Tiga Level Ibadah Puasa

Ibadah Puasa – Agama menghendaki manusia untuk meningkatkan kualitas dan level hidupnya dari hari ke hari. Semestinya, hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Itu artinya, agama tidak menghendaki stagnasi kehidupan. Siapa pun yang mengaku bertuhan dituntun dan dituntut untuk mendinamiskan hidupnya.

Stagnasi kehidupan saja sudah dikritik, apalagi kehidupan yang berjalan mundur ke belakang. Celakalah bila hari ini lebih buruk daripada hari kemarin dan hari esok lebih buruk daripada hari ini.

Demikian prinsip hidup yang menurut Nabi Muhammad harus kita pegangi sebagai manusia beragama. Dalam beribadah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial, tidak boleh ada kata ‘stagnan’ atau ‘jalan di tempat’. Juga tidak boleh berlaku ungkapan ‘berjalan mundur’. Satu-satunya alternatif dalam beribadah adalah berjalan maju, dalam arti secara terus-menerus tetapi perlahan-lahan meningkatkan kualitas dan level ibadah.

Sebagai contoh, apabila kemarin ibadah puasa kita hanyalah puasa syariat, puasa kita hari ini haruslah menjadi ibadah puasa hakikat. Selanjutnya, puasa kita esok hari mudah-mudahan naik level menjadi puasa makrifat.

Puasa syariat adalah puasa yang disebut al-Ghazali sebagai puasa umumnya umat. Sederhananya, puasa syariat adalah puasa golongan awam. Ibadah puasa jenis ini berada pada level paling bawah. Cirinya, pelaku puasa hanya menahan perutnya dari syahwat makan dan menahan kemaluannya dari syahwat seksual, sejak matahari terbit hingga terbenam. Dia tidak berjuang menjauhkan mata, telinga, lidah, tangan, dan kakinya dari neraka. Dia pun tidak berikhtiar menata pikiran dan hatinya.

Harap tidak salah paham. Walaupun berada pada level paling bawah, puasa syariat bukanlah ibadah puasa yang buruk. Berpuasa, walaupun hanya sebatas syariat, lebih baik dibandingkan tidak berpuasa. Saya yakin, jika Anda berpuasa “hanya” pada level syariat, tetapi hal itu Anda jalankan dengan niat yang bersih, rutin, dan sinambung, pada saatnya Anda akan memetik buah puasa Anda, yaitu turunnya makna dan hikmah puasa ke dalam hati Anda. Pada saat itu, hati Anda akan membimbing Anda untuk menaikkan kualitas puasa, dari puasa level syariat menuju puasa level hakikat.

Lalu, apakah puasa hakikat itu? Puasa hakikat adalah apa yang disebut al-Ghazali sebagai puasa golongan elit. Bukan mayoritas, golongan elit adalah minoritas umat. Jumlah pelaku puasa hakikat tidak pernah dan tidak mungkin sebanyak jumlah pelaku puasa syariat. Sebagaimana umat pada umumnya, pelaku puasa hakikat juga menahan perut dan kemaluannya dari syahwat, sejak matahari terbit hingga terbenam. Namun demikian, pelaku puasa hakikat menjalani lelaku tambahan, yaitu menjaga seluruh anggota tubuhnya dari dosa.

Dia menjaga matanya dari memandang lawan jenis dengan berahi. Selain itu, dia pun menjaga matanya dari memandang rendah, hina, dan salah orang lain. Dia sadar, mata adalah pisau yang apabila dipergunakan secara keliru dapat menyayat hati orang lain.

Dia berjuang menjaga telinganya dari mendengarkan fitnah dan gunjingan. Misalkan berada dalam suatu forum fitnah dan pergunjingan, dia akan menyingkir dari forum tersebut. Kalau hal itu tidak dapat dilakukan karena satu dan lain hal, dia akan bertawakal, dalam arti menyerahkan urusannya kepada Tuhan.

Manusia hanya berusaha. Hasil akhir berada dalam genggaman tangan Ilahi. Wilayah ikhtiar manusia hanya pada proses. Hitam putihnya hasil yang menjadi buah dari proses tersebut merupakan wewenang mutlak-Nya. Manungsa, kata leluhur Jawa, winenang ngudi, purba wasesa ing hastane Gusti.

Selain menjaga mata dan telinga, pelaku puasa hakikat juga menjaga lidah dari dosa. Maksudnya, dia menjaga lidahnya dari menyakiti pihak lain baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Sebagaimana mata, lidah pun adalah pisau. Kita bisa menggunakan pisau untuk mengupas kulit mangga yang akan dimakan. Tapi, di sisi lain, kita pun bisa memakai pisau untuk memotong pembuluh nadi teman sendiri atau menusuk perut saudara sendiri. Kalau ucapanku menusuk hatimu padahal aku sedang berpuasa, maka saksikanlah bahwa puasaku tidak bermanfaat sedikit pun bagiku. Yang kuperoleh dari puasaku sehari suntuk hanyalah lapar dan dahaga. Rugilah aku. Celakalah aku. Lantas, bila demikian, untuk apa aku berpuasa?

Selanjutnya, pelaku puasa hakikat menjaga tangannya dari dosa. Karena pernyataan ini masih abstrak, marilah kita rinci maksudnya dengan sebuah contoh konkret. Ada dua siswa SMA yang sedang mengikuti ujian akhir semester saat mereka berpuasa Ramadan.

Siswa pertama merasa tidak percaya diri dengan kemampuannya dalam memahami mata pelajaran yang diujikan. Karena malu, dia tidak mengungkapkan ‘kelemahan’ itu kepada gurunya sehingga sang guru tidak memberi bimbingan belajar spesial untuknya. Menjelang ujian akhir, yang jatuh bertepatan pada bulan Ramadan, ketidakpercayaan dirinya semakin besar. Seiring dengan itu, kecemasannya pun semakin besar pula. Dia takut nilainya jatuh. Dia takut menjadi sasaran amarah orang tua. Dia takut direndahkan teman-teman sekelas karena dianggap bodoh.

Karena itu, lantaran gelap pikir, dia mengambil jalan pintas. Ketika ujian, dia mencontek dan mengepek. Tangannya digunakan untuk “menyalin” jawaban dari lembar jawaban teman sebelah atau dari kepekan yang dia sembunyikan dari mata pengawas ujian.

Dan hal ini dilakukannya saat sedang berpuasa Ramadan. Apabila dapat menahan nafsu perut dan kelamin sejak matahari terbit hingga terbenam, secara syariat puasanya memang tidak batal. Tapi, secara hakikat puasanya tak lagi bernilai.

Sementara itu, saat berpuasa, siswa kedua tidak menggunakan tangannya untuk mencontek atau mengepek. Sedapat mungkin, dia mempertahankan kejujuran dalam mengerjakan ujian kendati nilai ujiannya kemungkinan akan rendah. Puasanya dipandang positif baik dari kacamata syariat maupun hakikat.

Pelaku puasa yang menjaga kakinya dari melangkah ke tempat-tempat yang tidak disukai langit, juga mendapatkan penilaian yang baik dari kacamata hakikat. Perlu dicatat, suatu tempat menjadi tidak disukai langit bukan karena tempat itu memang pada dasarnya jelek.

Bumi dibentangkan sebagai tempat sujud manusia. Bagi manusia, bumi berfungsi sebagai tempat beribadah. Dengan demikian, seluruh penjuru bumi, bahkan yang digunakan sebagai toilet sekali pun, sesungguhnya sakral. Seseorang yang telah terbuka mata hatinya memandang bumi sebagai bayangan Ilahi atau pancaran cahaya sifat dan nama-Nya. Dari segi ini, toilet, diskotik, dan lokalisasi adalah tempat yang baik.

Jika demikian, apa maksud dari ‘tempat yang tidak disukai langit’ atau tempat yang buruk? Tempat yang buruk adalah tempat di mana kita melecehkan, merendahkan, menzalimi, dan menyakiti sesama manusia. Di situ, kita kehilangan kesadaran spiritual. Boleh jadi, di tempat demikian, kita menyebut-nyebut nama Tuhan. Tapi, pada saat yang sama, Tuhan tidak hadir di hati kita. Di tempat seperti itu, kita membaca dan membacakan ayat al-Quran untuk mencari popularitas dan uang. Hal-hal semacam ini bisa terjadi di rumah, di kantor, di sekolah, bahkan juga bisa terjadi di masjid.

Saya tidak menyatakan bahwa pada dasarnya masjid bukan tempat yang baik, yang sakral, dan yang disukai langit. Masjid jelas merupakan tempat yang baik, sakral, dan disukai langit. Tapi, tingkah laku hati kita kadang-kadang menurunkan kadar bahkan menghilangkan dimensi kebaikan dan kesakralan masjid bagi kita sendiri. Kita sering mengubah masjid menjadi pasar dan gelanggang politik. Bila kita berpuasa tetapi melangkahkan kaki ke masjid demi kepentingan politik dan ekonomi, yang kita dapatkan dari puasa kita sekadar lapar dan dahaga. Secara syariat kita berpuasa tetapi secara hakikat tidak.

Dari uraian tersebut tampaklah bahwa puasa hakikat lebih berat daripada puasa syariat. Sebab itu, kebanyakan umat enggan menjalankan puasa hakikat. Sebagian kecil umat saja, yaitu kalangan elit spiritual, yang menjalankan puasa hakikat dengan sabar dan istikamah.

Tapi, ada yang lebih berat daripada puasa hakikat, yaitu puasa makrifat. Karena lebih berat, jumlah pelaku puasa makrifat lebih sedikit daripada jumlah pelaku puasa hakikat. Karena itulah barangkali al-Ghazali menyebut puasa makrifat yang merupakan level ibadah puasa tertinggi ini sebagai puasa elitnya elit spiritual.

Ciri puasa makrifat adalah menahan hati dari impian picisan dan pikiran keduniaan. Pelaku puasa makrifat juga menjaga hatinya agar tidak terisi oleh apa pun selain Allah. Dengan kata lain, dia menata hatinya agar pantas difungsikan sebagai singgasana al-Rahman. Dalam hati semacam itu, tidak tersedia ruang sepetak pun untuk berbagai bentuk harapan akan kefanaan. Harta, jabatan, popularitas, dan hal-hal yang bersifat fana dan duniawi lainnya, tidak lagi menjadi kiblat hati. Hati pelaku puasa makrifat terang oleh cahaya Ilahi. Hanya sedikit, amat sangat sedikit sekali, manusia yang memiliki hati serahayu dan sebersih ini.

Meski demikian, kita yang awam ini, yang masih menjadi bagian dari umumnya umat, betapa pun juga harus berikhtiar untuk membersihkan hati sejauh kemampuan. Adalah kewajiban kita untuk meningkatkan kualitas dan level puasa hingga tingkat yang tertinggi. Jika saat ini puasaku berada pada level puasa syariat, aku harus menaikkan level puasaku menjadi puasa hakikat. Jika saat ini ibadah puasa Anda berada pada level hakikat, seyogyanya level puasa itu ditingkatkan menjadi puasa makrifat.

Begitulah prinsip yang dipegang dalam beribadah dan beragama. Tidak ada kata ‘jalan di tempat’, apalagi ‘berjalan mundur’. Hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok lebih baik daripada hari ini. Agama adalah kemajuan, bukan kejumudan, bukan pula kemunduran.

baca juga, artikel tubanjogja.org

*Oleh Lev WidodoPenulis adalah seorang pengembara.

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.