Al-Quran sebagai Petunjuk ?

Sebelum ini, saya tidak terpikir sama sekali untuk mempertanyakan soal al-Quran sebagai  petunjuk. Mungkin pengetahuan yang saya dapat dari kampus serta ruang kelas membuatku begitu, hingga akhirnya saat barusan tadi pergi salat jumat ada yang berbeda dengan apa yang kutahu.

ilustrasi di ambil dari wikiwand

Lebih pasnya, yaitu saat telingaku secara sepenggal terhempas oleh khotbah sang khatib yang menyarankan para jemaahnya untuk menjadikan al-Quran sebagai petunjuk. Seingatku, ia bilang begini, “Wahai Bapak Ibu (untuk ini saya tidak membual, tadi sang khatib menyebut kata ‘ibu’ yang spontan itu memicu tawa kecil beberapa orang di kanan kiriku, termasuk aku), kita perlu untuk menjadikan al-Quran sebagai petunjuk hidup, sebagaimana titah Rasulullah salla alluhu ‘alaihi wasallam …”

Mendengarnya, kamu harus percaya ini, seolah langsung ada yang menyeretku pada beberapa pertanyaan. Pertama, adakah memang orang yang bisa menjadikan langsung al-Quran sebagai petunjuk mendapati kita hidup dalam lingkungan kayak gini? Aku pikir tidak banyak atau bahkan tidak ada. Termasuk untuk ukuran mereka yang banyak dicitrakan bisa.

Mengapa demikian? Sebab yang selama ini mereka lakukan bukanlah menjadikan al-Quran, tetapi menjadikan penafsiran orang lain—sosok yang bagi mereka berhak (bedakan dengan lebih berhak), kiai semisal—sebagai petunjuk. Kita saja contohnya, tatkala dirundung masalah—seperti bimbang memilih jodoh—pernah ndak kita secara sadar langsung membaca al-Quran dan mencoba menemukan jawaban di dalamnya? Aku yakin jarang atau malahan tidak pernah. Mentok, kita sebatas tanya pada mereka yang kita anggap eksper.   

Bukankah justru ini lebih baik dan terkontrol? Dalam beberapa keadaan, mungkin iya. Tapi, jika dikembalikan pada isi khotbah, saya pikir bukan itu yang dimaksud dengan “menjadikan al-Quran sebagai petunjuk hidup”. Pasalnya, yang paling tau urusan kita berikut segala problemnya adalah kita sendiri, sehingga adalah masalah pula semisal kita cukup menggantungkan apa itu yang kita sebut sebagai “petunjuk al-Quran” pada tafsiran liyan—tak usahlah pandang kiai atau tidak.

Kedua, meski toh ternyata di ruang tertentu ada segolongan—seperti mereka yang mengklaim dirinya sebagai peneliti  dalam Lembaga Studi al-Quran dan Hadis—yang lebih percaya atas anggitannya sendiri soal al-Quran dan petunjuk, sudahkah mereka bisa disebut berhasil? Masih tidak. Apa yang mereka perbuat tersebut tidak lebih dari pemerkosaan maksud al-Quran sesuai keinginannya sendiri. Sesuai kepentingan hidupnya. Yang ada bukan al-Quran yang mereka jadikan petunjuk, tetapi sebaliknya.

Untuk yang terakhir, saya suka menyebut mereka sebagai prajurit perang. Segerombolan yang melihat al-Quran lebih sebagai objek. Sebagai musuh. Saat ingin berhadapan dengannya, mereka merasa perlu untuk menghiasi tubuhnya dengan perlengkapan perang, yang oleh sebab itu juga lahirlah alat-alat seperti sabab al-nuzul, makki madani, ayat al-lail wa al-nahar, dan sebagainya. Beberapa nama tersebut murni dimunculkan untuk menempatkan diri dan keinginannya sebagai panglima dan al-Quran sebagai musuh bebuyutan. Lalu, masuk akalkah jika saya menyebut golongan ini sebagai yang lebih mampu menjadikan al-Quran petunjuk? Mari kita renungkan.

Maksud dari Hudallilmutaqin bukanlah apa saja yang ditafsirkan atau dinarasikan oleh mereka yang “berwenang”, bukan juga apa yang ditafsirkan golongan kedua, tapi adalah al-Quran itu sendiri. Biarlah al-Quran bergerak sesuai keinginannya. Kita cukup mengamati serta menghayatinya ber-revolusi sesuai versinya. Bukankah Nabi Muhammad—yang banyak dipercaya sebagai sosok perombak tatanan sosial luar biasa—tidak menafsirkan al-Quran kecuali sedikit saja?

Ah mbuh. Akhirnya, khotbahnya berhenti. Aku melihat beberapa orang di sekitar juga sudah mulai menguap bosan. Waktu yang pas untuk beranjak salat. Selamat salat Jumat, kak!zav

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.