Karma atau Konsekuensi?

Karma dan Konsekuensi

Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) dari padanya. dan Barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (al-Nisa’: 85)

Jika diperhatikan, ayat ini berusaha untuk membantu kita menyadari akan pentingnya kata “konsekuensi”. Sejenis cara kecil untuk meresapi masalah-masalah dalam hidup. Entah kita mau menerima atau tidak, kehidupan dan permasalahan adalah dua sisi yang menempel pada satu koin. Masalah merupakan kemestian hidup. Suatu kemestian yang jelas ada sebab tertentu di baliknya. Dan pada titik inilah rasanya ayat di atas mengandaikan siapa saja untuk selalu memetakan secara teliti setiap persoalan yang menerpanya. Setidaknya menganjurkan untuk sadar “konsekuensi”. Sadar jika itu dilakukan, maka akibatnya adalah ini, semisal.

Secara tersirat, ayat tersebut juga tengah menggiring kita untuk sekilas mempertanyakan soal karma. “Karma” oleh kebanyakan manusia Indonesia hari ini dipahami sebagai istilah untuk menyebut suatu kejadian yang sebabnya tidak jelas atau sudah melewati beberapa peristiwa sebelumnya. Sebagai ilustrasinya adalah rentetan sebab-akibat berikut: A mengakibatkan B, dari B lahir C, dan D ditentukan C. Dari contoh itu, melalui konsep karma, seorang pasti menyimpulkan jika A lah yang menentukan D, padahal yang sebenarnya menentukan D adalah C. Dan kiranya, melalui kesadaran atas “konsekuensi”, kita bisa sesegera mungkin beranjak dari gaya beranggitan sedemikian itu. Saat kita memilih untuk memutus status dengan seorang spesial sebab mencintai yang lain, lantas beberapa waktu setelahnya kita diputuskan seorang yang kita cintai, maka itu bukanlah karma, melainkan ya hanya akibat dari ketidakcocokkannya dengan kita sehingga sepertinya kita tidak perlu lagi untuk terhantui dengan istilah tersebut.

Sebagaimana juga dengan ayat 85 surah al-Nisa. Dijelaskan di dalamnya bahwa pada setiap perilaku kita, apalagi yang melibatkan orang lain, terkandung dampak tertentu. Ketika kita mau membantu teman belajar, niscaya kita tidak akan kesulitan untuk mencari bantuan bila membutuhkan. Kenapa bisa begitu? Sebab semua yang kita lakukan terhadap liyan itu adalah investasi, konsekuensi atau nashibun minha. Begitu juga sebaliknya, kita akan mendapatkan tanggungan, kiflun minha, saat kita sering abai terhadap mereka.

Walhasil, di situlah kita perlu untuk sadar bahwa dalam kehidupan ini, segala aktifitas memiliki konsekuensi, sehingga ke depannya kita lebih bisa bijak dalam bertindak. Minimal, itu bisa dibumikan dengan memastikan diri sendiri untuk memiliki alasan dalam menjalani setiap aktifitas dalam keseharian kita. Ringkasnya demikian.[red.]

baca juga, jum’atan tubanjogja.org

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.