Kau di Bawah Atap Rumah, dan Aku di Bawah Bintang-bintang

Waktu itu – Rasannya aku tak percaya dengan apa yang aku rasakan sekarang. Belum ada dua minggu aku bertemu denganmu, tapi dengan lancang aku telah menaruh rasa segemuruh ini. Sebagaimana ombak di pantai selatan saat air pasang, menghantam terlalu keras sampai-sampai aku tak bisa menahan. Dan akhirnya rasa itu kutitipkan angin malam supaya segera disampaikannya padamu. Kuharap kau mengetahuinya di pagi hari sehabis kau menggulung sajadahmu dan melepas mukenahmu.

waktu itu - Kau di Bawah Atap Rumah, dan Aku di Bawah Bintang-bintang

Oleh: Joko Gembili

Kau, dan aku. Oh, bolehkah aku cerita?

Waktu itu, aku sempat mencubit pipiku saat kali pertama kita bertemu.  Kau duduk di depanku dengan kesibukan yang ada di tanganmu. Wajahmu merah, eh, ya, merah delima. Kau begitu cantik walaupun hanya memakai kaos dan celana penjang biasa. Aku ketagihan, hingga terus-terusan mencuri celah untuk melihat wajahmu.

“Mbak bukan angkatan 2009, kan?” Tanyaku malu.

“Bukan. Aku adek kelasmu, Mas.” Jawabmu yang tak malu seperti aku.  ah, suara itu. Kini aku malah ingin mendengarnya lagi.

Aku terlalu malu. Mau tanya nama saja seperti akan akad nikah groginya. Apa lagi kalau mau akad nikah beneran, mungkin seperti didatangi malaikat penyabut nyawa. Dan sepertinya di hadapan wanita harus kuberbarui mentalku. Dari mental tempe menjadi mental bakso, biar sedikit berkelas.

Bismillah, kuucap dalam hati supaya tak grogi.

“Kalau boleh tahu, mbak namanya siapa?”

“Dian.” Jawabmu sambil menaruh malu di sela-sela bibir mungilmu.

Dian. Nama yang pas, batinku. Waktu itu aku begitu berharap bisa bertemu denganmu lagi, bukan hanya sekilas saja, yang ujung-ujungnya berakhir di dalam mimpi.

Di sore yang tua. Aku datang ke sekolahanku SD dulu. Menyiapkan reuni yang akan diadakan lusa. Aku tak sadar kalau kau juga berada di situ. Mengenakan kerudung abu-abu dengan baju hijau bawahan jins.

Kau terlihat begitu cantik. Aku sempat takut matahari sore marah karena kalah akan kecantikanmu. Ditambah bungga mawar yang kau angkat. Aku juga mengira kalau bunga itu merasa tersaingi.

“Mas.” Suaramu memangilku.

“Iya.” Sambil kuhiasi bibirku dengan senyum.

“Bantuin angkat bunga, Mas.”

Serentak kuangkat bokong ini dari tempat duduk. Tanganmu kuat, selain kuat, kau juga cekatan.

Waktu itu, aku belum menaruh rasa kepadamu. Aku hanya mengagumimu. Karena menaruh rasa suka butuh proses. Bukan seperti ayam jantan ketika melihat ayam betina, langsung menyambar tanpa memikirkan malu, apa lagi memikirkan gerebekan karena zina di depan umum. Ah, aku malah teringat tetanggaku yang berumur kurang lebih 50 tahun kena gerebek, karena diam-diam bertamu di rumah janda pada jam dua belas malam.

Kau, dan aku. kini aku ingin bercerita tentang perasaanku. Tadi hanya awal pertemuan. Kuharap, setelah ini, kau bisa mengerti akan perasaan ini. yah, setidaknya aku berusaha memberi tahu lewat cerita ini.

Ada hobi yang sama dari kita. Kita sama-sama suka pendakian. Meresapi keheningan malam sambil melihat bintang dan berbaring di rumput. Menyambut belaian angin malam yang berlarian di sekitar pori-pori.

Kau tahu? Ah, dengan ini kau pasti segera tahu.

Malam itu aku berdoa, supaya kau ikut bermalam di bawah bulan. Menikmati angin yang sempat kita bicarakan lewat WhatsApp empat hari lalu. Melihat bintang yang selalu kita sindir-sindir. Ah, kamu, bisa-bisanya menyindir bintang. Akan tetapi doaku terseret angin yang cemburu denganku, hingga tak sampai menembus langit, doaku terhampar entah kemana. Yang jelas kau tak jadi ikut kemah. Ikut, tapi tak sampai kunjung pagi. Hanya beberapa jam lalu kau beranjak pulang.

Kurang lebih sekitar satu jam setelah kau pulang aku buru-buru membuka hanpone. Yah, setidaknya aku bisa menikmati malam yang lama kurindu-rindukan ini sambil bicara denganmu, meskipun kau dibalik layar, dan kata-katamu berupa tulisan.

“Hay,” sapaku lewat WhatsApp. Dan kau pun membalasnya sama.

“Henponenya ditaruh. Malamnya dinikmati” Belum sempat  terpikir kata apa lagi yang akan aku tuliskan, kau sudah menyuruhku meletakan hanpone.

“Tidak mau”

“Kenapa? Bukannya kau pernah bilang, malam yang sunyi bisa dinikmati ketika kita diam dan menghayati”

“yak. Tapi aku sudah memutuskan, kalau malam ini aku ingin menikmati malamku denganmu, walaupun kau tak ada di sampingku berbaring di atas rumput. Setidaknya dengan menghubungimu aku tak merasa ada yang beda. Merasa tak ditertawakan bintang-bintang yang diam-diam tahu isi hatiku.”

“Kau akan menyianyiakan malammu kalau terus menghubungiku.” Katamu lagi.

“Ah. Kau tahu, Dian. Malam ini aku hanya menunggu pesanmu, selain dari pesanmu kubiarkan semua itu.”

“haha.. percaya-percaya.” Entah seperti apa ekspresimu ketika menulis seperti itu.

Malam ini aku tidak hanya ingin terhipnotis kesunyian, tapi juga katamu, pesanmu, tawamu yang.., ah beginilah aku yang sedang terobat-abit asmara. Semua yang ada di dirimu berhasil menghipnotisku.

Setiap malam-malam seperti ini, aku selalu ingin berinteraksi dengan bintang, bintang yang membuat malam menjadi sejatinya itu malam. Akan tetapi malam ini aku tak ingin berinteraksi dengan bintang yang jauh di atas sana. Ada kamu, Yan. Malamku akan menjadi sejatinya malam yang aku cari kalau kunikmati denganmu, bersama tawamu yang membuatku semakin rindu.

Oh, ya. Waktu itu, lewat WatsApp kita juga membicarakan soal rindu. Rindu yang kataku adalah kenikmatan yang jarang orang bisa menikmatinya.

“Rindu? Bukannya rindu adalah hal yang menyakitkan.” Balasmu dengan Emot binggung di akhir kalimat.

“Aku bisa menikmati rindu, rindu yang sulit kudapat. Apa lagi rindu semacam ini.”

“hmmm. Sudahlah, malam sudah terlalu tua. Andi saja aku di situ bersamamu, aku akan mendengar gombalan-gombalanmu yang cukup membuatku terbang setinggi bulan. Ah, mungkin setinggi bintang, atau bahkan lebih tinggi.” Katamu dengan emot senyum di akhir kalimat.

“Aku tak sepandai itu, Dian. Aku tak akan bisa seperti yang kau katakan. Manusia sepertiku tak bisa apa-apa, hanya bisa beranggan, yang tak pernah takut akan jatuh. Justru sebaliknya. Kau tahu, Yan. Selama ini kaulah yang membuatku terbang. Terbang begitu tinggi, hingga ke bulan, ke bintang, dan melayang diantara meteor-meteor. Hingga kini mereka semua tahu apa yang kini tenggah aku rasakan.”

“Kau memang bisa saja, Kak. Nyatanya, kita tak saling menatap, tak juga berbaring bersama diatas rumput, kau sudah membuatku seperti ini. Kalau saja aku bersamamu sekarang, aku pasti membutuhkan parasut yang bukan sembarang parasut.” Katamu dengan hiyasan emot ketawa lebar di akhir kalimat.

“Kenapa dengan parasut, Yan? Bukankah kita hanya berbaring dan menatap ke atas.”

“Betul itu, Kak. Kenapa aku membutuhkan parasut? Sebab, aku tak ingin jatuh terlalu sakit setelah kau terbangkan begitu tinggi. Kak, untung tempat tidurku kasurnya empuk. Kau tahu, Kak. Sekarang aku sudah naik turun, aliyas terbang lalu jatuh lagi. Setiap membaca pesanmu yang masuk rasanya diri ini terbang tanpa tersadarkan. Dan ketika ada pesan yang masuk lagi, aku  terjatuh, Kak. Karena pesan itu bukan pesan darimu, melainkan orang yang amat kubenci. Dan satu lagi, Kak. Ada pesan lagi yang membuatku…, ah, sudahlah.”

“Oh, sungguh. Pesan dari siapakah itu?”

“Pesaannnn.” Ah, lagi-lagi pesannya tak diteruskan, hanya emot ketawa yang lebih dari lima di akhir kalimat.

 

Joko Gembili bocah penuh nota

Baca juga cerpen tuban jogja

Jangan lupa juga like fans page tubanjogja.org

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.