Idul Fitri: Selamat Sarapan Kembali


Oleh: Lembu Peteng

Sarapan jelas sesuatu yang penting. Soal sarapan kita jam tujuh pagi atau jam 13.00 siang (seperti Mbah Takrib), itu bagian dari hak asasi manusia. Yang pasti, karena sebegitu pentingnya, bahkan dalam Islam sendiri ada hari raya sarapan. Ya apalagi kalau bukan idul fitri.

Dalam bahasa Arab kita kenal istilah nailul futur (artinya nedo sarapan). Dari kata futur inilah konsep Idul Fitri (hari raya sarapan) itu dibangun. Kenapa sarapan? Ya karena sebulan lamanya kita harus berpuasa dengan konsekuensi logis sarapan dilarang. Makanya ketika sarapan sudah dihalalkan, kita rayakan. Dan bukankah karena itu sebelum solat Idul Fitri kita disunnahkan sarapan dulu?

Adapun zakat fitrah, juga dimaksudkan untuk sarapan. Kita ingat tenggat waktu zakat itu terakhir adalah solat Id, dengan nisab yang tidak banyak (tapi sudah cukup untuk sarapan beberapa orang). Maksudnya ya ketika kita merayakan sarapan, yang lain juga ikut merayakannya.

Memang ada yang menganggap Idul Fitri adalah hari dimana kita kembali ke fitrah. Fitrah di sini sebagaimana Alquran yang berbunyi kullu mauludin yuladu alal fitroh (setiap yang terlahir berangkat dari kesucian). Dan jika Idul Fitri berangkat dari konsep ini, maka bayangannya adalah umat muslim merayakan kesucian kembali seperti bayi setelah sebulan penuh dosa-dosanya dicuci.

Tidak masalah juga sebenarnya, tapi merayakan kesucian terdengar kurang nyaman. Siapa yang bisa mengklaim kita sudah suci sehingga sampai harus merayakan sebegitu rupa dengan semarak mudik, baju baru, berkelimpahan makanan/jajanan dan mercon dan kembang api? Kalau fitrah itu suatu harapan/doa, ya bolehlah. Tapi hal yang dikhawatirkan adalah kesombongan. Mentang-mentang ikut merayakan Idul Fitri, terus merasa paling suci. Itu tak baik. Nasehat ini untuk saya sendiri tentunya.

Sebab itulah, merayakan sarapan lebih tepat untuk orang seperti kita, meski tentu saja kita tetap berharap/berdoa pada Tuhan agar kembali ke fitrah. Dan kenapa harus capek-capek mudik? Ya mudik adalah semacam kembali ke asal (mirip kembali ke fitrah). Secara praktis juga, dengan mudik kita bisa kembali sarapan bareng di kampung dengan keluarga, kerabat, teman sejawat. Dari situ silaturahim dilangsungkan setelah mungkin terputus sebelumnya. Halal bi halal dilaksanakan setelah mungkin pernah saling ada dosa sebelumnya. Dan tentu akan kurang afdol jika tidak makan bersama.

Kira-kira begitulah. Sudah dulu ya. Selamat lebaran. Yang sempit dilebarkan. Yang lebar dileburkan. Yang lebur dilaburkan. Ga usah rumit-rumit nanti tidak jadi lebaran tapi labirin. Mari sarapan bersama. Sambung sanak, sambung sahabat, sambung sayang. I love you all.

Senori, Jelang 1 Syawwal 1438 H

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.