Mengenang Jejak Bung Tomo


Oleh: Zainal Muttaqin

Resensi Buku: Bung Tomo Soerabaja di Tahun 45, Seri Buku TEMPO

Surabaya, merupakan salah satu kota yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Diantaranya yang masih menggema adalah perang rakyat melawan agresi militer sekutu (Belanda, Inggris dkk) yang hendak kembali menduduki Indonesia. Dan tokoh revolusioner yang cukup menonjol dalam memimpin perang di waktu itu adalah Sutomo atau akrab dipanggil Bung Tomo.

Bung Tomo, lahir pada 3 Oktober 1920, di Kampung Blauran, Surabaya. Beliau hidup dan tumbuh dengan kondisi sederhana atau tepatnya prihatin, rumahnya hanya sebuah bangunan gubuk kecil, tembok gedek sesek dan pintunya pendek, sehingga apabila seorang hendak masuk harus menundukkan kepala. Di tempat itulah Bung Tomo hidup seadanya bersama kedua orang tuanya. Bahkan di rumahnya tidak ada aliran listrik, sehingga waktu Bung Tomo masih kecil, terpaksa belajar di pinggir jalan, kebetulan di depan rumahnya ada tiang listrik yang dilengkapi lampu penerangan jalan.

Meski hidup dalam kondisi memprihatinkan, semangat belajar Bung Tomo tetap tinggi, sesuai dengan ajaran ayahnya, Kartawan Tjiptowidjojo, yang sangat mementingakan pendidikan dalam keluarga. Di dunia pendidikan, Bung Tomo sempat menamatkan sekolah tingkat dasar di Holland Inlander School atau sekolah rendah untuk kaum pribumi pada usia 12 tahun. Tapi sungguh ironis, Bung Tomo terpaksa putus sekolah, saat lanjut sekolah dari Meer Uitgerbreid Lager Onderwijs (MULO) atau setara dengan sekolah menengah pertama, lantaran orang tua tidak mampu membiayainya.

Walau Bung Tomo tidak bisa melanjutkan sekolah, tekad menimba ilmu tidak pernah padam. Beliau kemudian mengambil kursus korespondensi Hogere Burgerschool (HBS) atau setara dengan pendidikan menengah setingkat SMP dan SMA, selama lima tahun. Bung Tomo kali ini berhasil menyelesaikan seluruh kursus tersebut, terkecuali pada ujian akhir. Bung Tomo tidak sampai lulus HBS, lantaran ujian akhirnya harus dilakukan di Eropa.

Pernah dihina dan diejek oleh orang-orang intelektual lantaran pendidikan yang hanya tamat sekolah tingkat dasar–“Bung Tomo ngerti apa, tidak sekolah,” begitu ejekan yang terus terngiang–. Bung Tomo akhirnya menemui Profesor Doktor Djokosoetono, Dekan Fakultas Ekonomi UI. Kala itu Bung Tomo berkesempatan mengikuti ujian colloquium doctum, tes masuk perguruan tinggi berdasarkan kempetensi tanpa memandang ijazah yang dimiliki. Selama dua bulan Bung Tomo mempersiapkan diri agar tidak tertinggal dalam pelajaran SMP dan SMA. Tiga dosen mengujinya dan Bung Tomo dinyatakan lulus Fakultas Ekonomi dari Universitas Indonesia.

Walau mendaftar masuk perguruan tinggi menjelang kepala empat, Bung Tomo juga tidak sempat bergelar sarjana, musababnya beliau keburu meninggal ketika sedang melakukan wukuf di padang arafah. Sebagaimana tekatnya dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang harus di rebut tanpa rasa takut dan meskipun dalam kondisi kekurangan– seperti dalam ungkapannya “Kalau negeri ini tidak punya uang, jual baju saya,” kata Sutomo di hadapan sidang pemuda Gerakan Rakyat Baru, Juli 1945–. Dalam pendidikan pun tekat Bung Tomo patut dijadikan teladan.

Selanjutnya, kisah cinta Bung Tomo juga cukup menarik, seperti cerita film laga Amerika yang menegangkan serta diselingi romantisme ala drama Korea. Wanita yang mampu meluluhkan tokoh revolusioner itu bernama Sulistina, Bung Tomo memanggilnya dengan sebutan Tien. Cerita bermula pada November 1945, saat pidato Bung Tomo berapi-api yang disiarkan di radio, hingga menggerakkan hati Sulistina untuk ikut terjun ke medan laga. Sulistina menjadi satu dari tiga gadis Palang Merah yang berangkat dari Malang menuju Surabaya.

Di pertempuran Surabaya inilah Bung Tomo berjumpa dengan Sulistina. Ia merasa seperti tersihir saat melihat Sulistina yang kala itu berkacamata hitam dan bercelana panjang biru di depan markas Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia. Hingga akhirnya di markas tersebut, Bung Tomo menembak gadis pujaannya “Aku ingin mencintaimu sepenuh hatiku dan menikahimu kalau Indonesia sudah merdeka.” Sulistina terdiam dan jantungnya berdegup kian cepat saat Bung Tomo menggemgam erat tangannya.

Tapi ikrar Bung Tomo untuk menikahi Sulistina kala Indonesia sudah merdeka kadung dilanggar. Mereka menikah pada 19 Juni 1947, saat itu penjajah masih merajalela. Pengantin baru ini terpaksa kena pantangan berhubungan badan selama 40 hari. Menurut kepercayaan orang tua zaman dulu, jika pantangan dilanggar, bisa fatal akibatnya bagi keselamatan negara. Hingga akhirnya pantangan tersebut berlalu, perjuangan mengusir penjajah selesai pada 1950-an dan pasangan ini telah dikaruniai dua anak.

Suatu kali Bung Tomo diam-diam berembuk dengan sejumlah teman dekatnya, bersama Sumarno, Asmanu, Abdullah, Amiadji, Sudjarwo dan Suluh Hangsono. Mereka rapat hingga larut malam, dan lahirlah Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI). Awalnya Bung Tomo merupakan kader Pemuda Republik Indonesia (PRI), karena dipicu anggapan bahwa pemimpin PRI kurang peka dalam menanggapi meningkatnya gelegak warga kampung untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kurang revolusioner dalam menyikapi penjajah yang ingin berkuasa lagi di Indonesia, maka lahirlah BPRI.

Tidak rela muncul organisasi serupa antara PRI dan BPRI, Bung Tomo menjelaskan kepada para pucuk pimpinan Pemuda Republik Indonesia (PRI), bahwa BPRI tidak akan mengkanibal PRI. Bung Tomo menambahkan bahwa PRI dihuni oleh laskar pemuda di bawah 30 tahun, terutama yang pernah melawan Jepang dalam masa pendudukan 1942 sampai Agustus 1945. Sedangkan BPRI mengambil ceruk lain yaitu: tukang becak, penjual makanan, pedagang kecil dan orang-orang kampung yang kebanyakan tanpa ada embel-embel batasan usia.

Kelompok Bung Tomo pun sengaja memberi nama organ baru itu mirip dengan PRI, tapi dengan nafas yang baru dan lebih garang. Kata “Pemberontakan” dipilih untuk menggantikan “Pemuda”, lalu “Rakyat” menggantikan “Republik.” Bung Tomo juga mendeklarasikan BPRI sebagai kelompok ekstremis yang haus darah penjajah. Dengan cepat BPRI mendulang simpati dari kaum muda, apalagi dengan munculnya Radio Pemberontakan, yang bermarkas di Jalan Mawar. Belakangan, BPRI mempunyai anggota mencapai 3,3 juta orang yang merambah di seluruh penjuru Indonesia.

Di bawah Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia, Bung Tomo mendirikan “Radio Pemberontakan”. Berawal dari pidato Bung Tomo dengan suara berapi-api yang terus mengudara, bahkan saat pasukan Indonesia mundur dari Surabaya. Melalui Radio Pemberontakan, Bung Tomo memberikan komando bagi para pejuang untuk merebut kembali tempat-tempat penting di Surabaya. Bung Tomo menamai radio tersebut sebagai “Radio Pemberontakan,” karena cara radio tersebut didirikan dengan penuh semangat pemberontakan.

Siaran radio itu bermula dari kecemasan Bung Tomo saat berkunjung ke Jakarta, satu bulan sebelumnya, dengan mata kepala sendiri, Bung Tomo menyaksikan pasukan Sekutu bebas menggertak pasukan Indonesia. Tidak ingin virus itu menular ke Surabaya, Bung Tomo pulang ke Surabaya dengan mendirikan Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI) pada 12 Oktober 1945. Besoknya, Radio Pemberontakan disiarkan untuk pertama kalinya, sekaligus untuk mengingatkan warga Surabaya akan kedatangan Sekutu.

Pidato Bung Tomo disiarkan setiap hari pada pukul setengah enam sore, biasanya kalau tidak ada radio di rumah, rakyat berkumpul di bawah tiang-tiang speaker, untuk mendengarkan orasi dari Bung Tomo. Hingga sepekan sejak Radio Pemberontakan mengudara, Radio Republik Indonesia Surabaya, Malang, Solo dan Yogyakarta, juga ikut me-relay siaran agitasi tersebut. Walhasil, pendengar semakin meluas. Pidato-pidato yang disampaikan Bung Tomo, membuat banyak pemuda datang ke Surabaya untuk memperoleh senjata. Selain itu, arek Suraboyo ini kerap juga mengajak para santri untuk angkat senjata, layaknya di pesantren-pesantren di Jawa Timur.

Pernah suatu kali Bung Tomo memberikan kritik pedas terhadap pemerintahan Presiden Soeharto, di berbagai acara kampus ataupun ketika memberikan ceramah-ceramah di masjid, serta melalui tulisan di sejumlah surat kabar, hingga menyebabkan Bung Tomo terseret ke Penjara Nirbaya. Penjara itu biasa disebut Inrehab Nirbaya (instalasi Rehabilitasi Nirbaya), yang letaknya di Pondok Gede, Jakarta Timur, tepatnya di samping Taman Mini Indonesia Indah atau sekitar 800 meter di sebelah Asrama Haji Pondok Gede.

Sejak 11 April 1978, Bung Tomo menjadi salah satu penghuni Nirbaya, di sana Bung Tomo bercampur dengan para tahanan G-30-S, seperti Wakil Perdana Menteri Soebandrio dan Laksamana Madya Udara Omar Dhani. Hingga kesedihan selama hidup di Nirbaya pun berakhir, dengan terbebasnya Bung Tomo, setelah melewati pemeriksaan berulang-ulang, sebab Bung Tomo merasa pemerintah sengaja menahannya agar bungkam. Tepat pada Senin siang, 14 April 1979, Bung Tomo bersama Ismail Suny dan Mahbub Djunaidi dinyatakan bebas.

Hingga akhirnya, Bung Tomo menghembuskan nafas terakhir setelah wukuf di tanah Arafah. Hari itu, Rabu, 7 Oktober 1981, empat hari setelah ulang tahun ke-61. Sempat mengalami kesulitan, saat memindahkan jenazah Bung Tomo dari Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia, yang ternyata bukanlah perkara mudah, selain harus ada perizinan ketat dari Kerajaan Arab Saudi, kendala lain adalah mencari jasad Bung Tomo di antara ratusan makam masal tersebut. Dengan bantuan Majlis Ulama Indonesia dan Departemen Luar Negeri, akhirnya perizinan pemindahan jenazah keluar, setelah delapan bulan masa proses. Sekarang jenazah Bung Tomo dimakamkan di Tempat Permakaman Umum Ngagel Rejo, Jalan Bung Tomo, Surabaya.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Merdeka! Saudara-saudara, darah pasti banyak yang akan mengalir, jiwa pasti banyak akan melayang. Tetapi pengorbanan kita ini tidak akan sia-sia saudara-saudara. Anak-anak, cucu-cucu kita di kemudian hari, insyaAllah pasti akan menikmati segala apa hasil daripada perjuangan kita ini. Semboyan kita tetap “Merdeka atau Mati”. Begitulah seklumit pidato yang tertulis di dekat makam Bung Tomo, yang berdekatan juga dengan makam sang istri tercinta Hj Sulistina, di makam pahlawan Surabaya.

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.