Pertanyaan Tidak Penting Muttakin Tentang Menulis Cepat

Apa yang akan kamu lakukan jika sekarang, di belakangmu ada seorang menodongkan pistol sambil meyuruhmu menulis cepat, minimal lima ratus kata?

Itu pertanyaan Muttakin di warung kopi Blandongan, Yogyakarta, pada suatu malam yang dingin di tanggal 27 Juli 2017. Aku menjawabnya dengan cepat: aku akan menulis saat itu juga.

Ia meneruskan pertanyaannya, berarti kamu menulis seperti robot? Aku langsung menjawab pertanyaannya, agar tidak salah paham. Tidak. Aku pikir itu bukanlah robot. Hanya, pada saat-saat yang seperti itu, kita, sebagai manusia yang diancam. Manusia yang diancam memang menyerupai robot, namun di saat yang sama, ia punya rasa ‘melawan’. Robot tidak. Sekalipun itu melawan dalam hati.

Ada tiga yang harus kupilih ketika hal itu menimpaku. Pertama, aku akan diam, tapi dalam hati aku akan melawan. Melawan tindakannya yang kejam, misalnya. Aku menolak kekejaman. Dan, menolak kekejaman termasuk melawan. Akan tetapi, melawan dalam hati adalah tindakan orang-orang yang lemah. Itu masuk dalam kategori rapuhserapuhrapuhnya perlawanan.

Kedua, aku akan menengok ke belakang, melawan dengan tangan kosong. Akan tetapi, itu adalah pilihan yang buruk, sekalipun bisa dikatakan pemberani. Sebab, ia sedang memegang pistol. Jika ada gelagat melawan dengan fisik, aku akan ditembak seketika. Itu adalah kecerobohan. Melawan tidak akan berhasil kalau kecerobohan masih bersemayam di sana.

Ketiga, adalah pilihan yang paling aku sukai. Aku akan menulis. Mungkin dengan tulisan yang berbentuk puisi, cerpen, atau essai, atau cuap-cuap sewajarnya. Dan, dengan itu, aku akan memasukkan unsur perlawanan. Sebab, aku membayangkan, seseorang yang menodongkan pistol di belakangku itu adalah orang yang bengis. Jika aku tidak selesai menulis, dalam waktu yang sudah ditentukan orang itu, aku akan tetap dibunuh. Kemungkinan, jika aku mati, tulisan itu sudah kukirimkan pada seseorang. Atau, kalau itu terlalu berlebihan, tulisan itu aku simpan. Sebab, kemungkinan besar, seseorang yang memegang pistol itu tidak akan mengerti maksudku. Aku bayangkan ia seorang yang sangat bodoh. Bodohsebodohbodohnya.

Tiba-tiba Muttakin berseloroh, ah, kamu terlalu imajinatif.

Ah, pertanyaanmu dari awal tadi juga imajinatif. Mana mungkin di warung kopi yang ramai ini ada seseorang yang bebas menodongkan pistol, yang bahkan pada seorang pencerita ulung dan kusam gara-gara jarang mandi, yang kemungkinan juga kantongnya tipis? Itu sangat imajinatif.

Oh, ya, apa pendapatmu mengenai imajinasi? Muttakin mulai membelokkan permasalahan.

Spongebob sudah menjelaskan itu ketika ia bersama Patrick membeli televisi dan mereka cuma mengambil kardusnya sedangkan televisinya dibuang yang kemudian diambil Squidward.

Apakah imajinasi penting terhadap Menulis yang Cepat?

Sebenarnya aku ingin tidak menjawab pertanyaannya. Akan tetapi, entah kenapa, ada saja yang mendorongku untuk mengeluarkan suara, yang itu kebetulan keluar sebagai jawaban atas pertanyaan Muttakin kali ini.

Imajinasi sangat penting untuk keperluan menulis cepat. Apalagi berbentuk cuap-cuap seperti ini. Misalnya, kamu bisa saja menuliskan apa yang ada di sekitarmu saat ini. Ada gelas berisi teh yang sudah mau habis. Kamu bisa menuliskan dengan cara yang amat imajinatif. Gelas itu, konon adalah milik Sun Go Kong sebelum dikurung di goa bertahun-tahun. Sun Go Kong sangat mencintai gelas itu, sehingga di manapun berada, ia membawanya. Akan tetapi, masalah pelik menimpa dia. Dia dikurung karena telah melakukan ‘dosa’. Gelas itu terpental ke Indonesia, tepat di dapur Warung Kopi Blandongan. Kemudian, seseorang mengantarkan gelas itu berisi teh ke hadapanmu karena kamu telah memesannya. Teh itu kamu minum, sampai sekarang mau habis.

Nah, masalah gelas berisi teh yang mau habis saja kamu sudah bisa menuliskan beberapa kata. Bukan tidak mungkin akan cepat menuliskan kata-kata yang banyak sekaligus cepat jika kemudian kamu sebutkan semuanya, dengan daya imajinasi masing-masing. Cangkir dengan tutupnya yang tergeletak di meja, papan catur yang bisa dilipat, orang-orang sedang menghisap rokok, pelayan sedang mondar-mandir, payung yang sengaja dipasang di atas meja bundar, laptop yang terbuka tapi tidak digunakan, telepon pintar yang memenjarakan sepasang mata pemiliknya. Bagaimana? Cepat bukan?

Hmmm. Kalau begitu….

Muttakin menghentikan omongannya. Dia diam karena ada seorang perempuan lewat di sampingnya dengan parfum yang sangat wangi. Mungkin ia sedang tergoda.

Ya, begitulah kawan. Itu adalah beberapa pertanyaan yang tidak penting Muttakin mengenai Menulis Cepat. Aku tidak akan memberikan tips-tips menulis cepat. Itu tidak baik bagi kesehatan orang yang hendak belajar menulis. Sebaliknya, aku akan menulis ini. Ya, seperti ini. Setidaknya aku langsung bisa mempraktekkannya. Mungkin, kamu juga bisa melakukan hal yang sama.

Tepat, pada paragraf ini, aku sudah menyelesaikan lima ratus kata lebih. Dan, itu sudah bisa dikatakan berhasil. Mungkin kamu tidak akan menyadarinya, bahwa sekarang, pada saat menulis ini, aku membayangkan seseorang telah mengancamku untuk segera menulis dengan cepat setidaknya lima ratus kata. Dan, inilah hasilnya.

Apakah Saudara Muttakin ada pertanyaan tidak penting lagi?

Ada. Kenapa kita harus ada di dunia?

Ah, biarkan Joko Dalem dan Mbah Takrib yang memikirkan itu. Mereka filsuf Blandongan.

 

Blandongan, 2:26 AM, 27 Juli 2017

NB: gambar diambil ketika Muttakin sedang bingung dengan pertanyaannya mengenai imajinasi dan aku menjawabnya dengan ‘Spongebob…..’

baca juga, nggedabus  tubanjogja.org

oleh: Tanpaspasi

Tanpaspasi, lahir dan berkarya tidak untuk dikenang.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Tanpaspasi berkata:

    kok daruz mas?

  2. Taqin berkata:

    Mas darus memang inspriratif dan imajinatif, aku tidak bisa membayangkan pertanyaan seperti itu bisa menjadi sebuah tulisan yang cukup indah, memang harus hati-hati ya ngomong sama orang pinter, aku kaget ketika bangun tidur ada update tulisan judulnya ada namaku, aku membayangkan di tangan penulis bulu jatuhpun atau apapun yang menurutku tidak mungkin menjadi mungkin dan menjadi sebuah catatan. Makasih kakak Darus dari sini aku bisa memetik hikmahnya,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.