Blandongan dan Pusaran Peradaban Kelas Terpelajar

Gambar Blandongan nampak dari depan

Oleh Zubaidi Khan

SELAMATKAN ANAK BANGSA DARI BAHAYA KEKURANGAN KOPI. Begitulah tulisan yang terpampang di layar besar warung kopi Blandongan Jogja. Tulisan yang membuat bibir saya tersenyum tipis. Sejenak saya merenungkan tulisan itu. Kreatif. Seperti di Blandongan, tulisan-tulisan serupa juga saya dapati dibeberapa warung kopi di daerah Jogja.

Blandongan adalah salah satu warung kopi yang berada di Jogja. Warung kopi yang tak pernah surut pelanggan. Jika saja Blandongan itu merupakan organisasi massa, tak sulit baginya untuk sekedar ujicoba teori Tan Malaka tentang Aksi Massa. Tapi itu tak akan terjadi. Blandongan tetaplah warung kopi. Massa yang berkumpul tidak bertujuan untuk “aneh-aneh”. Menikmati secangkir kopi menjadi prioritas utama. Adapun untuk yang lain-lain, itu sebuah keniscayaan.

Saya sendiri baru pertama kali berkesempatan ngopi di Blandongan. Beberapa hari berkunjung ke Jogja dengan misi tertentu, sebagian besar waktu saya habiskan di tempat itu. Bukan tanpa alasan saya betah berlama-lama disana, ada ketertarikan dan keterikatan tersendiri yang hanya bisa saya rasakan. Hanya bisa saya rasakan. Sesuatu yang belum pernah saya dapatkan di Tuban, tempat asal saya. Meskipun katanya setiap daerah mempunyai kearifan lokal masing-masing, tetap saja rasanya berbeda. Anda boleh tidak setuju dengan saya. Anda sah berbeda pandangan. Bukankah dalam alam demokrasi dengan kemajemukan penghuni itu berisi tentang perbedaan-perbedaan? Sebagai contoh, Indonesia menjadi negara yang berusaha menyatukan dan mengumpulkan perbedaan-perbedaan itu dalam bingkai demokrasi.

Kembali ke Blandongan, tempat berkumpulnya manusia dari berbagai latar belakang. Sebagian besar berasal dari kalangan kaum terpelajar, para mahasiswa. Tempat yang sebenarnya tidak sulit ditemukan di Tuban. Namun, rasa yang berbeda membuat saya tergerak untuk berbagi catatan kepada sesama. Dari sini, perjalanan cerita saya dimulai.

Jogja merupakan daerah istimewa di Indonesia. Jogja juga merupakan pusat perkembangan dunia literasi, khususnya bidang tulis-menulis. Suasana seperti itu pula yang melahirkan banyak penulis besar. Bahkan beberapa teman asal Tuban yang kuliah di Jogja memperkenalkan semboyan unik kepada saya, yaitu “tidak menulis, maka tidak makan”. Penerbitan dan percetakan buku ada dimana-mana. Kompetisi dan persaingan dalam dunia kepenulisan begitu dinamis. Hal tersebutlah yang membuat saya iri. Mengapa? Karena suasana seperti itu tidak ada di Tuban. Untuk itu, kedatangan saya ke Jogja kali ini, berharap ada banyak sesuatu yang bisa saya bawa pulang. Terbukti, memang ada. Malah banyak sekali. Blandongan juga berperan penting dalam mengisi kantong-kantong kosong yang saya bawa dari Tuban.

Saat ini, geliat literasi di Tuban mulai tampak. Komunitas-komunitas literasi di Tuban mulai bermunculan meskipun belum mendapatkan apresiasi dari pemerintahan setempat. Saya yakin, apresiasi itu bukan yang dicari. Saya yakin itu. Karena saya juga bagian dari salah satu komunitas tersebut. Namun, geliat itu belum mewabah di warung-warung kopi. Virus yang dibawa oleh teman-teman komunitas literasi di Tuban masih belum menjangkiti para pemuda secara maksimal. Agen perubahannya —para mahasiswa Tuban—pun masih alergi dengan dunia itu. Kok bisa? Mengapa? Bagaimana mungkin? Jawabnya ada di atas sana, atau tanyakan pada rumput yang bergoyang! Saya sendiri belum bisa menjawabnya. Paling tidak, Jogja adalah salah satu referensi penting dalam membudayakan dan melestarikan literasi di Tuban. Tak kalah penting juga, Blandongan tentunya. Blandongan sebagai referensi geliat literasi warung-warung kopi di Tuban.

Perkembangan literasi sangat berpengaruh bagi peradaban manusia. Tuban kalah jauh dari Jogja. Kalah telak. Akibat dari ketinggalan itu, mudah sekali dipengaruhi. Mudah terjebak dalam permainan “orang-orang berdasi”. Sedikit disulut, emosi meluap-luap. Tidak sepakat dengan pendapat orang lain, wahyu Tuhan dijadikan sebagai senjata pembasmi. Ruang diskusi semakin sempit. Ruang gerak terbatasi. Dialog lebih gencar dilakukan di dunia maya ketimbang bertatap muka. Antara palsu dan asli hampir tak ada bedanya. Jika sudah demikian, hukum rimba yang berkuasa.

Jauh hari, pemerintahan Indonesia sudah mengkampanyekan tentang budaya literasi. Secara umum, upaya itu belum massif sampai ke daerah-daerah. Termasuk di Tuban. Belum ada program-program khusus yang bisa menarik minat masyarakat untuk mencintai dunia tulis menulis. Memang sulit. Malah, sulit sekali. Tetapi untuk menuju masyarakat yang beradab, sesulit apapun langkahnya, menjadi sesuatu yang mutlak harus dilakukan jika Tuban ingin berkembang dan maju. Komunitas-komunitas literasi di Tuban sudah menjadi modal awal yang sangat penting. Tinggal bagaimana nanti selanjutnya.

Disisi lain, kampanye dari kaum sumbu pendek sudah mulai masuk di Tuban. Kampanye yang lama kelamaan membawa masyarakat semakin jauh dari realita sosial. Kampanye yang lambat laut dalam alam bawah sadar manusia tertanam senjata tajam yang berfungsi otomatis sebagai pemusnah perbedaan. Hasil pemikiran dan gagasan brilian yang berbeda-beda dari para tokoh terdahulu hanya akan mengisi keranjang sampah. Orang cenderung mengabaikan proses belajar dalam rentang waktu yang panjang dan terus menerus. Akibatnya, kemuliaan dan keagungan pengetahuan hanya mitos belaka. Kesadaran manusia yang dibangun dari masa ke masa akan runtuh seketika. Sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari dunia seperti itu. Sudah tidak ada lagi.

Nah, “pekerjaan rumah” semakin hari semakin banyak. Lambannya antisipasi, tidak menutup kemungkinan bahwa “kekuasaan sumbu pendek” akan bertengger. Maka, marilah kita sering-sering ke warung kopi dengan menyebarkan virus cinta literasi. Minimal cinta dulu, baru setelah itu akan menjadi budaya literasi.

Untuk itu, jangan anggap remeh warung kopi! Jangan remehkan Blandongan Jogja! Disetiap sudut Blandongan itu romantis.

Blandongan, 31 Agustus 2017

Zubaidi Khan adalah pegiat Gerakan Tuban Menulis

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.