Pelukan yang Mematikan dan Kisah-Kisah Membosankan Lainnya

tubanjogja.org – Pelukan

Pelukan

Aku Memelukmu

Pelukan yang Mematikan

 “Kamu jahat!”

“Maaf, El.”

“Kenapa tidak bilang kalau mau datang terlambat?”

“Ini di luar dugaan!”

“Kamu tahu nggak? Satu jam aku nunggu di sini. Satu jam! Kalau kamu bilang lewat telepon, kek. Chat, kek. Sms juga. Aku kan udah naik taksi dari tadi.”

“Iya, aku tahu. Tapi ini di luar kemauanku. Tolong dengarkan dulu penjelasanku.”

Aku tahu kesalahanku. Eliana pasti menunggu di sini dengan segala kecemasannya. Sebab langit mendung dan di sini sangat sepi. Aku tidak tahu kenapa sesepi ini. Tidak seperti biasanya.

Eliana bekerja sebagai suster di rumah sakit ini. Dan, setiap sore, kalau ia mau pulang, pasti aku yang menjemput. Sore ini, tidak seperti biasanya yang tepat waktu, aku telat menuju ke sini.

“Tadi ada nenek-nenek minta tolong dianterin ke rumahnya. Nanti kujelaskan semua.” Kataku. Dan memang benar hal itu yang terjadi. Seorang nenek, dengan tubuh dan pakaiannya yang kumal, berdiri di depan pintu gerbang rumahku. Minta tolong agar diantar pulang ke rumahnya. Aku ingin menolak dan mengatakan sedang buru-buru, tetapi nenek itu terkesan memaksa meski aku belum mengutarakan sepatah kata. Dan, aku takut ketika menatap matanya. Mata yang tajam dan di bawahnya, kulit berwarna hita,. Seperti orang sakit parah atau orang yang jarang tidur.

Entah kenapa, akhirnya, aku mengantarnya pulang. Ya, memang, rumahnya tidak terlalu jauh, tetapi, hal itu tetap cukup mengganggu. Sebab, di jalan, sebelum sampai ke rumahnya, ada keanehan yang tidak biasa terjadi. Mobilku berjalan sangat pelan, padahal sudah kugas penuh. Seperti ada yang menariknya dari belakang.

Ketika menyetir, sesekali aku melirik nenek itu. Hih. Orang yang mengerikan. Rambutnya panjang dan beruban. Bibirnya terus menerus menggumamkan yang entah apa aku tak tahu. Tak jelas sampai di telingaku. Tangannya begitu aktif menunjukkan jalan yang harus kulalui untuk menuju rumahnya.

Dan, ketika sampai di rumahnya, tiba-tiba ia memelukku. Berkali-kali ia mengatakan terima kasih.

“Iya, Bu…” kataku waktu itu. Aku tetap memanggilnya ‘Bu’, bukan ‘Nek’, sebab menurutku hal itu lebih terdengar sopan. “Aku pamit dulu. Aku sedang buru-buru.”

Ia tetap memelukku, seolah-olah aku ini anaknya yang lama merantau dan baru pulang. Tidak lama kemudian, ia melepaskan pelukannya. Aku agak lega. Ia tersenyum. Sumringah, memang. Tetapi tetap terlihat menyeramkan.

Hujan turun. Hal itu menyadarkanku dari sebuah lamunan. Aku melihat Eliana yang melihatku dengan keheranan. Tiba-tiba ia memelukku. Dan, reflek, aku membalas pelukannya.

“Mas, aku takut!” katanya. Merengek seperti bayi. Air matanya membasahi pipinya.

“Takut kenapa?” jadi, aku sekarang yang heran.

Ia tidak menjawab. Kurasakan napas dari hidungnya menyentuh leherku.

“Yaudah. Maafin aku, ya. Besok, aku janji nggak akan telat lagi, kok. Sekarang, ayo pulang.”

Eliana malah erat memelukku. Seperti tidak mau melepaskannya. Aku tahu, ia benar-benar takut. Berkali-kali aku merasa bersalah. Ketika aku ingin melepaskan pelukan, rasanya tanganku kaku. Aku tidak bisa bergerak. Sedangkan di leher, aku merasakan mulut Elisa mencecapku.

Aku kira, ia cuma bercanda (seperti biasanya). Tetapi, lama-lama, aku merasakan sakit yang tiada tara. Darah mengucur dari leherku. Aku berteriak, tetapi tidak ada yang mendengar teriakanku. Kemudian, mataku berkunang-kunang dan kepalaku pusing. Aku berhenti berteriak. Sampai tubuhku tergeletak di pinggir jalan dengan darah yang menggenang.

Darah merah yang bercampur air hujan.[]

Sumur Tua

Seseorangpemuda melongok ke sebuah sumur tua di kampung kami. Di sana, ia ingin menimba air. Tetapi, sumur itu terlalu kelam dan dalam, sehinggatak terlihat permukaannya. Ia mengambil buah kelapa yang kebetulan berada di dekatnya untuk kemudian dilemparkan ke sumur itu. Tidak ada bunyi apa pun yang menandakan di dalamnya ada air. Kelapa itu seperti menguap sebelum sampai ke dasar.

Pemuda  itu memaki, “Sumur bego! Musim hujan seperti ini masih saja airnya tidak kelihatan!”

**

Esoknya, ada kabar ditemukannya seorang pemuda mati di dekat sumur tanpa kepala. Dan sumur itu masih saja tak kelihatan airnya. Sementara pemuda  itu sampai kini sering mengunjungi rumah-rumah di kampung kami dan terus meminta kepalanya kepada siapa pun yang ditemuinya.

Sebelum pergi dari kampung itu, aku melihat terakhir kali ia mengunjungi rumahku dan meminta kepalaku. Kini, aku juga ikut meminta kepala orang-orang yang kutemui.

Pengakuan Seman

Seseorang telah membunuhku dengan cara yang amat sadis. Aku tidak tahu pasti siapa pelakunya. Yang jelas, perutku tiba-tiba sakit dan setiap malam, kutemukan besi-besi kecil keluar dari sana. Pelan-pelan menembus kulit dari dalam. Begitu menyakitkan. Setiap kali besi-besi kecil itu keluar, yang bisa kulakukan hanyalah berteriak penuh kepiluan. Seseorang telah memasukkan besi-besi kecil itu ke dalam perutku dengan cara yang tak kasatmata.

Itu kurasakan selama tiga hari tiga malam. Lalu, aku mati. Tubuhku tiba-tiba mengkerut. Berubah menjadi sangat kecil, seperti boneka barbie. Entah kenapa hal itu terjadi.

Kini, rambutku sangat panjang, sebagaimana taring gigi dan kuku-kukuku yang panjang. Setiap kali aku muncul dan dilihat orang, aku akan tampak lebih mengerikan. Darah menetes perlahan dari mulutku dan aku tak bisa menolaknya. Aku ingin membunuh orang yang kutemui. Siapa saja. Aku ingin mengisap darahnya.

Ya, darah adalah minumanku sekarang.

Orang-orang menyebut namaku sebagai jenglot. Nama yang buruk. Dan memang seburuk kelakuanku. Tetapi toh aku tetap tidak akan peduli. Apa yang harus kupedulikan jika waktu hidup aku tidak pernah dipedulikan?

Ya, ketika aku berteriak kesakitan, orang-orang tak ada yang peduli. Seolah aku ini babi yang memang harus mati. Orang-orang di kampungku semuanya membenci babi, tetapi tidak pernah membenci kebenciannya sendiri. Akhirnya, kini aku akan menganggap mereka sebagai babi-babi yang siap saji. Aku akan membunuh satu per satu dari mereka setiap hari.[]

Cara Terbaik Memanggil Jalangkung

            Cerita ini aku tulis di buku diary tepat pada jam 9 malam tanggal 4 Agustus 2015, di rumah.  

Suatu malam, aku pernah memanggil jalangkung dan itu berhasil. Aku melakukannya sendirian di kuburan samping rumahku. Setelah itu, aku tidak ingin lagi mengulanginya. Sebab, begitu jalangkung itu datang, ia membawaku terbang. Ia membuatku kapok minta ampun.

Mula-mula, aku merapalkan mantra yang itu pemberian dari Bandu (dan tatacara memanggil hantu itu sebenarnya dari dia juga), tetanggaku yang terobsesi dengan hantu. Mantra itu aku rapal berulang-ulang sampai kemudian jalangkung itu benar-benar datang. Boneka kayu yang aku pegang, bergetar. Tiba-tiba tubuhku melayang seperti diterjang angin yang sangat kencang.

Aku dibawa jalangkung itu. Kemudian, tanpa kusadari, tubuhku bersandar di batang pohon yang berada di tengah hutan. Entah hutan mana, aku tidak tahu. Lalu paginya, seseorang menolongku. Aku diajak berjalan lurus ke timur (aku tahu arah timur karena matahari mulai muncul dan terlihat dari celah-celah dedaunan).

Kami sampai di jalan raya. Seseorang itu menyuruhku naik bus. Bus yang akhirnya melewati jalan raya di depan rumahku. Aku tak akan mengulangi lagi mamanggil jalangkung. Itu adalah satu-satunya kalimat yang aku gumamkan ketika sampai ke rumah.

Mungkin, jika kau ingin tahu cara memanggil jalangkung, beginilah:

Waktu itu, aku membuat bonekanya dari batok kelapa sebagai kepalanya. Tubuhnya aku buat dari ranting pohon, tangannya juga. Tidak perlu diberi kaki. Kemudian, untuk membuat baju boneka itu, aku memakai kain kafan yang sudah kulumuri minyak wangi (iya, betul-betul aku lumuri, sehingga wanginya sangat menyengat).

Eh, hampir lupa. Kain kafan itu aku kotori dengan tanah yang ada di kuburan. Sebab, bagitulah caranya yang kudapat dari Bandu. Kemudian, aku pergi ke kuburan pada malam hari (entah jam berapa, aku lupa. Yang jelas, di atas jam 10).

Aku membaca mantra yang kalau ditulis sebagai teks akan seperti ini:

Hong hiyang ilaheng hen jagad alusan roh gentayangan ono’e jaelangkung jaelangsat siro wujude neng kene ono bolone siro wangsul angslupo yen siro teko gaib wenehono tondo ing golek bubrah hayo enggalo teko pangundango hayo ndang angslupo ing rupo golek wujud, wujud, wujud.

**

Sedikit catatan mengenai diary ini: Sehari setelah aku dibawa jalangkung, aku bercerita kepada Bandu. Ia marah-marah padaku. Sebab, cara terbaik memanggil jalangkung itu harus bersama orang lain, tidak sendirian, katanya. Mungkin jika kau ingin mencobanya, ajaklah teman-temanmu (tapi harus ganjil). Bergandengan tanganlah kalian. Yang satu membaca mantra sambil memegangi boneka, yang lain memegangi bonekanya saja. Jika semuanya sudah diterapkan dan berhasil, usahakan kalian jangan lari tepat ketika jalangkung itu datang. Sebab, hal itu akan lebih membahayakan. Terima kasih.[]

Daruz Armedian, buku kumpulan cerpennya yang akan terbit Sifat Baik Daun (Penerbit Basabasi)

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.