Mencintai itu Natural?

Mencintai – Ngomong-ngomong, kamu pernah tidak dicurhatin teman cewek yang sok resah sehabis mutusin cowoknya gara-gara rupanya ia menyayangi orang lain? Gara-gara ia tidak tahu—katanya—kenapa rasa yang sudah lama tumbuh itu sekonyong hilang dan bergeser pada yang lain? Gara-gara juga ia meyakini jika soal “memilih”, apalagi urusan hati, siapa saja tidak bisa mengontrolnya? Atau mungkin kamu sendirilah: pernahkah dikau memiliki teman dekat (lawan jenis) yang udah lama kepadanya kau memendam rasa, banyak mengupayakan untuk mengungkapkan, dan akhirnya saat dia mengetahui, dia cuma bilang “andai aku bisa memilih untuk mencintaimu, tentu akan segera kulakukan, kak! Aku tidak pernah memiliki teman sebaik kamu,” pernah? Aku ragu jika jawabanmu “tidak pernah”.

Ilustrasi diambil dari http://wMencintai itu Natural?ww.ba-bamail.com

Andai boleh menyebut, sebetulnya perkara seperti ini adalah soal selera. Soal minat. Mereka yang merasa tidak memiliki kontrol atas “rasa cinta” yang dimilikinya, itu berarti mereka percaya kalau apa itu yang disebut sebagai “selera” bergerak secara natural, alami. Ketika si S misalnya, suka jagung dan si U suka pop corn, maka itu adalah alami. Keduanya merasa tidak perlu untuk melihat lebih jauh mengapa kok jagung, mengapa pula pop corn. Sama juga halnya dengan pasangan: mereka yang terbiasa dengan anggitan begitu, pasti memiliki kecenderungan untuk acuh tak acuh dengan apa yang tengah dirasanya. Jika setibanya dia menaruh hati pada seekor cowok, maka ia cukup menuruti kata hatinya dan langsung pergi ke si cowok, meskipun usai memiliki pasangan. Alasannya apa? Dia tidak bisa memilih kepada siapa ia harus mencinta! Itu natural!

Apakah memang harus demikian? Jelas tidak. Tidak ada yang natural dalam ihwal selera, minat, apalagi cinta. Pertama, sangat mungkin itu hanya dimanfaatin untuk dijadikan wedus gibas—untuk tidak bilang kambing hitam—karena rasa bosan, entah itu dengan pasangan atau pun selera makanan. Kedua, sebetulnya, jika kita mau sedikit berdamai dengan sepi, ini adalah murni bentukan. Iya, selera kita, apa yang kita pilih, termasuk mengapa kita memilih untuk tidak mencintai teman dekat kita padahal ia sudah selalu ada adalah pure konstruk. Oleh apa?

“lingkungan masyarakat!” kata Bourdieu (1979). Ini, lanjut dia, tidak bisa lepas dari atmosfir keseharian masyarakat (field) tempat seseorang tumbuh dan berkembang. Mengapa si S tadi lebih suka jagung ketimbang pop corn semisal, itu tidak alami sama sekali. Kondisi desa yang mayoritas penduduknya petani dengan tekstur tanah yang susah air jelas memengaruhi ke mana ia harus memiliki selera. Andai di desanya usai ada starbak, XXI empire, Je Se O, dan sejenisnya, saya ragu seleranya akan masih tertambat pada jagung. Begitu juga sebaliknya, mengapa si U lebih suka pop corn.

Lebih jauh, ini pun sangat erat dengan status sosial atau kapital, bahasanya Bourdieu. Dalam artian, selain karena lingkungan, kecenderungan mereka untuk memilih sesuatu sangatlah ditentukan oleh posisi mereka dalam masyarakat. Jarang kiranya, mereka yang di masyarakat berkududukan sebagai istri polisi (atau istrinya orang semen, kalau di Kerek-Tuban) akan memilih merek tas sama dengan tetangganya yang cuma istri petani. Saya berani taruhan, coba saja ditanya jika tidak percaya, kalau istri polisi akan cenderung memiliki selera merek-merek branded, seperti gosh, bellagio, mulberry, hermes, dan sebagainya, sedangkan istri petani cenderung pada merek-merek kawe yang entah itu mereknya apa saja saya tidak tahu. Kenapa bisa begitu? Jelas, karena andai boleh jujur yang tengah mereka selerakan dan kemudian beli itu tidak saja tas dalam bentuk fisiknya, tetapi status sosial. Coba saja kita amati, betapa nggayanya mak-mak di kampung kita dengan sosial yang cukup tinggi ketika lagi menenteng tasnya.

Dan sayangnya, kecenderungan yang sama juga tengah melanda kalangan mahasiswa hari ini. Tidak sedikit dari teman mahasiswa yang belum sadar jika segala yang menjadi selera mereka usailah dibentuk ke arah tertentu. Arah yang justru menjauhkan mereka dari isi, dari substansi, dan mendekatkan pada kepentingan tertentu yang entah apa itu. Pun, emannya, ada saja dari mereka yang masih ngotot kalau soal selera, “maaf mas, kita ndak bisa memilih untuk urusan mencintai. Ini alamiah, e!” (alamiah ndasmu). Termasuk padanya adalah tentang pasangan.

Walhasil, untukmu yang merasa kerap disia-siakan, jangan khawatir, kak. Tenang! Karena sebenarnya merekalah yang sia-sia. Tidak peka kalau segala yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar upaya untuk anggitan-anggitan sarat kepalsuan.zav

selain opini mencintai itu Natural baca juga opini tuban jogja

jagan upa sukai halam facebook kami tubanjogja.org

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Oktober 23, 2017

    […] Barangkali hanya aku yang mencintaimu dan kamu tidak. Barangkali hanya… […]

  2. Oktober 23, 2017

    […] Barangkali hanya aku yang mencintaimu dan kamu tidak. Barangkali hanya… […]

  3. Oktober 25, 2017

    […] Barangkali hanya aku yang mencintaimu dan kamu tidak. Barangkali hanya… […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.