Sebelum Pendidikan (02: 30 – 34): Cerita Konspirasi Tuhan dan Iblis untuk Adam

Pendidikan – Hari ini, persoalan relasi pengetahuan dan kekuasaan bukan lagi sebagai “kemungkinan” seperti kesimpulan Foucault beberapa dekade silam (Sutrisno, Hermeneutika Pascacolonial, 2008). Akan tetapi, itu sudah menjelma menjadi sejenis “keniscayaan”. Ini bisa kita amati dari bagaimana hal tersebut selalu bisa menemukan bentuknya di banyak aspek. Ambil saja contoh Fayerabend. Dalam Against Method, Fayerabend menyimpulkan bahwa di balik kenetralan suatu ilmu pengetahuan, tersembunyi di belakangnya kepentingan-kepentingan ilmuwan. Begitu juga dengan Eriyanto yang seringkali melihat bagaimana Soeharto berhasil menyetabilkan rakyatnya dengan apa pun yang berbau kebaikan, kebahagiaan, dan sejenisnya (Eriyanto, Analisis Wacana Media, 2001).

Akan tetapi, untuk kali ini saya tidak tergoda membahas beberapa contoh tersebut. Saya lebih tertarik untuk melihatnya melalui jendela al-Quran, khususnya surat al-Baqarah: 30 – 34. Ada tiga poin, kira-kira. Pertama seputar 02: 31 yang berbicara pendidikan Nabi Adam. Kedua 02: 30 yang bernuansa politis dan ketiga, 02: 34 yang menceritakan pemberontakan Iblis.

Mari kita mulai dari pertama. Al-Baqarah: 31 saya bilang sebagai yang berbicara soal pendidikan Nabi Adam lantaran ia memuat tiga kata kunci yang semuanya merupakan unsur pendidikan. Yaitu pendidik, anak didik, materi didik, dan proses mendidik (Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam, 2007). Kita bisa melihat unsur pertama pada dlamir (kata ganti) Tuhan yang tersimpan dalam kata ‘allama. Kedua bisa ditemui pada kata Adam. Ketiga pada kata al-asma. Dan terakhir pada kalimat ‘allama sendiri yang berarti mengajar. Jadi, dengan hadirnya empat unsur barusan dalam 02: 31, maka tidak berlebihan jika saya menyebutnya sebagai ayat pendidikan.

Mengenai kata ‘allama, Ibnu faris memahaminya sebagai suatu proses memberikan karakteristik tertentu terhadap sesuatu, sehingga dia/itu bisa tampil berbeda dengan lainnya (Ibnu faris, Maqayis al-Lugah). Sedangkan al-Baidlawi dalam konteks ayat, memaknakan itu sebagai proses memberikan ilmu secara bertahap kepada Nabi Adam (al-Baidlawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil). Oleh karenanya, lanjut al-Baidlawi, redaksi yang dipakai bukan ta’allama dengan konotasi lebih pada mencari sendiri, tetapi ‘allama yang lebih pada pemberian secara bertahap. Dari keduanya, kita bisa melihat kalau dalam persoalan ini, Ibn Faris lebih fokus pada “hasil”, sedangkan al-Baidlawi pada “proses”. Jadi, andaikita gabungkan semuanya, maka kita bisa memahami kata ‘allama dalam 02: 31 sebagai suatu proses dididiknya Nabi Adam oleh Tuhan melalui suatu metode dan demi tujuan tertentu.

Adapun untuk ayat kedua, 02: 30, disebut bernuansa politis sebab tertulis di dalamnya kata fi al-ardl dan khalifah. Pertama bisa dipahami bukan saja sebagai tempat tinggal, tapi juga masyarakat dan kedua sebagai pengganti—menggantikan Tuhan dalam mengatur ardl, masyarakat—atau pemimpin (Suyuti dan Mahallli, Tafsir Jalalain). Adapun soal “politik”, ia berasal dari bahasa Yunani, Politikos, yang berarti—sekurangnya—aturan untuk masyarakat (Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 2003), sehingga ketika keduanya disejajarkan, cukuplah layak kiranya saya menyebut bahwa ayat ini memiliki nuansa politis. Yaitu tentang amanah Tuhan kepada Adam untuk mengatur “masyarakat Bumi”. Di titik ini pula, Tuhan memiliki kepentingan tertentu dengan hadirnya Adam.

Selanjutnya, poin ketiga tidak lain merupakan pendukung atas poin kedua. Menurut saya, dengan adanya cerita Iblis yang menolak memberikan penghargaan terbaiknya kepada Adam selaku pemimpin baru di Bumi dan yang usai dibekali Tuhan pendidikan tertentu, maka nuansa politis pada 02: 30 akan semakin menemukan bentuknya. Sebab dalam politik, pemberontakan, konflik, dan sejenisnya adalah niscaya (Thomas Hobbes, Leviathan, 1994). Ayat ini disebut “memuat cerita pemberontakan Iblis” karena memang redaksi yang digunakan adalah illa iblisa, aba wa istakbara yang kira-kira artinya begini: “emang-nya dia apa? Enak saja main sembah-sembah!”

Titik Cumbuan

Lantas, selepas mengetahui semua itu, pertanyaannya sekarang adalah “mengapa ayat tentang pendidikan terletak tepat setelah ayat politik? Kenapa pula di akhir pembahasan ada penegasan sejenis pemberontakan kelompok tertentu yang notabene juga sebagai sesuatu yang niscaya dalam politik?” Itulah yang menjadi gol besar esai. Dan akhirnya, bakda meresapi dua pertanyaan itu, saya bisa menyimpulkan bahwa memang antara pendidikan dan kepentingan politik sejatinya adalah satu paket dan oleh karena itu pula, ketiga ayat di atas terletak berurutan.

Dalam hal ini, jika boleh melanjutkan, di balik diciptakannya Nabi Adam untuk menggantikan Tuhan sebagai “pemimpin” di Bumi, Tuhan memiliki kepentingan, yaitu kepentingan untuk menjaga Bumi-Nya agar selalu teratur dan nyaman. Kemudian, biar Nabi Adam mudah diperintah, maka Tuhan memberikan pengetahuan-pengetahuan yang dengannya Nabi Adam lebih mudah menjalankan apa yang diinginkan-Nya. Jadi, sederhananya, pendidikan yang diterima Nabi Adam, selain memang itu demi terbentuknya karakter atas dirinya sendiri, rupanya juga terselip kepentingan Tuhan padanya. Kepentingan dan pendidikan begitu erat berjumbuh.

al-Hallaj yang Menggemaskan

Lebih jauh, saya curiga, Husain bin Mansur atau al-Hallaj, be-ratus tahun silam usai menjadikan beberapa ayat ini sebagai legitimasi atas gerakan politiknya di balik konsep “Nur Muhammadiyah”-nya. Dalam beberapa penelitian, salah satu tujuan besar al-Hallaj mencetuskan “Nur Muhammadiyah” adalah sebagai bentuk protesnya terhadap masyarakatnya, di Thur-Iran, yang masih termakan hegemoni atas dominasi ras Arab (Sholikhin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, 2008). Melalui “Nur Muhammadiyah”, al-Hallaj mencoba menawarkan satu istilah yang lebih mendasar dari “Muhammad”. “Nur Muhammadiyah” bukan saja bisa masuk pada Nabi Muhammad selaku Nabi dari Arab, tetapi juga pada nabi-nabi lainnya, bahkan pada semua orang. Ini dilakukan al-Hallaj untuk menghilangkan dominasi Bangsa Arab atas Persia. Al-Hallaj memanfaatkan konsep “Nur Muhammadiyah” sebagai istilah lain dari “ruh Allah” bukan saja sebagai jalan sufistik, tetapi juga sebagai kepentingan untuk membebaskan bangsanya dari dominasi Bangsa Arab di masanya.

Kiranya begitulah, hubungan antara kepentingan dan pengetahuan senantiasa akan menjumpai bentuknya. Dan terlepas dari segala yang ada dalam esai, tentu saja bentuk tersebut tidak bisa selalu berwajah sumringah. Terkadang juga murung, bahkan serem. Untuk itu, dalam hal ini, paling tidak kita menyadari satu hal: segalanya yang disampaikan orang lain kepada kita, se-wah atau se-ngeri apa pun itu, di baliknya pasti tersembunyi tujuan tertentu. “Kopi tidak pernah menyebut dirinya sebagai kopi!”.

baca juga, Jum’atan tubanjogja.org

*Sapari,

pernah sekolah di

SDN I Semanding

 

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.