Episteme Cinta Pesantren

tubanjogja.orgCinta Pesantren

Cinta Pesantren

Ilustrasi diambil dari http://www.wookmark.com

 

Dalam sebuah obrolan di gawai, ada cewek menuliskan pesan pada teman cowoknya, “Kita masih berteman kan?” Karena di layar gawainya yang muncul hanya deretan nomer, maka si cowok membalas, “Dengan siapa ya?” Mendapati itu, spontan ceweknya mengetik, “Oh gitu ya. Ini pilihan kamu dan aku menerima. Terima kasih!” Tentu, membaca balasan yang demikian, si cowok tambah heran, “Maksudnya apa?”

Selepas beberapa hari, ia baru tahu kalau cewek yang tiba-tiba mengirim pesan dan tiba-tiba pula pergi itu adalah temannya yang pernah ia sayang. Pernah pula ia benci. Benci karena si gadis tidak memilihnya. Dari banyak aspek, versi si cowok, segala perilakunya menyiratkan betapa si gadis mencintainya, tetapi pada ujungnya, justru kepada yang lain ia memilih. Oleh karena itu, kiranya kita bisa menyimpulkan sendiri mengapa si cowok benci—dan akhirnya memutuskan untuk membuang segala rasanya ke Bengawan Solo—, mengapa pula sayang.

Urusan pilih-memilih memang tidak gampang. Itu tak bisa begitu saja disamakan dengan rasa. Sangat mungkin, pihak gadis masih menaruh rasa terhadap pihak cowok. Tapi, karena pertimbangan tertentu, ia tidak bisa memilihnya, apalagi mendapati bahwa ternyata si gadis sudah lama berumah di pesantren. Mari kita bersendawa sebentar sambil membayangkan pesantren.

Disadari atau tidak, bagi mereka, khususnya perempuan—boleh kok disebut bias—yang hatinya usai menyatu dengan pesantren, cinta adalah dogma. Mereka sama sekali tidak merasa memiliki hak atas cinta yang dimilikinya. Jika meminjam bahasanya Darus Armada—yang entah ia kutip dari mana—seakan mereka hanya akan menjumpai kematian kala mencoba menjadi tuan atas cintanya sendiri.

Dalam artian, kebanyakan dari mereka tampak lebih nyaman untuk pasrah dengan apa kata suhu bila berbicara soal cinta dan rahasia, eh rahasia … jodoh maksudnya. Kala suhu sudah ngendika begini, “Eh nduk, kowe karo seng kae wae yo. Bocahe apik. Wes suwi rewang-rewang nang kene,” maka tidak ada kalimat apa pun setelahnya kecuali kematian kehendak dan puing-puing keikhlasan yang tak diikhlaskan. Bahkan, meski mereka harus bertengkar dengan suara terdalam lubuknya sendiri, sehingga bila diamati dari gardu pandang ini, saya kira cukup wajar mengapa si gadis tidak memilih si cowok: karena mempertimbangkan ini!

Selain itu, ada lagi satu gaya mencintai yang lebih berkelas di ranah (field) pesantren (harusnya ini yang perlu disadari si cowok tadi). Adalah gaya pseudo, bahasaku. Gaya ini mengandaikan siapa pun untuk tidak begitu saja membebek pada suhu soal cinta, tetapi harus memiliki pijakan, landasan. Dan pijakan yang dimaksud adalah teks fikih klasik yang berjumbuh dengan hadis. Dimungkiri atau tidak, tak sedikit dari mereka berpikiran bahwa untuk menaruh hati pada cowok yang dalam dirinya tidak ada kriteria sebagaimana tertulis dalam teks adalah hal yang sama sekali tidak perlu. Kalau pun usai terlanjur sayang, rasa itu penting untuk segera dan selalu ditekan biar pudar.

Biasanya, kriteria utama yang diidealkan oleh teks adalah tebal agamanya. Maksud dari tebal agama, yaitu mereka yang rajin salat berjamaah, selalu menjaga pandangan karena mata bisa berzina (subhanallah), tidak pernah boncengan dengan lawan jenis karena ikhtilat (bit tha’, tha’), dan sebagainya. Terkadang, ada juga yang suka dengan sunah-sunah, sehingga menambahkannya sendiri dengan beberapa kriteria seperti, hafal tiga puluh juz al-Quran, tidak pernah lupa salat Jumat, tidak suka mengumbar aurat, selalu bilang “astagfirullah” bila kesandung, dan rajin puasa senin-kamis, bahkan Ndaud. Satu lagi, salihul wajhi.

Jadi, kembali pada elegi si cowok, saya kira keputusan dia untuk membuang rasa ke Bengawan Solo sudah berada di jalan yang sahih. Pertama karena mending ia jadi homo ketimbang mempertahankan si gadis pesantren, mengetahui episteme mencintai si dia telah jauh melambung di atas normal. Kedua lantaran saya cukup mengerti bagaimana si cowok ini terlampau nyaman dengan salat dhuhur di hari Jumat—di warung kopi lagi—dan sarapan pada tujuh belas ramadhan, sehingga manakala ia memilih lanjut mengejar, merindu, tiada apa pun yang akan ia rasa kecuali lara.

Sebagai catatan saja: bagi kita yang menaja untuk menaruh hati dengan ras mereka, jangan sampai salah untuk memilih kacamata. Kacamata Plato, “jika cinta itu membebaskan”, tidak berlaku bagi mereka. Begitu juga dengan Erich Fromm, “cinta sejati ada di balik setiap penolakan!” (sebab hanya dengan ditolak kita bisa merasakan bebasnya mencintai, tanpa takut dibatasi), Freud, “Cinta yang berkelas adalah mencintai lebih dari seorang”, apalagi Eka, “Bagai dendam, rindu harus dibalas!”. Ah kuno. Yang berlaku buat mereka hanyalah dua: cinta itu dawuh kiai dan cinta itu kitab kuning.Zav      

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.