Tiga Jimat Tangkal Terorisme Ala Pesantren

Pesantren – Kalau membandingkan wacana yang dikenyam warga Nahdliyin di pesantren dengan Islam garis keras, sebenarnya kitab-kitab yang dikaji warga Nahdliyin juga tak kalah kerasnya. Lihatlah Sulam Safinah dan Sulam Taufiq yang jadi acuan fiqih dasar para santri. Horam-haram, kopar-kapir, syirak-syirik, murtad-murted, adalah kata-kata yang sangat mudah ditemui. Selain itu, banyak juga beberapa teman santri yang langganan majalah-majalah garis keras seperti Sabili. Tapi mengapa sejauh ini belum juga muncul teroris dari kalangan pesantren Nahdliyin?

Ada tiga hal menurut saya, yang membuat para santri urung jadi teroris. Pertama soal materi, para santri tidak berhenti di fikih saja. Kedua, kultur pesantren. Dan ketiga adalah humor. Tulisan ini hendak mengupas secara ringkas atas ketiganya.

Islam Pesantren

Ilustrasi diambil dari http://www.islambuzz.com/gus-mus-sufi-iku-kudu-ngopi/

Pertama soal materi. Fikih yang keras-keras itu biasanya diajarkan waktu masih dasar. Untuk santri senior, akan ada materi tasawuf, seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Gozali, atau Hikam karya Ibn Athoillah. Sebenarnya, benih-benih tasawuf sudah diajarkan sejak dini juga, biasanya dalam materi akhlak, seperti Kitab Akhlaq Lil Banin, atau Washoya. Tentu saja ada materi lain seperti mantiq, tapi sengaja tidak dibahas di sini.

Seperti kita tahu, kitab-kitab tasawuf menekankan pendalaman bathin. Pendalaman bathin itu salah satunya adalah dengan muhasabah, sebagai bagian dari tashfiyah an-nafsah (penyucian jiwa). Muhasabah itulah yang membuat orang pertama-tama menilai diri sendiri daripada menilai orang lain.

Dari keseimbangan materi (antara fiqih dan tasawuf) itulah yang membuat para santri dituntut untuk tegas dalam menilai diri sendiri, tapi sangat hati-hati jika menilai orang lain. Misalnya ketika santri memergoki orang lain atau Kiyai-nya sendiri meminum minuman keras atau bergaul akrab dengan PSK, maka santri akan lebih mengutamakan kehati-hatian dalam menilainya. Mungkin saja sang Kiyai tadi bukan sedang minum khamr tapi membuangnya ke laut lewat mulutnya. Mungkin saja Kiyai hendak memberi siraman rohani dan mendorong PSK untuk keluar dari jeratan yang menyeret dirinya ke dunia pelacuran itu.

Banyak sekali cerita-cerita tentang hal tersebut di kalangan santri. Misalnya cerita tentang almarhum Gus Miek, seorang Kiyai, yang memang terkenal dalam menggeluti dunia abu-abu itu sebagaimana ditulis oleh Gus Dur dengan judul Gus Miek: Wajah Sebuah Kerinduan (Kompas, Minggu, 13-06-1993). Atau lagi, cerita Gus Mus yang dimuat di Kompas, dengan judul Gus Jakfar yang legendaris itu.

Ringkasnya, dengan tasawuf, pandangan keras seorang santri dilunakkan. Sehingga muncul anggapan bahwa jika ada orang yang berpandangan keras, menunjukkan bahwa orang itu hanya belajar Islam dari fikihnya saja. Untuk santri, jika ia hanya berhenti belajar fikih, tandanya ia memang belum dianggap tuntas dalam belajar Islam. Maka, kita bisa menilai bahwa Islam garis keras adalah mereka yang belum tuntas belajar Islam.

Kedua, adalah kultur pesantren itu sendiri. Gus Dur pernah menulis suatu hasil penelitian yang berjudul Pesantren Sebagai Subkultur. Dalam tulisan itu, Gus Dur menjelaskan bahwa pesantren adalah suatu subkultur dari masyarakat. Maksudnya pesantren memang bagian dari masyarakat, tapi punya budaya sendiri.

Salah satu bentuknya, di pesantren berlaku hirarki yang ketat antara kiyai-santri, dengan konsep barokah dan kuwalat sebagai pengikatnya. Tapi hal tersebut bukan berarti mematikan kreativitas santri. Hubungan kiyai-santri, akan tetap memberi ruang bagi perbedaan pendapat. Dan perbedaan itu bukan berarti kemudian memutus hubungan mereka. Hubungan kiyai-santri akan tetap terjalin meskipun santri sudah lama keluar dari pesantren. Hubungan inilah yang membuat santri kiyai akan menghasilkan suatu mekanisme kontrol yang terus berlanjut.

Kiyai, yang menurut Clifford Geertz dalam buku The Religion of Java dianggap sebagai cultural broker, tentu punya peran sentral dalam dunia pesantren. Karenanya, kiyai biasanya punya suatu kelebihan tersendiri, sehingga kharisma kiyai akan tetap terjaga. Maka, menjadi wajar jika kita temui jaringan antar kiyai, yang tentu saja akan saling sharing pengetahuan. Apalagi antar kiyai tersebut dulunya juga sama-sama santri.

Jaringan kiyai, seringkali dapat ditemui dalam forum Bahtsul Masail untuk menentukan suatu hukum atas masalah-masalah baru. Bahtsul Masail itu memang suatu forum yang terkadang dilaksanakan secara kultural lintas pesantren, kadang juga secara formal dalam jamiyah Nahdlatul Ulama. Tapi bagaimanapun, dalam kultur NU itulah yang membuat mereka tetap bersiteguh mempertahankan ke-NU-an dengan cara masing-masing. Jika garis yang ditetapkan NU adalah tasamuh, tawassuth, tawazun, dan ta’addul, maka hal tersebut tentu akan mereka terapkan di pesantren masing-masing.

Selain itu, kalau kita lihat kehidupan santri, maka akan ditemui sesuatu yang membuat orang berpandangan bahwa kehidupan mereka cukup santai meski dengan banyaknya beban pelajaran. Kita lihat saja bagaimana mereka setelah mengaji langsung nongkrong ngopi, rokok-rokokan, masak bareng, saling ejek saling gojlok, rebutan koran soal berita bola di minggu pagi, dan sebagainya. Hal tersebut akan menciptakan suatu mental yang bagus dalam pergaulan sosial. Sehingga, dari sini, celah-celah bagi tumbuhnya benih-benih terorisme secara tidak langsung akan tertutup.

Ketiga, humor. Saya merasa perlu memberi ruang khusus untuk humor, meski sebenarnya bisa saja dimasukkan dalam bagian kedua di atas, kultur pesantren. Pesantren memang punya humor yang sangat kaya. Tidak perlu dibeberkan panjang lebar untuk menunjukkan buktinya. Banyak sekali buku-buku humor yang ditulis dari alumni pesantren. Selain itu, lihat saja situs NU Online, yang bahkan menyediakan kolom khusus soal ini. Biasanya, humor-humor yang ada, selain mengundang gelak tawa, juga sarat dengan nilai-nilai luhur.

Humor, seperti kita ketahui, cukup mampu memberi kebahagiaan di tengah kenyataan yang keras. Kita tahu, bahwa kenyataan yang menghimpit itulah yang menjadi lahan subur bagi bibit-bibit terorisme. Dengan humor, terbesit suatu pandangan bahwa selalu ada celah untuk tersenyum dan tertawa, yang menjadikan orang sedikit memahami bahwa kenyataan itu tidak pahit-pahit amat.

Dunia yang tak kurang senyum dan tawa itulah yang akan membuat orang untuk berpikir ulang andai ia ingin jadi teroris.

Baca juga artikel tubanjogja.org

Bilik Pesantren Alqodir, Cangkringan – Blandongan Cafe – Taman Budaya Yogyakarta

1-3 Juni 2017

Tuban Jogja

Media publikasi pemikiran dan agenda kegiatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Ronggolawe Tuban (KPMRT) Yogyakarta.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Oktober 26, 2017

    […] Baca juga : Tiga Jimat Tangkal Terorisme […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.