaruhi oleh tata cara bertahan hidup spesies dari seleksi alam (adaptasi).  Teori tersebut, bagi sebagian ilmuan dianggap sebagai kebenaran ilmiah. Sehingga, para ilmuan dari kelompok ini, dengan didukung berbagai penemuan, mengamini bahwa nenek moyang manusia berasal dari spesies kera.

Rasionalisasi teori evolusi ini, dapat kita lihat sebagaiamana yang dipaparkan dalam mata pelajaran sejarah Indonesia kurikulum 2013, kelas X BAB I. Disitu dijelaskan, telah ditemukan berbagai fosil manusia purba di Indonesia dengan beragam jenis, seperti Pitacantropus, Megantropus dan Homo.   Jenis-jenis fosil manusia purba itu memiliki ciri morfologi berbeda-beda dan diketahui hidup dalam  rentang  waktu yang panjang antar jenis manusia purba. Semakin tua usia manusia purba, semakin memiliki bentuk fisik mirip kera (pitacantropus) dan yang paling muda (Homo) lebih mirip manusia modern, baik perawakan fisik maupun volume otak (kecanggihan berfikir dan capaian peradaban).

Terlepas benar atau tidaknya nenek moyang manusia berasal dari kera atau Adam-Hawa. Kenyataan yang harus kita akui, adaptasi—tonggak dari teori evolusi–merupakan bagian terpenting untuk bertahan hidup dan membentuk perubahan. Tidak hanya dalam kehidupan (biologis), lebih dari itu adaptasi secara spesifik juga berlaku pada hal-hal yang lebih sederhana. Dalam konteks tulisan ini, tentu adalah budaya dan seni.

Keduanya, calon istri Harmoko

Sejalan dengan perkembangan umat manusia, kebudayaan dan seni juga melakukan adaptasi dalam gerak evolusi peradaban. Hal ini dapat kita lihat dalam perkembangan musik dangdut Indonesia. Musik yang diklaim sebagai aliran musik khas Indonesia ini, pernah mengalami pasang surut dan  percabangan jenis yang cukup variatif, seperti Dangdut-Melayu, Pop-Dangdut, Dangdut-Remix, Rock-Dangdut dan Dangdut-Koplo.

Kendati musik dangdut merupakan perpaduan antara genre musik India dan Melayu. Dalam bentuknya yang baru, dangdut kemudian juga berkolaborasi dengan jenis musik lain sebagaiamana di contohkan di atas. Koloborasi itu, tentu berdasar selera seniman musik dangdut dan untuk menyesuaikan pasar agar dangdut dapat diterima oleh berbagai kalangan, baik atas, tengah maupun bawah.

Perbedaan kelas sosial dan budaya masyarakat tersebutlah yang menandai popularitas musik dangdut di beberapa tempat. Di luar dangdut Remix, Rock, Pop dan Melayu—hasil dari kawin silang musik luar (asing)—dangdut koplo adalah jenis musik dangdut—mulanya–otentik dan banyak digemari masyarakat pantura.

Sebelum sepopuler sekarang dan masuk industri musik media massa, dangdut koplo dulunya adalah pentas musik dangdut indie yang digawangi oleh kelompok Orkes Melayu (OM). Jenis musik ini hanya dipentaskan dalam acara tertentu sesuai pesanan para penikmatnya dan dalam skala pentas besar, biasanya dalam acara nikahan, pesta rakyat maupun hajatan lain dan bertempat di lapangan terbuka.

Karena kondisi sosiologis dan ditujukan sebagai hiburan rakyat yang renyah, maka dangdut koplo mengambil garis tempo nada yang bersebrangan dengan dangdut melayu–sebagai induk. Dangdut koplo memiliki tenpo yang lebih cepat, mendengdang dan ceria. Sehingga wajar, jika dalam pentas dangdut koplo akan sangat sedikit kita jumpai penyanyi memiliki raut wajah sedih, kendati lagu yang dinyanyikan sesungguhnya berlirik menyayat.

Bahkan, tak hanya mengambil penjiwaan emosi yang berbeda dengan lirik lagu, dangdut koplo seringkali juga dibawakan dengan joget erotis dengan gaya berpakaian para biduan (penyanyi) yang seksis. Hal itu jugalah yang pernah menjadi polemik dalam pentas dangdut koplo di Indonesia.

Bagi pecinta dangdut, tentu masih ingat dengan kasus Inul Daratista vs Rhoma Irama yang sempat menghebohkan pemberitaan nasional pada tahun 2003 silam.  Waktu itu, Inul yang baru naik daun lewat goyangan ngebor di pentas dangdut koplo dan sedang akan merambah industri musik nasional dikritik Rhoma lantaran goyangannya dianggap mengundang syahwat (pornoaksi). Tak hanya mengkritik dibarengi hujatan, bahkan Rhoma melalui Paguyuban Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI), melayangkan surat somasi kepada seluruh stasiun TV untuk tidak mengundang Inul sebagai pengisi acara karena dianggap melecehkan musik dangdut melalui goyangannya.

Kendati pernah berdamai secara kekeluargaan melalui pertemuan keduanya, konflik itu kembali mencuat tatkala Inul dan Rhoma diundang komisi VIII DPR RI dalam pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) tentang pornoaksi dan pornografi pada tahun 2012. Dalam rapat jajak pendapat itu, Inul menyepakati adanya RUU tersebut. Tetapi ia juga mempertanyakan sejauhmana batasan-batasan pornografi dan pornoaksi yang dimaksud. Sedangkan pada kesempatan yang sama, Rhoma dalam orasinya yang berapi-api menyebut bahwa goyangan Inul di masa lalu, termasuk dalam pornoaksi. Tak terima masalahnya di masa lalu diungkit-ungkit, Inul pun protes dan mereka kembali bersitegang.

Konflik antara Inul dan Rhoma mungkin memang telah dilupakan oleh khalayak. Tetapi diskursus moral-etik dalam dangdut koplo telah menjadi polemik dan melahirkan efek troumatik bagi seniman dangdut koplo dan penikmatnya. Karena itulah,  meningkatnya popularitas dangdut koplo yang cepat terdapat berbagai tekanan dan tantangan, salah satunya adalah budaya timur (Indonesia) yang lekat dengan moral-etik agama. Sedang tidak bisa dipungkiri–selain karakter musik–popularitas dangdut koplo juga dibangun dari joget dan kemolekan (pakaian) para biduan yang ditampilkan. Sehingga dalam kondisi demikian perlu adanya formulasi baru dalam mendendangkan dangdut koplo agar tetap asik dinikmati.

Dan itu telah terjawab dengan lahirnya dangdut koplo kontemporer. Generasi dangdut koplo ini tentu berbeda dengan dangdut-dangdut koplo klasik yang lebih menonjolkan goyangan dan kemolekan tubuh biduannya. Selain itu, walaupun kebanyakan juga masih mengaransemen lagu-lagu populis sebagaimana generasi sebelumnya, koplo kontemporer mulai mengakomodir genre musik lain seperti Hip-Hop, Reggae dan lainnya.

Dangdut koplo kontemporer tampil lebih elegan baik goyangan maupun gaya berpakaian para biduannya. Mereka bergoyang dengan kalem-santai sesuai dengan rima lagu yang dibawakan, tidak mematenkan nama goyangan tertentu yang pada prakteknya Ngecor, Ngebor, Menggergaji dan Mengitik di waktu yang tidak tepat. Dalam berpakaianpun demikian, mereka tidak menggunakan pakaian ketat menonjolkan bagian tubuh tertentu, tetapi tampil kasual dan tetap modis tanpa make up yang berlebihan (menor).

Pada generasi ini, artis koplo kontemporer yang cukup menonjol antara lain adalah Via Vallen dan Nella Kharisma. Keduanya mampu menjadi percikan air ditengah keringnya belantara musik nasional. Lebih dari itu, keduanya bukan di lahirkan dari panggung di Jakarta, tetapi dari panggung rakyat kelas bawah di pedesaan.

Lalu kenapa harus Via dan Nella yang menjadi judul dan contoh ulasan yang sedikit ini? Karena penulis telah jatuh hati pada keduanya. Penulis juga bersedih sebab terjadi berdebatan plagiasi style antara vallenisti  dan Nella Lovers (sebutan untuk fans Via dan Nella). Tuduhan-tuduhan itu telah menggelisahkan hati penulis, sehingga membuat penulis yang sedang patah hati ini tidak nyenyak tidur. Ayolah berdamai, jangan jadikan perselisihan sebagai pemantik popularitas sebagaimana era goyang-goyangan zaman dulu. Terakhir kalau boleh ku madu, abang sangat berharap, love you.

Oleh, Harmoko

Yogyakarta, 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

4 Respon

  1. Harmoko berkata:

    Nggeh mas betul, ada sisi positif juga ada negatif. Tapi tentu keduanya harus kita sikapi secara bijak. Terimaksih

  2. Tris berkata:

    aku secara pribadi suka lagu koplo yang populer? tapi agak miris dengan tradisi panggungnya; sebut saja nyawer, mabuk sambil joget, berantem dll. ya meski ada jogetbdamai… semua itu bumbu2 para penikmat yg seleranya beda. sebagai orang pantura asli sih mungkin saya suka, meski ada lingkungan-lingkungan tersindiri serta pengaruh tradisi, hobi, dan selera.

  3. temen david berkata:

    aku secara pribadi suka lagu koplo yang populer? tapi agak miris dengan tradisi panggungnya; sebut saja nyawer, mabuk sambil joget, berantem dll. ya meski ada jogetbdamai… semua itu bumbu2 para penikmat yg seleranya beda. sebagai orang pantura asli sih mungkin saya suka, meski ada lingkungan-lingkungan tersindiri serta pengaruh tradisi, hobi, dan selera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.