Epistema Cinta III: Mari Move On dengan Lirik Lagu “Tahun 2000”

Epistema Cinta – Hati penulis tersentak ketika membaca tulisan Ida Ayu, seorang yang mengaku mantan selingkuhan Mbah Takrib. Berjudul Epistema Cinta II, mengulas soal kegalauan masa remaja yang hari ini semakin mewabah dan menjadi tren era digital, atau lebih tepatnya era jamur berjenis media sosial (medsos). Bagiama tidak, sekarang kita bisa dengan mudah memahami kondisi perasaan seseorang hanya dengan mengecek status mereka yang berseliweran di medsos. Dan menariknya, kadang tidak hanya soal status yang terdiri dari rangkaian kata-kata puitis berserta emot yang menggemaskan, tetapi juga diselingi irama lagu yang terasa mirip video klip.

Epistema Cinta III: Mari Move On dengan Lirik Lagu "Tahun 2000"

Ilustrasi gambar diambil di internet

Irama dan lirik lagu itu, menurut ida Ayu bisa menjadi obat penenang sekaligus racun. Menjadi obat penenang untuk mendapat bembenaran-pembenaran sikap seperti dalam lirik yang dinyanyikan. Dan menjadi racun ketika terlalu larut dan mengikuti begitu saja sekenario certita dalam lirik lagu, tanpa pikir panjang. Sedangkan sebagaimana kita ketahui (tanpa menyebut contoh), hari ini banyak lagu-lagu yang liraknya cukup vulgar dan kelaur dari batas norma-etik.

Di titik itu, saya sepakat dengan Ida Ayu, soal analisisnya yang kritis-sinis tentang fakta sosial kegalauan cinta remaja—mirip dengan pembacaan kawan saya bernama Zev, yang kabarnya juga lagi patah hati. Bahwa perasaan, selera, kesadaran dan lingkungan, sesungguhnya saling terkait erat dan tidak alamiah terjadi begitu saja. Tetapi merupakan bentukan dari sistem sosial yang ada, –dalam penyontohan Ida Ayu–dengan ditunjang perkembangan teknologi. Baik Ida Ayu atau Zev,  nampak sedang mengamini teori sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger, tentang konstruksi sosial.

Berger berkesimpulan, bahwa dalam terbentuknya—karakter—individu dan masyarakat yang evolutif, terdapat tarik-ulur yang saling mempengaruhi. Ia menyebut, terjadinya hal itu melalui tiga tahap prosese yang dinamai sebagai eksternalisasi, obyektivikasi dan internalisasi.

Dalam fenomena kegalauan cinta yang di ulas Ida Ayu, sebagai fakta sosial. Dapat kita fahami bahwa update satus di medsos, merupakan suatu tindakan eksternalisasi individu, yaitu pencurahan kedirian seseorang ke dalam lingkungan sosialnya. Dan produk yang dihasilkan berupa update status yang kemudian berada diluar diri individu tersebut adalah obyektivikasi. Sedangkan, terserapnya update status oleh masyarakat dalam bentuk informasi yang kemudian mempengaruhi setiap individu didalamnya itu, disebut internalisasi.

Rasionalisasi demikian logis, dengan catatan masyarakat yang dimaksud Berger adalah kenyataan obyektif sekaligus subyektif. Sebagai kenyataan obyektif, masyarakat berada diluar diri manusia dan saling berhadap-hadapan dengan individu. Sedangkan sebagai kenyataan subyektif, individu adalah bagian dalam masyarakat yang tak terpisahkan. Dengan kata lain, individu membentuk masyarakat dan masyarakat membentuk individu.

Selanjutnya, kenyataan atau realitas sosial juga bisa bersifat ganda, baik sebagai obyek maupun subyek. Menjadi obyek, ketika kenyataan berada di luar diri manusia. Dan menjadi subyek, jika kenyataan itu berada di dalam diri manusia. Hal itu berlaku pula dalam fenemone kegalauan cinta di medsos.

Maka sebagai individu, kita harus memahami bahwa diri kita bukanlah entitas tunggal. Tetapi juga menjadi bagian dari sistem masyarakat yang komplek. Sehingga segala tindakan yang kita kerjakan, terutama yang terpublis (bukan pamer) harusnya rasional, bertanggung jawab dan konstruktif. Sebab, secara langsung atau tidak, tindakan itu mempengaruhi pergeseran perubahan dalam masyarakat dan lingkungan.

Lalu, apakah  fenomen penggunaan medsos untuk mencurahakan kegalauan cinta adalah sesuatu yang salah atau tidak tepat? Dan apakah pemutaran lirik lagu yang sesuai dsuasana hati adalah cara move on yang baik? Tentu tidak bisa dihakimi demikian. Sebab salah atau benar, tepat atau tidak dan baik atau buruk adalah sesuatu yang bergantung pada nilai. Dan sistem nilai inilah, oleh Berger dianggap sebagai fondasi penjaga tradisi dan budaya dalam masyarakat.

Sistem nilai itu, menurut Berger bisa bersumber dari ajaran agama maupun warisan moral etik dari para leluhur dan lainnya. Maka wajar, jika dalam tulisannya pada paragraf terahir, Ida Ayu mengajak para pembaca untuk membaca al-Quran bila sedang dilanda kegalauan. Sebab mungkin ia seorang muslimah yang taat dan memegang teguh anjuran agamanya.

Atau juga maksud Ida Ayu, agar kita para pembaca tidak tercerabut dari akar tradisi dan budaya di dalam masyarakat. Karena hadirnya fenomena baru yang seolah membudaya tapi tidak dilandasi oleh nilai yang jelas, dapat menggeser budaya asal sebagai penjaga stabilitas sistem masyarakat. Sebagai contoh publikasi kegalauan di medsos, justru meleburkan batas privat si subyek. Mereka tanpa rasa ragu, secara leluasa menjadikan sesuatu yang terjadi pada dirinya sebagai konsumsi khayalayak banyak. Disinilah kadang batas kehormatan dan rasa malu menjadi samar.

Lalu bagaimana dengan pelarian kegalauan lewat lagu-lagu patah hati? Pengalaman penulis, itu sungguh menyakitkan dan menambah rasa sakit karena mengurai luka yang menganga. Kecuali jika  kita memang sedang mengalami masocis syndrom dalam cinta, menikamati rasa sakit dari setiap patahan-patahan; meresapi setiap kenangan bersama mantan dan memupuk kesalahan-kesalahannya menjadi dendam.

Bagi penulis, cara terbaik keluar dari situasi patah hati atau bahasa gaulnya move on adalah melaksanakan sesuatu yang sama sekali tidak berkaikatan dengan mantan, termasuk menikmati lagu. Dan dengan maksud jahat menunggangi isue patah hati, penulis hendak mengulas lagu dari Nasidaria berjudul “Tahun 2000” yang populer era 90an.

Bagi pemuda desa yang tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan kampung yang religius, tentu tidak asing dengan lagu tersebut, sebab sering dipentaskan dalam acara-acara agama seperti maulid nabi, haul dan lainnya atau diputer di sound sistem dengan volume keras saat acara nikah dan khitan. Tetapi bagi yang belum pernah mendengar, akan penulis kutip liriknya:

Tahun 2000

Tahun 2000 tahun harapan,
yang penuh tantangan dan mencemaskan
wahai pemuda dan para remaja,
ayo siapkan dirimu
siapkan dirimu, siap ilmu siap iman
siap

Tahun 2000 kerja serba mesin,
berjalan berlari menggunakan mesin
manusia tidur berkawan mesin,
makan dan minum dilayani mesin
sungguh mengagumkan tahun 2000
namun demikian penuh tantangan

Penduduk makin banyak,
sawah ladang menyempit
mencari nafkah smakin sulit
tenaga manusia banyak diganti mesin,
pengangguran merajalela

Sawah ditanami gedung dan gudang,
hutan ditebang jadi pemukiman
langit suram udara panas
akibat pencemaran

Wahai pemuda remaja
sambutlah tahun 2000
penuh semangat
dengan bekal ketrampilan,
serta ilmu dan iman”
bekal ilmu dan iman

Lirik lagu di atas adalah lagu yang menerangkan tentang ramalan situasi dan kondisi  tujuh tahun silam, tahun 2000. Dan apa hubungan dengan kegalauan cinta remaja? Kita bahas lain waktu saja ya? Penulis letih.

*Oleh Harmoko, kekasih gelap Ida Ayu.

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.