Badai di Negeri Pelangi (Puisi-puisi R N Evendy)

Ilustra gambar, lukisan karya Afandy

Oleh, R N Evendy

Simpan Benderamu

 

Ku saksikan lagi panggung warna-warni

Panggung sandiwara cetusan bandit berdasi

Demokrasi ditumbalkannya demi ambisi

Dan rakyat di nina-bobokkan dalam mimpi.

 

Mereka mengaku ikut andil dalam reformasi

Tapi nafsu bejat pejabat masih di adopsi

Diruang publik berjanji akan membangun negeri

Namun nyatanya meluaskan ajaran korupsi.

 

Sebagian rakyat semakin sekarat

Trauma melihat pejabat tak ada yang tobat

Sebagian rakyat semakin kuat

Karna terbiasa dengan tipu muslihat.

 

Bunglon memang bukan hama

Tapi penyamarannya memudahkannya membunuh mangsa..!

Jepara, 24 Oct 2014

 

Mendung oleh Awan

 

Keriuhan manusia jelata didarat sekejap terhenti

Terlihat awan di kening langit mulai pucat hampir gelap

Angin berulah tak tau aturan membius alam bawah sadar

Tumbuhkan kegalauan dari luar batas normal para jelata

Hingga rasa berangsur tak menentu..

Tak tau ingin diam, lari, atau menangis lalu berteriak..

 

Ada yang tersesat di sempitnya tempurung kelapa

Ada yang tetap nakal didalam masa gelap

Ada pula yang mencoba ke langit untuk membongkar awan..

Katanya untuk mengembalikan kecerahan..!

Padahal banyak sudah yang terperangkap dan mati disana..

 

Manusia jelata tak tahu adanya kecerahan diatas awan

Hanya gelap disertai angin ribut yang dipamerkan kebawah

Seolah kiamat sudah sangat dekat

Dan mereka dipaksanya merangkak tiarap demi dapat melihat pagi…!

 

Mendung hanyalah rekayasa Manusia awan…!

Yang bergumul untuk sebuah kepentingan tak penting,

Ada banyak sekali imbas atas pertemuan mereka

Yang semuanya adalah untuk mahluk darat

Manusia jelata tak pernah tahu Kong-Kalikong dimeJa makan langit

Entah perundingan atau pertandingan…!

Para jelata hanya disajikan efek… Bukan hasil…!

Efek atas tindakan yang tak pernah mereka lakukan.

Jepara, 23-10-2014

 

Badai di Negeri Pelangi

 

Negeriku kaya budaya…!

Kami lahir dari satu-padu suku-suku dan berbagai agama

Dari meleburnya golongan-golongan untuk menjadi bangsa yang besar

Bermetamorfosa menjadi Indonesia Raya.

 

Kekayaan kami melimpah tak hingga

Hampir semua kami punya…

Diperut bumi kami simpan emas, minyak, dan batu bara

Dipermukaan kami punya berbagai flora-fauna

Sungguh indah hidup di negeri pelangi…

 

Sudah 69 Tahun kami ucap merdeka

Dan kami tetap dipaksa hidup sederhana…

Hidup apa adanya…!

Karna usia tua tak menjamin negeri kami dewasa

Tak membuat kami hidup selayaknya.

 

Pembodohan meluas hingga pelosok desa

Kami di dekte untuk sadar diri…

Bahwa kami adalah proletar tanah!

Bahwa kami adalah proletar mesin!

 

Kami menjadi budak di Negeri sendiri….!

Jepara, 23 Oct 2014

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. No Name berkata:

    puisi Mas vendy memang josh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.