Melihat Islam dari Luar Jendala

tubanjoga.org – Orientalis

Orientalis Melihat Islam

Melihat Islam

Oleh: Rihza*

Ketika mendengar istilah “orientalis” apa yang pertama kali terlintas dalam pandangan kita? Tentu menimbulkan berbagai macam pandangan dan pendapat, bukan? Pengalaman penulis ketika pertama kali mendengar istilah orientalis adalah sekelompok orang yang mengkaji Islam beserta seluk beluknya. Ini dilatarbelakangi, pada mulanya, oleh keinginan untuk meruntuhkan Islam. Keinginan tersebut lahir berkenaan dengan perang salib pada abad 11 Masehi yang kemudian menjadi semangat bagi orang Barat untuk mengkaji Timur, terutama Islam. Langkah awal yang  mereka lakukan adalah menerjemahkan teks-teks Bahasa Arab ke dalam Bahasa latin.

Studi atas ketimuran bermula sejak abad 19, yang mencakup tentang sejarah, bahasa, dan budaya yang berasal dari Asia dan Afrika Utara. Kajiannya berawal dari unsur kebahasaan dan filologi dalam arti yang luas. Studi terhadap ketimuran didasarkan pada studi klasik dan hampir selalu berhubungan dengan masa lampau. [1]

Sebelum menyelam lebih dalam, rasanya kita penting untuk mengetahui dulu makna orientalisme. Secara bahasa, ia merupakan ilmu tentang ketimuran. Orient merupakan lawan dari oksident, yakni berarti Timur. Adapun maksud dari Timur adalah dunia yang berada di wilayah bumi sebelah Timur dan bisa juga wilayah bagian selatan.[2]

Istilah tentang Timur dipopulerkan oleh orang Barat setelah masa-masa industrialisasi di Inggris atau selepas ditemukannya mesin uap. Sedangkan motif pertama orang Barat berkunjung ke wilayah Timur adalah penjajahan yang didominasi oleh aspek politik dan ekonomi. Orang yang berada di wilayah Timur lebih dikenal dengan orang yang bisu terhadap dirinya sendiri. Maksudnya adalah orang Timur tidak melakukan pengkajian terhadap dirinya sendiri. Namun hal ini bukanlah menjadi hal yang mendasar karena kita juga mengetahui ada banyak karya yang dihasilkan oleh para sarjana dan Ilmuwan Muslim.[3]

Dalam keadaannya, harus diakui bahwa beberapa orang dari para orientalis telah menghabiskan sebagian umur, kemampuan, dan kekuatan mereka untuk mempelajari Islam. Mereka melakukan bentuk pengkajian tanpa ada unsur politik, ekonomi atau agama, tetapi semata karena ingin mendalami Islam secara lebih intim.[4] Akan tetapi, ada beberapa kalangan yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Masalah semacam ini memang terlampau biasa di semesta akademik.

Jika dipahami lebih lanjut, kajian yang dilakukan oleh para orientalis tidak mencakup secara keseluruhan. Pasalnya, kebanyakan dari mereka mengkhususkan pembahasan, di antaranya dari segi bahasa, filologi, dan sejarah. Sumber yang mereka gunakan pun tidak lengkap, hanya berpatokan dengan beberapa saja. Terlepas dari itu semua, sikap mereka dalam mengkaji Islam sangatlah besar, sehingga sebagai insider, dapat mencontoh semangat mereka terhadap penelitiannya atas Islam. Di samping itu, sikap profesionalitas dan komitmen yanng mereka miliki pada keilmuan menjadikan mereka sering melakukan penelitian dan terus mengajar, menyampaikan penelitiannya. [5]

Saat ini para pengkaji Timur atau orientalis tidak ada yang senang hati disebut orientalis. Rata-rata dari mereka lebih suka disebut sebagai Islamisis atau ahli keislaman yang merujuk kepada bidang, kajian, area, region dan yang bermakna positif. Sebab bagaimana pun, kajian terhadap ketimuran ini telah meletakkan dasarnya sendiri.[6] Hingga saat ini kajian-kajian terhadap bahasa, budaya, dan agama merupakan pokok dari studi Islam yang dipelajari, khususnya di Jerman.[7]

*Rihza, siswi kelas 7

di sekolah Kalijaga Jogja

 

[1] Azim Nanji, Peta Studi Islam: Orientalis dan Arah Baru Kajian Islam di Barat, terj. Muamirotun ( Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2003), hlm 2

[2] Al Makin, Antara Barat dan Timur: Batas , Dominasi, Relasi, dan Globalisasi ( Yogyakarta, Suka Press, 2017), hlm 36

[3] Penjelasan ini penulis dapatkan  ketika mengikuti mata kuliah Pemikiran Hadits Orientalis pada tanggal 21 Februari 2017.

[4] Bey Arifin, Islam dan Para Orientalis (Surabaya : Bina Ilmu, 1983), hlm 18

[5] Al Makin, Antara Barat dan Timur: Batas, Dominasi, Relasi, dan Globalisasi . . . hlm 99

[6] Al Makin, Antara Barat dan Timur: Batas, Dominasi, Relasi, dan Globalisasi  . . . hlm 101

[7] Azim Nanji, Peta Studi Islam: Orientalis dan Arah Baru Kajian Islam di Barat, terj. Muamirotun. . . hlm 3

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.