Takhayul Modern dan Nasionalisme Gaya Baru

tubanjogja Nasionalisme

Nasionalisme baru

ilustrasi nasionalisme

 

Oleh, Lembu Peteng

Takhayul adalah jika kita bersikukuh dalam kepercayaan bahwa candi Prambanan dibuat oleh Bandung Bondowoso demi menggaet kekasih pujaannya, Roro Jonggrang, hanya dalam waktu semalam. Persis sama dengan ketika kita bersikukuh dalam pandangan bahwa privatisasi dengan sendirinya akan membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jika dalam waktu semalam Bandung Bondowoso mampu membuat candi tapi unjungnya adalah kisah cintanya kandas di tengah jalan; begitu juga dengan hutang luar negeri, modal asing, privatisasi, memang seolah hembusan angin segar bagi kehidupan bangsa, tapi sejatinya malah menjerumuskan kita ke dalam jurang kemelaratan dan kesengsaraan. Kok bisa?

Evolusi atau Involusi?

Ketika Darwin berjuang mati-matian untuk sebuah “missing link” dalam membenarkan teorinya, maka kini kita temui dalam ranah kebijakan negara bahwa “missing link” itu hilang entah kemana. Dan hilangnya itu membuat kita lupa bahwa peradaban manusia yang dibangun diatas primata, saat ini rupanya tak jauh berbeda, selain hanya mengulang belaka.

Maksudnya, bahwa kisah Bandung Bondowoso yang diwariskan nenek moyang itu kini kita tiru dalam sebuah kesadaran yang menganggap bahwa itu bukan semata “kisah”. Mungkin saat ini orang-orang tidak percaya dengan “pembangunan candi dalam semalam”, tapi nun jauh di alam bawah sadar, kita masih saja percaya dengan cara-cara yang singkat untuk lari dari kenyataan.

Ketika pengangguran merajalela, kemiskinan tak kunjung teratasi, sementara negara hampir bangkrut, kita kemudian tidak hendak mencari akar persoalan dengan struktur yang memang rumit dan menjerat itu secara sungguh-sungguh. Yang ada hanya mencari resep-resep yang ditawarkan para dewa yang bernaung di kayangan bernama IMF, bersama WTO dan Wold bank, dengan nama-nama yang sungguh indah didengar: globalisasi, liberalisasi, privatisasi, bahkan civil society.

Kata-kata indah dari dunia mitologi itulah yang saat ini kita dapati, bahwa kita memang benar-benar terjerumus. Negara Indonesia tetap menyandang predikat negara tertinggal, dengan jurang ketimpangan menganga, kemiskinan merajalela, dan ribut terus soal SARA.

Takhayul-takhayul yang terus berkembang dan berulang itu, meminjam bahasa Geertz dalam kajian antropologi, disebut involusi alias mbulet gak karu-karuan. Menjerat siapa saja tanpa bisa keluar dari keruwetan yang itu-itu jua.

Keterjeratan itu nampak sekali dalam mengimani takhayul tadi. Globalisasi, liberalisme, dan tetek-bengeknya, yang di negara asal sendiri sudah mulai ditinggalkan, di negara kita sejauh ini tetap kita lanjutkan. Malah banyak intelektual Indonesia yang secara aktif masih kampanye globalisasi sebagai peluang. Padahal di Amerika Serikat, Trump bilang Amerika First dengan seluruh kebijakan yang sifatnya defensif sebab produk Cina membanjiri pasar AS di ranah ekonomi, dan banjirnya imigran dari Timur Tengah atau Amerika Latin di ranah sosial sehingga harus ada pengetatan dalam imigrasi.

Inggris juga begitu, sebagai salah satu pengusung Uni Eropa (sehari setelah keruntuhan Uni Sovyet), belum lama ini mencangakan Brexit alias keluar dari UE, dengan alasan demi menyelamatkan Inggris dari kemelut persoalan UE seperti yang melanda Yunani kemarin. Inggris lebih mendahulukan negaranya daripada persekutuannya.

Artinya, ada pasang naik nasionalisme di Barat, sebab globalisasi tak mendatangkan berkah bagi mereka. Lalu bagaimana Indonesia?

Neonasionalisme

Akibat himpitan sosial (kemiskinan dan kesengsaraan) itulah yang kemudian membuat sebagian orang mengais-ngais kembali warisan leluhur yang sempat dilupakan, yaitu nasionalisme, atau dalam bahasa Nahdliyin: hubbul wathon.

Ketika globalisasi sejauh ini memang menjerumuskan, dengan sendirinya bendera nasionalisme harus dikerek kembali. Nasionalisme yang sempat dianggap usang, kini dimandikan kembang tujuh rupa, lalu dirias kembali dalam bentuk yang berbeda.

Sejauh ini, nasionalisme memang baru soal melawan ideologi transnasional seperti khilafah. Sementara di ranah ekonomi politik, belum kita temui wujud kongkritnya. Nyatanya privatisasi tetap berlanjut. Monopoli pasar oleh segelintir pemodal juga tak tersentuh. Koperasi yang dicanangkan sebagai bentuk nasionalisme ekonomi (soko guru perekonomian nasional) juga masih jauh dari yang diharapkan.

Artinya, kebangkitan kembali nasionalisme akhir-akir ini masih perlu terus dilanjutkan (diradikalkan), agar menyentuh sendi-sendi kehidupan dan penghidupan, mewujudkan rasa aman dan kesejahteraan seluruh bangsa. Jika itu tak kita dorong, yakinlah bahwa nasionalisme hanya menjadi mitologi baru yang disimpan sebagai jimat, dan tetap terus disimpan sebagai jimat untuk disembah dan dipuja, tapi tak pernah diaplikasikan. Semoga bukan begitu.[]

 

Griya Hana, Jogja, 5 Juni 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.