Tukang Kutuk


Oleh: Daruz Armedian

Kalau senja yang murung berganti gaun dan malam telah mendentangkan loncengnya, jangan sekali-kali bermain di taman itu, Anakku. Tukang kutuk akan keluar dan barangkali nanti mengutukmu jadi batu.

Begitulah Nyai Dasimah selalu mengingatkan anak-anaknya saat magrib tiba. Dan anak-anak itu percaya. Mereka takut dan memeluk ibunya yang janda. Dengan seksama mereka menyimak cerita demi cerita perihal kutukan yang biasa menimpa anak-anak nakal. Anak-anak yang enggan pulang dari bermain saat sore sudah pergi ke pintu kepergian bersama matahari yang tenggelam, meski tak sungguh-sungguh tenggelam.

Maksud Nyai Dasimah adalah taman di samping kiri rumahnya. Agak jauh memang. Kalau dalam perhitungan jarak, kira-kira akan ditemukan setengah kilometer lebih sedikit. Tetapi siapa yang bisa menyana otak anak-anak? Mereka tidak mementingkan jauh tidaknya tempat bermain. Yang penting mengasyikkan.

Taman itu ditumbuhi pohon-pohon besar sehingga anak-anak suka bermain di sana. Main petak umpet. Memanjati pohon-pohon, terutama pohon juwet dan asam Jawa yang jadi pilihan karena memang pohon itulah yang menghasilkan buah. Selebihnya hanya pohon yang menghasilkan kayu.

Para tetua, termasuk Nyai Dasimah, meyebut taman itu sebagai taman kutukan. Akan tetapi anak-anak kecil tetap percaya kalau taman itu taman tempat bermain. Mengingat selain banyak pohon-pohon, juga luas ukurannya. Bisa digunakan main sepak bola, lompat tali, main egrang, dan sebagainya yang bersifat tradisional.

Nyai Dasimah tidak melarang anak-anaknya bermain di sana. Hanya saja, ia mengingatkan kalau magrib harus pulang. Perempuan tua itu beruntung, sebab mereka—kedua anak Nyai Dasimah: Maryamah dan Jalal—adalah bocah yang penurut. Karenanya, ia selalu terhibur saat menjalani hari-hari yang sepi.

“Tukang kutuk itu perempuan atau laki-laki?” tanya Jalal, bocah tujuh tahun yang masih imut-imut dan menggemaskan itu pada ibunya.

“Laki-laki. Jahat. Wajahnya kumal.”

“Jahat?” Maryamah, bocah tiga tahun lebih tua dari adiknya itu bersuara dengan nada yang ditinggikan, seolah-olah meluap rasa ingin tahunya.

“Iya. Jahat. Jahat sekali.”

“Berarti sama dengan bapak dong?”
Nyai Dasimah bungkam. Seperti ada yang ia rahasiakan.

**

Tukang kutuk muncul. Muncul tepat di waktu yang sudah diterangkan di awal-awal cerita tadi. Tetapi tidak sebagai lelaki yang menyeramkan, melainkan sebagai kakek-kakek tua—yang namanya kakek, pasti tua, bukan?—dengan tongkat kecil sekecil ranting mahoni yang seukuran kelingking orang dewasa. Dengan muka melas dan hambar, ia menyuruh agar anak-anak buyar. Hari sudah beranjak malam, pulanglah. Ibumu sudah menunggu di rumah. Begitulah kira-kira ucapannya kalau ditulis berupa teks.

Tetapi, anak-anak tidak menghiraukan. Memang beberapa dari mereka ada yang pulang, tetapi pulang bukan karena kakek tua tersebut, melainkan memang ingin pulang. Sedangkan yang lain masih di situ. Sedang asyik membentuk wajah ibu dan ayah dengan tanah. Kemudian kakek tua mengulangi perkataannya dengan nada yang agak kencang. Anak-anak banyak yang pulang, termasuk Dasimah kecil.

Tetapi kepulangan itu masih menyisakan dua bocah yang memang dikenal warga sebagai anak nakal. Marji dan Marjo, kembaran yang lahir dari rahim istri kepala desa. Dua bocah itu tak menghiraukan karena sedang asyik membuat patung laki-laki dan perempuan yang telanjang kemudian tertawa karena patung itu mereka satukan. Mereka tidak mendengarkan perkataan seseorang yang sudah geram di dekatnya—atau jangan-jangan mereka tidak dengar dan tidak melihat orang itu karena kenakalannya?.

Kakek tua tersebut, ah maaf, tukang kutuk tersebut sudah sampai pada ujung kemarahan. Akhirnya, seperti dalam adegan Harry Potter, ia mengacungkan tongkatnya ke arah dua bocah itu dan mereka berubah jadi kunang-kunang. Mungkin hanya kutukan yang pantas disematkan, gumamnya geram.

Kunang-kunang itu menangis. Menangis yang sungguh-sungguh menangis. Mereka minta dikembalikan menjadi manusia, menjadi bocah kecil yang belum mengerti sakitnya patah hati. Tetapi dalam undang-undang per-kutuk-an di dunia mana pun, tidak ada kutukan yang bisa diganggu gugat. Dan kunang-kunang itu pun hanya bisa menyesal dengan wajah yang muram. Maka kau tahu, kenapa setiap kunang-kunang tak pernah menyalakan lentera yang menyilaukan, melainkan temaram?

Seantero desa geger karena mendengar berita hilangnya dua anak pak lurah. Dan di situlah salah satu bocah terakhir yang pergi dari taman waktu itu, Dasimah (umur dua belas tahun), mengatakan bahwa mereka dikutuk kakek tua menjadi kunang-kunang. Siapa yang tidak percaya pada mulut perempuan kecil yang tak punya bapak dan tak mengerti cara yang baik untuk berbohong itu? Akhirnya, seluruh elemen anak-anak di desa dilarang bermain di taman yang telah disebut dan ceritakan.

“Biarkan saya saja yang menderita sebagai orangtua yang kehilangan anaknya. Jangan sampai terjadi lagi pada kalian semua.” Kata kepala desa muda itu—lurah, kalau kau masih ngeyel menyebutnya lurah—bijak melebihi bijaknya motivator handal kita. Ia tersedu di hadapan tetangga-tetangganya.

“Tetapi anak jenengan itu anak nakal. Wajar saja.” Salah satu dari mereka nyeletuk.

Pak lurah bungkam.

**

Dasimah dewasa, dengan segala kesedihannya, mendengar kabar tidak mengenakkan lagi dari taman kutukan. Seorang bocah nakal yang tidak pulang waktu matahari tenggelam, dikutuk jadi batu. Bocah itu lahir dari rahim istri pak carik (sekretaris desa). Kenapa yang dikutuk selalu anak aparat negara? Pikir Dasimah kebingungan.

Semua warga berkumpul di rumah pak lurah dan mengatakan kalau hal ini tidak boleh terjadi lagi. Bahkan salah satu dari mereka ada yang bertitah bijak: jangan sampai kita masuk pada lubang yang sama.

Saat itu, ia menjadi istri kedua pak lurah karena paksaan (masalah ini sebenarnya tidak perlu ditampilkan, tetapi karena dikhawatirkan menghadirkan kesalahpahaman maka mau tidak mau harus ditampilkan). Dasimah awalnya menjadi pembantu di rumah pak lurah dan karena diperkosa majikannya yang tidak lain adalah pak lurah sendiri, ia hamil. Untuk menyembunyikan itu semua, pak lurah menikahi Dasimah dan menjadikannya istri kedua.

Hal itulah yang mendesak pengarang menulis Dasimah dewasa, dengan segala kesedihannya. Karena Dasimah memang selalu bersedih semenjak mejadi seorang istri. Ia sering dimaki-maki istri pertama pak lurah dan diolok-olok sebagai anak pe-ka-i.

Kabar dikutuknya anak pak carik, membuat anak-anak tidak lagi bermain di taman itu. Sampai waktu yang telah ditentukan.

Empat tahun kemudian, Dasimah bertambah sedih sebab suaminya ditangkap polisi karena menjadi tersangka korupsi. Hartanya disita semuanya dan istri pertama pak lurah minggat entah ke mana. Dasimah, ah maaf, saat itu ia sudah dipanggil Nyai Dasimah seiring anak keduanya lahir, pontang-panting mencari tempat tinggal. Beruntung, ada seseorang yang agak jauh dari taman, bersedia menampung ia dan anak-anaknya.

Tujuh tahun kemudian…,

**

Pada suatu sore yang biasa, artinya sore yang mengundang senja dan burung-burung cantik terbang kembali ke sarangnya, sore hendak menenggelamkan matahari dan hendak mengabarkan malam akan tiba. Nyai Dasimah hatinya gelisah. Magrib hampir menjelang, tetapi kedua anaknya masih belum pulang. Perasannya tidak karuan. Sambil menangis dan berharap, ia meminjam onthel tetangganya. Meski kesulitan menaiki, ia berniat untuk pergi ke taman kutukan. Sesulit apa pun sebuah perjalanan, kalau berusaha sekuat tenaga pastilah sampai tujuan. Begitu kira-kira yang terjadi pada Nyai Dasimah. Ia sampai taman.

Tetapi, di sana ia tak menemukan sama sekali aroma mistis, aroma kutukan, dan aroma-aroma lain yang berkaitan dengan menyeramkan. Di taman itu hanya ada dua bocah kecil yang tertawa bahagia. Bahagia yang sungguh-sungguh bahagia. Nyai Dasimah curiga dan langsung melangkah mendekat.

“Emak?!” teriak Jalal. Teriakan yang tak berkaitan dengan ketakutan. Emaknya menghampirinya.

“Lihat itu. Tukang kutuk gagal mengutuk kami,” kata Maryamah lugu sambil menunjuk batu. “Ia malah yang berubah jadi batu.”

Sejak kapan anakku seberani ini? Pikir Nyai Dasimah.a

Nyai Dasimah kini mendekati batu itu. Ia merasa curiga, apa yang tengah terjadi sebenarnya? Dan saat tatapannya menancap tepat ke wajah batu yang tersenyum itu, ia teringat sesuatu. Ia ingat wajah seseorang yang dipenggal kepala di taman ini oleh warga sekampung gara-gara dituduh mengetuai suatu partai terlarang saat ia masih berusia enam tahun.

Bapak?

“Emak?” kedua bocah disampingnya memanggil bersamaan, tetapi ia tak menghiraukan dan memeluk batu itu dengan menangis sesenggukan.

“Emak?”

Tak ada jawaban.

“Emak?!”

Tetap tak ada jawaban.**

Tuban, Januari 2016

*Cerpen ini pernah dimuat di Minggu Pagi, 25 Maret 2016

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.