Utopia Seorang Penulis Pemula

tubanjogja.org – Penulis

Penulis Pemula
Oleh: Daruz Armedian

“Saat individu mencapai usia seratus tahun, ia bisa hidup tanpa cinta atau persahabatan. Kematian akibat penyakit dan ketakhati-hatian bukan hal yang patut ditakuti. Ia mengamalkan salah satu seni, atau filsafat atau matematika, atau permainan catur tunggal. Saat ia berkehendak mati, ia membunuh dirinya sendiri. Saat orang berkehendak menjadi tuan bagi hidupnya sendiri, maka ia pun menjadi tuan atas kematiannya.”

“Apakah itu sebuah kutipan?” tanyaku.

“Tentu saja. Tak ada lagi yang tersisa untuk kita selain kutipan. Bahasa kita adalah sistem kutipan.”

Dan tentu saja, aku ini sedang mengutip dialog dalam cerpen Utopia Seorang Lelaki yang Lelah karya Borges. Bagaimanapun, aku memang selalu ingat apa yang dituturkan oleh Eko Triono soal pepatah orang Amerika Latin yang kurang lebih bermaksud sama dengan dialog tersebut, bahwa tidak ada sesuatu yang lahir dari ruang kosong.

Apa yang ada di dunia sekarang ini adalah hasil dari perpaduan kepingan-kepingan yang pernah ada. Dan kepingan-kepingan yang pernah ada itu adalah hasil dari kepingan-kepingan-kepingan yang pernah ada sebelumnya. Dan kepingan-kepingan-kepingan yang pernah ada sebelumnya itu pastilah hasil dari perpaduan dari kepingan-kepingan-kepingan-kepingan yang telah ada sebelum-sebelumnya. Dan seterusnya.

Begitu juga penulis. Ia tidak betul-betul menuliskan sesuatu yang orisinil. Pasti ada seorang penulis yang mempengaruhi penulis tersebut. Pak Edi pernah bertutur pada suatu siang yang sendu di asrama kampus fiksi pada tanggal 26 Maret 2017: jika kau ingin menulis, tolong buang jauh-jauh pikiranmu tentang keinginan menulis sesuatu yang benar-benar murni, tidak terpengaruhi oleh siapa pun, belum ditulis oleh siapa pun. Sebab, hal itu justru akan membuatmu tidak jadi menulis.

Betul juga. Dulu, sewaktu MA (setingkat SMA kalau kamu tidak tahu), setelah membaca buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, aku langsung punya keinginan untuk menulis. Tetapi, bagiku, menulis tidak semudah apa yang kubayangkan. Aku tidak bisa memulainya sama sekali. Maka, aku meniru persis dengan gaya Andrea Hirata dalam novel perdananya itu. Aku membaca dengan teliti bagaimana cara Andrea memulai penceritaannya, menggambarkan latarnya, menuliskan konfliknya, menaruh dialognya. Akhirnya, meski hampir bisa dikatakan sama persis, aku bisa menulis beberapa paragraf. Dan bukan hanya itu. Ada beberapa cerpen yang aku tiru. Semisal, Ibu Pergi ke Laut-nya Puthut EA, Mereka Hendak Merobohkan Pohon Itu-nya Isbedy Setiawan ZS. Dan sampai sekarang pun, aku merasa, aku masih meniru gaya kepenulisan orang lain. Haqqulyakin.

Awalnya, aku mengira ini hanya terjadi padaku. Ternyata tidak. Pak Joko Pinurbo juga mengalaminya. Ia mengakui pernah meniru-niru gayanya Sapardi Djoko Damono, yang tidak lain tidak bukan adalah idolanya. Lambat laun, Pak Joko Pinurbo berpikir, kalau saya nulis dengan gaya seperti ini, tentu akan tetap kalah dengan Sapardi. Maka, ia berubah haluan dan membuat gayanya sendiri.

Eka Kurniawan mengaku terpengaruhi oleh Knut Hamsun dan Gabriel Garcia Marquez. Gabriel Garcia Marquez terpengaruhi Jorge Luis Borges. Ibrahim Satta terpengaruhi Sutarji Colzoum Bachri. Avianti Armand, puisi-puisinya terpengaruhi Gunawan Muhammad.

Penulis penulis-penulis lain juga begitu. Penulis-penulis yang kalau disebutkan semuanya, akan membuat jari-jariku yang patah karena terlalu banyak. Patah lagi, lagi, dan lagi.

Maka, Borges benar. Apa yang tersisa bagi kita ini adalah kutipan-kutipan. Tiruan-tiruan. Perasan-perasan.

Lalu, masihkah kamu dan aku yang katanya mau jadi penulis tetapi tidak mau mencoba menulis karena takut jelek, tidak bisa memulainya, takut dibilang tidak orisinil karyanya, phobia terhadap tulisan tertentu, dan lain sebagainya itu? Lalu, masihkah kamu dan aku yang pemula itu mau sok-sokan idealis ingin membuat karya yang benar-benar murni dan belum pernah ditulis oleh siapa pun manusia di dunia dan akhirat?

Kalau sudah begini, aku ingin sekali meminjam kata paling gurih di telinga siapa pun tanpa mengenal kasta yang dipopulerkan oleh presiden Partai Idaman, Rhoma Irama: THEERLHAALHUU!

Daruz Armedian, mahasiswa gagal akademik.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. kpmrt berkata:

    Hehehe, siap terima kasih kakak

  2. Benar. Sepakat dengan ending itu. Therlhalu. Ah. Menjiplakpun huruf yang kutata tak bisa persis.😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.